Penjelasan ilmiah atas kisah Nabi Musa membelah Laut Merah semakin menarik perhatian karena menempatkan angin sebagai faktor utama. Sejumlah kajian menilai peristiwa itu masih dapat dibaca lewat proses alam, terutama ketika kondisi cuaca dan geologi bekerja pada waktu yang tepat.
Dalam pembacaan tersebut, hembusan angin kencang dari arah tertentu disebut mampu mendorong air menjauh dan membuka jalur di laut dangkal. Saat dorongan itu berhenti, air dapat kembali dengan sangat cepat dan menutup jalur yang sempat terbuka.
Peran angin dalam membuka lintasan air
Pemodelan komputer menunjukkan bahwa angin sekitar 100 km/jam dapat memicu kondisi yang memungkinkan air laut terdorong ke satu sisi. Dari situ, dasar laut yang semula tertutup air bisa muncul untuk sementara dan menjadi lintasan penyeberangan.
Carl Drews, oseanografer dari National Center for Atmospheric Research, memandang penjelasan itu sebagai perpaduan antara alam dan ketepatan waktu. Ia menilai mekanisme alam dapat membantu menerangkan kisah tersebut tanpa harus menyingkirkan unsur iman.
Lokasi yang paling sering dibahas
Salah satu lokasi yang kerap disebut adalah Teluk Aqaba, bagian Laut Merah yang lebar dan dalam. Perairan itu memiliki lebar hingga 25 kilometer, kedalaman rata-rata 900 meter, dan titik terdalam hampir 1.850 meter.
Namun, kajian arkeologi modern lebih sering mengarah ke Teluk Suez bila yang dimaksud adalah bagian dari Laut Merah modern. Teluk yang panjang dan sempit itu memisahkan Mesir bagian barat dan Semenanjung Sinai di timur, dengan kedalaman rata-rata hanya 20-30 meter dan dasar yang relatif datar.
Kondisi teluk yang dangkal membuat penyeberangan lebih masuk akal secara fisik. Pada wilayah seperti itu, dorongan air akibat angin dapat menyingkap dasar laut yang semula tertutup.
Bagaimana jalur kering bisa terbentuk
Profesor Nathan Paldor dari Hebrew University of Jerusalem menjelaskan bahwa angin kuat yang bertiup ke selatan dari kepala teluk selama sekitar sehari dapat mendorong air ke laut. Akibatnya, dasar laut terbuka dan jalur penyeberangan muncul.
Perhitungannya menunjukkan angin 65-70 km/jam dari barat laut dapat membuka jalur bagi bangsa Israel. Jika berlangsung semalaman, air bisa surut hingga 1,6 kilometer dan menurunkan permukaan laut sekitar 3 meter.
Dalam kondisi itu, orang disebut masih bisa menyeberang di punggungan bawah laut. Setelahnya, air dapat kembali dengan cepat dan menciptakan dampak seperti gelombang besar.
Pasang surut dan peristiwa yang menyusul
Dr. Bruce Parker, mantan kepala ilmuwan di National Oceanic and Atmospheric Administration, juga menilai pasang surut sebagai penjelasan yang mungkin. Dalam tulisannya di Wall Street Journal, ia menyebut Musa mungkin mengenal lokasi penyeberangan saat air surut dan memahami pola pasang berdasarkan posisi bulan serta fase purnama.
Parker menambahkan bahwa pasukan Firaun, yang terbiasa dengan Sungai Nil yang tidak berpasang surut, bisa jadi tidak memahami bahaya itu. Situasi tersebut membuat mereka terjebak ketika air pasang kembali dengan cepat.
Kisah dalam Alkitab menggambarkan Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir setelah tujuh tulah lalu bergerak menuju padang gurun. Mereka kemudian terhimpit di antara pasukan Firaun yang mengejar dan hamparan laut yang luas.
Setelah menunggu semalam, Musa dikisahkan mengulurkan tangannya hingga laut terbelah. Jalur kering pun terbentuk dengan dinding air di kedua sisi, sebelum pasukan Firaun tersapu saat air kembali.
Jejak sejarah yang kerap dipakai sebagai pembanding juga pernah muncul pada 1789. Napoleon Bonaparte disebut memimpin pasukan berkuda menyeberangi bagian Teluk Suez saat air surut, sebelum prajuritnya hampir tersapu ketika pasang setinggi 3 meter kembali memenuhi jalur itu.
Bagi Drews, pembacaan ilmiah semacam ini tidak meniadakan keyakinan. Ia menegaskan bahwa sains dan iman dapat berjalan beriringan saat membaca kisah lama tersebut, sementara kajian atas aspek alamiah tetap penting untuk memahami bagaimana peristiwa besar itu mungkin terjadi.
Source: www.cnbcindonesia.com




