Ajang Samsung Solve for Tomorrow kembali disiapkan sebagai ruang bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia untuk menunjukkan gagasan yang bisa menjawab persoalan nyata. Pada penyelenggaraan 2026, program ini membuka pendaftaran mulai 28 April hingga 29 Mei 2026 untuk peserta dari jenjang SMA, SMK, MA, serta mahasiswa aktif D3 sampai S1 di seluruh Indonesia.
Samsung tidak menempatkan program ini sebagai kompetisi ide semata. Ajang tersebut juga dirancang sebagai proses belajar yang mendorong peserta berpikir kritis, kreatif, dan mampu merumuskan solusi yang relevan dengan kebutuhan di masa depan.
Dua tema yang jadi tantangan utama
Pada edisi 2026, peserta diminta memilih satu dari dua tema besar yang berkaitan dengan isu global. Tema pertama adalah Environmental Sustainability via Technology, yang mengarah pada pencarian solusi teknologi untuk mendukung kelestarian lingkungan melalui konsep ekonomi sirkular.
Tema kedua, Social Change through Sport & Tech, menyoroti inovasi di bidang olahraga sebagai sarana mendorong perubahan sosial yang lebih inklusif. Fokusnya juga mencakup peluang yang lebih besar bagi perempuan dan penyandang disabilitas.
Kedua tema itu memberi ruang bagi peserta untuk menghubungkan teknologi dengan kebutuhan masyarakat. Samsung menegaskan bahwa gagasan yang lahir tidak cukup hanya baru, tetapi juga harus memberi dampak yang nyata dan lebih luas.
Proses belajar menjadi bagian penting
Samsung Solve for Tomorrow diposisikan lebih besar daripada lomba ide biasa. Selama program berlangsung, peserta akan melalui pendekatan Design Thinking, memanfaatkan teknologi AI, dan memperoleh mentoring dari para ahli.
Bagus Erlangga, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, menyebut program ini sebagai dorongan agar generasi muda berani menghadirkan solusi nyata lewat teknologi. Ia juga menekankan bahwa Samsung ingin membuka lebih banyak peluang bagi talenta muda Indonesia agar berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Pendekatan tersebut membuat peserta tidak hanya mengirimkan ide, tetapi juga belajar memahami masalah terlebih dahulu sebelum menyusun solusi. Karena itu, proses pembinaan mendapat porsi perhatian yang sama besar dengan hasil akhir.
Pengalaman peserta sebelumnya memberi gambaran
Program ini juga menawarkan sertifikasi, pelatihan intensif, dan pengalaman pitching ide di tingkat nasional. Rangkaian itu memberi peserta kesempatan untuk melatih presentasi, kerja tim, dan cara berpikir yang lebih sistematis.
Salah satu alumni, Kadek Nandana Tyo Nayotama dari Universitas Brawijaya, menilai SFT mendorong peserta memahami persoalan secara lebih mendalam sebelum menentukan solusi. Ia juga menyebut sesi seperti AI Amplification Workshop dan mentoring dari para expert memberi wawasan yang aplikatif.
Menurut Kadek, seluruh rangkaian kegiatan membantu peserta membangun kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, dan menyampaikan ide dengan lebih jelas. Pengalaman itu menunjukkan bahwa pembelajaran memang menjadi inti dari program ini.
Minat peserta dan jejak prestasi terus terlihat
Antusiasme terhadap Samsung Solve for Tomorrow disebut terus bertambah dari waktu ke waktu. Pada penyelenggaraan sebelumnya, program ini berhasil menjaring lebih dari 2.600 pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia.
Jejak program ini juga sudah terlihat hingga tingkat internasional. Salah satu tim dari Universitas Indonesia bahkan meraih pengakuan global sebagai Samsung Solve for Tomorrow Global Ambassador.
Perwakilan tim tersebut, Anthony Edbert Feriyanto dari Tim Labmino, menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam SFT mengubah cara pandang mereka terhadap potensi diri. Ia menilai perjalanan itu membuktikan bahwa ide yang lahir dari kepedulian bisa berkembang menjadi solusi yang berguna.
Dengan jadwal pendaftaran yang sudah ditetapkan, Samsung Solve for Tomorrow 2026 kembali membuka peluang bagi pelajar dan mahasiswa untuk menguji gagasan, mengasah kemampuan teknologi, serta merancang solusi yang berpotensi memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat. Program ini juga menegaskan bahwa inovasi muda dapat tumbuh dari proses belajar yang terarah, kolaboratif, dan dekat dengan persoalan yang benar-benar terjadi di sekitar.
Source: id.mashable.com




