Pada 2026, sorotan teknologi tidak selalu jatuh ke produk yang paling berguna. Justru ada sejumlah perangkat yang tampak sangat maju di iklan, tetapi nilai pakainya dipertanyakan saat masuk ke rutinitas harian.
Pola yang sama terlihat berulang: desain unik, chip kencang, dan fitur futuristis sering kali lebih kuat di materi promosi daripada di meja kerja, ruang keluarga, atau tas pengguna. Di balik kesan canggih itu, banyak perangkat malah lebih sering tersimpan daripada benar-benar dipakai.
Ketika performa tinggi tidak bertahan lama
Salah satu contoh paling jelas datang dari laptop gaming tipis yang dipasangi chip Intel Core Ultra HX kelas desktop. Lenovo dan ASUS ikut mendorong tren ini lewat perangkat seperti Legion 7i yang dipasarkan sebagai mesin performa puncak dalam bodi ramping.
Masalahnya, sasis yang tipis membuat pendinginan sulit mengejar panas dari komponen kelas atas tersebut. Saat dipakai untuk bermain game dalam waktu lama, perangkat seperti ini kerap mengalami thermal throttling.
Akibatnya, performa tinggi yang terlihat meyakinkan di atas kertas tidak selalu konsisten saat beban kerja meningkat. Keluhan lain juga muncul pada daya tahan baterai yang disebut bisa turun di bawah dua jam untuk tugas dasar.
Perangkat yang masih mencari alasan untuk dipakai
Di kategori lain, Apple memperbarui Vision Pro dengan chip M5 dan Dual Knit Band baru pada akhir 2025. Penyegaran itu menambah sisi pemrosesan dan kenyamanan, tetapi tidak otomatis menjawab pertanyaan yang paling penting: untuk apa perangkat ini dipakai setiap hari?
Sebagai perangkat keras, Vision Pro tetap dianggap impresif. Namun banyak pengamat menilai manfaatnya masih harus bersaing dengan setup multi-monitor tradisional atau televisi biasa yang sudah umum digunakan.
Itulah sebabnya banderolnya tetap terasa sulit dibenarkan bagi mayoritas konsumen. Setelah efek awal spatial computing memudar, perangkat seperti ini lebih sering dipandang sebagai produk niche yang berakhir tersimpan ketimbang digunakan rutin.
Robot pendamping yang tertarik ke sisi emosional
Tren physical AI juga ikut mengangkat robot pendamping beroda yang mampu berbicara. Di banyak pameran teknologi, perangkat ini dipromosikan sebagai asisten rumah, pengelola aktivitas, sampai teman emosional.
Namun fungsi intinya dinilai tidak jauh berbeda dari chatbot di ponsel atau speaker pintar. Di sisi lain, keterbatasan fisik tetap nyata, mulai dari mudah tersangkut di karpet, kesulitan menghadapi tangga, sampai harus sering diisi daya.
Setelah rasa penasaran awal hilang, robot seperti ini justru lebih sering menjadi benda tambahan di rumah. Dengan harga yang disebut setara PC gaming kelas atas atau bahkan biaya liburan, nilai gunanya terlihat semakin lemah.
Kritik yang mirip juga muncul pada perangkat desktop pendamping AI dari Lepro, AMI. Layar meja ini menampilkan “holographic AI soulmate” dan dipasarkan sebagai lompatan dalam emotional computing.
Perangkat tersebut diklaim bisa mempelajari suasana hati pengguna dan menemani keseharian mereka. Tetapi setelah minggu pertama, figur holografik yang terus aktif di meja kerja justru dianggap lebih mengganggu daripada membantu.
Fitur haptic yang tidak selalu nyaman dipakai
Di sisi aksesori, casing ponsel dengan haptic feedback juga ikut masuk daftar perangkat yang dinilai terlalu dibesar-besarkan. Razer Sensa HD Gaming Shell dan Aulumu A17 Cyber-Haptic Series menjanjikan sensasi tekstur film atau recoil game lewat getaran mikro di bagian belakang perangkat.
Gagasannya memang terdengar menarik untuk hiburan mobile. Namun dalam praktik, sensasi yang muncul sering terasa seperti ponsel terus bergetar atau mengalami gangguan, bukan pengalaman yang lebih mendalam.
Casing seperti ini juga menambah bobot dan ketebalan pada ponsel yang awalnya dibuat tipis. Fitur tambahannya pun disebut mempercepat pengurasan baterai, bahkan saat dibandingkan dengan beban seperti streaming video 4K.
Banyak pengguna akhirnya mematikan fitur tersebut dalam waktu singkat. Dari situ terlihat bahwa tidak semua inovasi yang tampak futuristis benar-benar membuat pemakaian harian terasa lebih baik.
Source: tech.sportskeeda.com