Panggung mode di Seoul menampilkan pemandangan yang jarang dibayangkan sebelumnya: robot humanoid berjalan sejajar dengan model manusia, lengkap dengan busana yang sengaja dipasangkan agar terlihat selaras. Di momen itu, fashion tidak lagi hanya berbicara soal tubuh manusia, tetapi juga mulai menguji bagaimana mesin bisa punya identitas visual sendiri.
Peragaan tersebut digelar Galaxy Corporation dan langsung menarik perhatian karena menggeser cara pandang terhadap robot. Selama ini robot lebih sering dikaitkan dengan produktivitas dan otomasi, tetapi di catwalk mereka justru diposisikan sebagai bagian dari ruang kultural yang menuntut ekspresi, gaya, dan simbol.
Busana untuk tubuh mekanis
Salah satu gagasan paling menonjol dari pertunjukan itu adalah anggapan bahwa robot juga membutuhkan pakaian. Galaxy Corporation membangun koleksi ini dari pertanyaan apakah robot, jika kelak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, juga perlu memiliki mode mereka sendiri.
Chief executive Galaxy Corporation, Choi Yong-ho, mengatakan perusahaan meyakini robot, seperti manusia, perlu memiliki identitas dan kepribadian. Dari sudut pandang itu, busana bukan sekadar pelengkap, melainkan penanda yang membedakan satu entitas dari yang lain.
Pakaian yang dipamerkan tidak dibuat sebagai versi kecil dari busana manusia. Galaxy Corporation menyebut koleksi itu dirancang khusus untuk rangka robot yang bersifat skeletal, sehingga bentuknya disesuaikan dengan proporsi mekanis.
Koordinasi visual antara manusia dan mesin
Di atas catwalk, robot tidak ditempatkan sebagai properti latar. Mereka berjalan berdampingan dengan model manusia dalam gerak yang diselaraskan, sambil mengenakan busana berpasangan untuk menegaskan gagasan koeksistensi antara tubuh biologis dan tubuh mekanis.
Salah satu robot tampil dengan busana bergaya koboi berwarna biru lengkap dengan topi. Model manusia yang mendampinginya mengenakan setelan senada, sehingga konsep koordinasi visual itu mudah terbaca dari kejauhan.
Tampilan lain menghadirkan jaket perak mengilap, gaun longgar, dan celana futuristis berukuran besar. Siluet dramatis dengan nuansa era antariksa membuat pertunjukan itu terasa seperti eksperimen mode yang diarahkan ke masa depan.
Robot sebagai bagian dari budaya publik
Kehadiran robot di panggung mode juga menandai arah baru yang ingin dibangun Galaxy Corporation. Perusahaan itu membayangkan masa depan ketika manusia dan robot hidup berdampingan bukan hanya di tempat kerja, tetapi juga dalam rutinitas sosial sehari-hari.
Menurut perusahaan, mode di masa depan bahkan bisa bergerak dua arah. Manusia dapat mengambil inspirasi dari gaya yang dikenakan robot, sementara robot juga bisa mengadopsi gaya yang semula dirancang untuk manusia.
Robot yang tampil di catwalk disebut sebagai humanoid buatan perusahaan robotika China, Unitree. Meski gerak mereka masih bergantung pada program yang sudah ditentukan, penampilan di panggung tetap terlihat meyakinkan karena disusun dalam koreografi yang tersinkronisasi.
Video dari acara itu memperlihatkan robot ikut bergerak bersama para model dengan waktu yang diatur presisi. Mereka tidak sekadar berdiri untuk kebutuhan visual, tetapi menjadi bagian aktif dari pertunjukan.
Dari hiburan ke rencana komersial
Eksperimen di Seoul ini tidak berdiri sendiri. Galaxy Corporation sebelumnya membuka Galaxy Robot Park di Seoul, yang mereka sebut sebagai taman hiburan robot pertama di dunia.
Di tempat itu, pengunjung dapat menonton pertunjukan robot, berinteraksi dengan anjing robot, dan mengikuti pertandingan tinju robot. Langkah tersebut menunjukkan bahwa robot semakin diposisikan sebagai objek hiburan dan pengalaman sosial, bukan hanya alat kerja.
Perusahaan itu juga berharap meluncurkan koleksi yang ditampilkan di panggung tersebut pada akhir tahun ini melalui merek MACH33. Rencana itu membuat pertunjukan catwalk ini terlihat sebagai langkah awal menuju produk dengan identitas komersial sendiri.
Korea Selatan sendiri makin sering menjadi panggung bagi robot humanoid di ruang publik. Awal bulan ini, robot humanoid bernama Gabi ikut dalam upacara penahbisan Buddhis di Seoul dan menyapa pengunjung selama seremoni.
Rangkaian kemunculan itu memperlihatkan pola yang semakin jelas. Robot bergerak dari fungsi teknis menuju peran simbolik dan kultural, lalu masuk ke wilayah identitas, ekspresi, dan gaya hidup.
Source: www.indiatoday.in




