Pelemahan rupiah kembali memperlihatkan jurang dampak yang lebar antara mereka yang memegang dolar AS dan mayoritas masyarakat yang tidak punya bantalan valuta asing. Saat sebagian kecil orang bisa menahan dolar ketika kurs bergerak menguntungkan, banyak keluarga dan pelaku usaha justru harus menghadapi biaya hidup dan biaya operasional yang makin berat.
Gambaran itu terlihat dari sikap sebagian orang yang memilih menunggu waktu tepat untuk menukarkan dolar ke rupiah. Fonda, pelaut asal Lampung, menjadi salah satu contoh yang merasakan manfaat dari pergerakan kurs saat ia ditemui di VIP Money Changer Menteng, Jakarta.
Setelah kembali dari perjalanan ke Florida, San Francisco, Taiwan, hingga Jakarta, Fonda memilih menyimpan dolar AS dalam bentuk tunai. Ia menilai kondisi kurs saat ini memberi keuntungan, sehingga dolar yang dimiliki belum langsung dilepas semua.
Meski ada peluang keuntungan bagi pemegang dolar, manfaat itu tidak tersebar luas. Fonda sendiri melihat pelemahan rupiah lebih sering menjadi sumber tekanan bagi banyak orang, bukan kabar baik bagi mayoritas.
Beban paling cepat dirasakan rumah tangga dan usaha
Dampak paling nyata dari rupiah yang melemah muncul pada kelompok yang bergantung pada barang impor. Ketika nilai tukar turun, harga barang impor ikut terdorong naik dan membuat pengeluaran masyarakat membengkak.
Pelaku usaha juga menghadapi masalah yang sama. Biaya bahan baku, logistik, dan kewajiban pembayaran dalam valuta asing ikut tertekan naik, sehingga ruang gerak bisnis menjadi lebih sempit.
Kondisi ini membuat pelemahan rupiah terasa timpang. Mereka yang punya pendapatan dolar bisa memperoleh keuntungan, sementara keluarga tanpa eksposur valuta asing harus menyesuaikan belanja di tengah harga yang lebih mahal.
Tekanan datang dari luar dan dari dalam negeri
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri karena tekanan juga datang dari luar negeri. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia naik lebih dari 40% sejak akhir Februari 2026 dan ikut memperkuat dolar AS.
Dari Amerika Serikat, tekanan lain muncul lewat kebijakan moneter yang lebih ketat. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik mendekati 4,5% dari sekitar 4% sebelumnya, sementara indeks dolar AS juga menguat.
Di sisi domestik, kebutuhan dolar AS turut meningkat. Permintaan valuta asing naik seiring musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan dolar untuk musim haji.
BI tetap yakin stabilitas bisa dijaga
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia masih menilai rupiah punya ruang untuk stabil dan menguat. Penilaian itu bertumpu pada fundamental ekonomi Indonesia yang dianggap masih solid.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terjaga, pengelolaan utang luar negeri yang prudent, dan prospek ekonomi yang positif sebagai penopang utama. Ia menegaskan, “Jadi tidak ada alasan untuk rupiah tidak menguat, tidak stabil.”
Bank sentral juga menyatakan akan terus hadir di pasar domestik maupun global untuk menjaga stabilitas nilai tukar. BI turut bersinergi dengan kementerian dan lembaga terkait agar tekanan terhadap rupiah tidak berlarut.
Rupiah sempat tertekan lalu bergerak pulih tipis
Di pasar, rupiah sempat melemah hingga berada di level Rp 17.500 per dolar AS. Namun pada penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026), mata uang itu berbalik menguat tipis.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,30% atau 53 poin menjadi Rp 17.475 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan rupiah masih berada dalam tarik-menarik antara tekanan eksternal, kebutuhan dolar di dalam negeri, dan upaya stabilisasi dari otoritas moneter.
Bagi masyarakat yang tidak memiliki pendapatan dalam dolar AS, setiap gejolak kurs tetap lebih mudah terasa sebagai beban. Efeknya langsung menyentuh harga kebutuhan, biaya usaha, dan daya beli rumah tangga.
Source: www.beritasatu.com