SAL dan Kas Negara Jadi Penopang, Purbaya Tahan BSF Hingga Situasi Benar-Benar Krisis

Pemerintah belum melihat perlunya menyalakan Bond Stabilization Fund (BSF) untuk saat ini. Fokus utama justru diarahkan pada upaya menahan gejolak harga obligasi dengan instrumen yang memang sudah tersedia dalam pengelolaan fiskal.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan BSF adalah dana darurat yang disiapkan untuk kondisi ekstrem. Selama situasi pasar belum berubah menjadi krisis, skema itu tidak akan dipakai.

Dalam pandangan Purbaya, kondisi ekonomi nasional masih berada dalam kendali. Ia menilai langkah yang diambil pemerintah sejauh ini masih berada dalam koridor pengelolaan biasa, sehingga aktivasi BSF belum menjadi kebutuhan.

SAL dan kas negara jadi tumpuan

Alih-alih membuka skema khusus, pemerintah memilih mengandalkan Saldo Anggaran Lebih atau SAL serta kas negara. Purbaya menyebut pengelolaan likuiditas akan dibuat lebih aktif agar fungsi perbendaharaan berjalan lebih rapi.

Ia menggambarkan pengelolaan itu seperti treasury di sektor swasta, dengan penekanan pada pengaturan arus kas yang lebih disiplin. “Yang kita pakai bisa SAL, bisa cash kita,” kata Purbaya.

Menurut dia, pendekatan tersebut diharapkan cukup untuk menjaga pergerakan obligasi tetap stabil di pasar. Strategi itu juga diarahkan untuk mendukung kestabilan rupiah dan pasar keuangan nasional.

Tekanan pasar dinilai belum darurat

Purbaya menilai pelemahan rupiah dan arus keluar dari pasar obligasi masih dalam batas yang bisa dikelola. Ia menyebut pelemahan rupiah sepanjang Januari hingga April sekitar Rp400, sementara outflow dari pasar obligasi sekitar Rp21 triliun.

Bagi pemerintah, angka itu belum menggambarkan situasi yang menuju krisis. Karena itu, respons yang dipilih adalah memaksimalkan perangkat yang sudah ada, bukan mengaktifkan dana stabilisasi khusus.

Purbaya juga menegaskan bahwa saat ini pemerintah belum perlu melibatkan Sarana Multi Infrastruktur atau SMI maupun Indonesia Investment Authority atau INA. Kebutuhan stabilisasi pasar dinilai masih bisa ditangani melalui instrumen yang tersedia di internal pemerintah.

“Belum kita aktifkan Bond Stabilization Fund. Tapi, stabilisasi harga bond dulu saja,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (11/5).

Sikap itu menunjukkan pemerintah masih menempatkan BSF sebagai pagar terakhir, bukan alat utama untuk meredam fluktuasi harian. Selama tekanan pasar belum berkembang menjadi gangguan yang lebih besar, pengelolaan kas dan SAL tetap menjadi andalan untuk menjaga stabilitas obligasi.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version