Dorongan untuk menjadikan Jawa Tengah lebih ramah bagi wisata berkelanjutan dan ekonomi syariah pada 2027 tidak lagi berhenti pada tataran wacana. Di wilayah Kedungsepur, sejumlah daerah sudah mulai menata langkah masing-masing agar arah pembangunan provinsi itu bisa dijalankan secara serempak.
Kompaknya sikap para kepala daerah terlihat dalam Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah 2026 wilayah Kedungsepur yang digelar di Pendopo Kabupaten Grobogan. Forum itu menjadi ruang penyelarasan kebijakan antardaerah, sehingga pariwisata syariah dan ekonomi syariah tidak berdiri sendiri, melainkan masuk ke dalam agenda pembangunan yang lebih luas.
Demak, Semarang, dan Kendal lebih dulu menyiapkan langkah
Bupati Demak Eisti’anah menegaskan wilayahnya siap mendukung target provinsi untuk menghadirkan pariwisata berkelanjutan dan wisata ramah muslim. Di daerah itu, usaha pariwisata ramah muslim sudah ditetapkan di lima tempat dan target berikutnya adalah memperbanyak produk bersertifikasi halal.
Kabupaten Semarang juga bergerak dengan arah pengembangan wisata yang terhubung ke Borobudur, Solo, Kopeng, dan Rawapening. Untuk mendukung wisata ramah muslim, pemerintah daerah setempat telah menyiapkan empat rumah pemotongan hewan bersertifikat halal.
Dari Kendal, Bupati Dyah Kartika Permanasari menyatakan kesiapan untuk menyelaraskan kebijakan daerah dengan arah pembangunan Jawa Tengah pada 2027. Sejumlah program prioritas di kabupaten itu juga sudah disiapkan untuk menopang pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Salatiga arahkan pariwisata ke ekonomi kreatif
Salatiga menempatkan pariwisata sebagai salah satu fokus pembangunan, tetapi dengan penekanan yang berbeda. Sekretaris Daerah Kota Salatiga Muthoin menyebut tema pembangunan kota pada 2027 difokuskan pada pariwisata dan ekosistem ekonomi kreatif berbasis sumber daya manusia unggul.
Pemerintah Kota Salatiga juga menyiapkan lahan sekitar 17 ribu meter persegi untuk pembangunan exit Tol Taman Sari atau Patimura. Kawasan itu diharapkan menjadi titik tumbuh baru untuk pariwisata dan perdagangan.
Posisi Salatiga ikut diperkuat oleh identitas kotanya yang dikenal toleran. Kota ini kerap menerima tamu mancanegara yang datang untuk mempelajari kehidupan toleransi, sehingga pemerintah kota berkomitmen mengembangkan wajah kota, budaya, dan paket wisata daerah.
Grobogan dan provinsi dorong sinergi yang lebih luas
Sebagai tuan rumah rembug pembangunan, Grobogan ikut menegaskan kesiapan untuk mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah meski masih menghadapi sejumlah tantangan pembangunan daerah. Sikap itu menunjukkan bahwa seluruh daerah di Kedungsepur bergerak dengan tujuan yang sama, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan menekankan bahwa rembug pembangunan merupakan tindak lanjut dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan yang sudah digelar sebelumnya. Ia juga menyebut semua usulan kabupaten dan kota telah masuk melalui aplikasi perencanaan pembangunan.
Menurut Sumarno, dukungan pemerintah daerah di wilayah Kedungsepur penting untuk memperkuat arah pembangunan Jawa Tengah pada 2027. Ia berharap diskusi dan kolaborasi antardaerah bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk dari sektor pariwisata yang lebih ramah dan terintegrasi.
Source: timesindonesia.co.id