Saat Nyeri Dada Disangka Ringan, Internet Justru Bisa Memperburuk Keterlambatan Penanganan

Serangan jantung sering datang tanpa tanda yang terasa “jelas” bagi orang awam. Karena itu, nyeri dada yang sekilas tampak seperti keluhan biasa tetap perlu dianggap serius, terutama saat informasi dari internet membuat seseorang merasa sudah menemukan jawaban sendiri.

Masalahnya, gejala serangan jantung tidak selalu muncul dalam bentuk nyeri dada yang khas. Keluhannya bisa menyerupai masuk angin, asam lambung, kelelahan, atau anxiety, sehingga mudah disalahartikan dan membuat orang menunda pemeriksaan medis.

Gejala yang kerap menipu

Hospital Director Siloam Hospitals Lippo Cikarang, dr. Sandra Adityavarna, mengingatkan bahwa pasien dengan nyeri dada perlu ditangani cepat. Ia menegaskan kerusakan otot jantung dapat terjadi hanya dalam 20 hingga 30 menit.

“Setiap detik sangat berharga saat terjadi gejala nyeri dada,” ujar dr. Sandra saat peluncuran layanan Chest Pain Ready Hospital di Siloam Hospitals Lippo Cikarang, Rabu (20/5/2026). Menurutnya, banyak masyarakat belum memahami nyeri dada sebagai tanda awal serangan jantung.

Karena itu, ia menilai pengenalan gejala sejak awal sangat penting agar penyakit jantung bisa dideteksi lebih dini. Langkah cepat juga meningkatkan peluang penyelamatan nyawa, sementara penundaan justru membuat risiko meningkat.

Internet sering memberi rasa yakin yang keliru

Pencarian gejala di media sosial, mesin pencari, atau chatbot memang terasa praktis. Namun, hasil yang tampak meyakinkan belum tentu sesuai dengan kondisi medis yang sebenarnya.

Nyeri dada akibat serangan jantung bisa muncul sebagai rasa tertekan, penuh, atau tidak nyaman di dada. Keluhan ini juga dapat datang dan pergi, sehingga tidak selalu terasa seperti nyeri tajam yang mudah dikenali.

American Heart Association menjelaskan bahwa gambaran serangan jantung tidak selalu sesuai dengan bayangan umum masyarakat. Karena tampak mirip dengan keluhan ringan, banyak orang langsung mengira masalahnya hanya asam lambung atau kelelahan.

Kebiasaan pengobatan mandiri ikut memperbesar risiko salah membaca gejala. Sejumlah orang memilih minum obat maag, kerokan, atau beristirahat di rumah lebih dulu sebelum menuju fasilitas kesehatan.

Tidak hanya soal nyeri dada

World Health Organization menyebut penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Pada 2022, sekitar 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit ini, dan 85 persen di antaranya terkait serangan jantung serta stroke.

WHO juga menekankan bahwa banyak kasus serangan jantung tidak menunjukkan gejala yang jelas sebelumnya. Dalam sejumlah kondisi, serangan jantung bahkan menjadi peringatan pertama dari penyakit pembuluh darah yang sebelumnya tidak disadari pasien.

Centers for Disease Control and Prevention atau CDC Amerika Serikat menjelaskan bahwa serangan jantung dapat disertai sesak napas, mual, keringat dingin, nyeri rahang, nyeri punggung, hingga rasa lemas mendadak. Pada perempuan, gejalanya sering lebih samar dan lebih mudah disangka gangguan pencernaan atau sekadar kelelahan.

Di ruang diskusi publik seperti Reddit, sejumlah pengguna juga pernah membagikan pengalaman bahwa gejala serangan jantung kerap diabaikan karena tidak sesuai gambaran klasik. Pola yang sering muncul adalah perempuan cenderung mengecilkan keluhan seperti nyeri rahang, mual, dan sesak napas.

Waktu menjadi penentu penanganan

Dalam penanganan serangan jantung dikenal istilah “Time is muscle”. Artinya, semakin lama aliran darah ke jantung terhambat, semakin besar kerusakan permanen pada otot jantung.

Keterlambatan juga punya dampak yang terukur. Setiap penanganan yang tertunda selama 30 menit dapat meningkatkan risiko kematian sekitar 7 hingga 10 persen.

Karena itu, layanan Chest Pain Ready Hospital yang diluncurkan Siloam Hospitals Lippo Cikarang menekankan respons cepat dan terintegrasi. Sistemnya mencakup pemeriksaan EKG dalam 10 menit, kesiapan tim medis 24 jam, dan fasilitas Cath Lab yang siap digunakan tanpa penundaan.

Executive Director, Yooseplin, menyampaikan harapan agar masyarakat semakin percaya menjadikan layanan kesehatan sebagai pilihan utama saat mengalami kondisi darurat. Pesan itu sejalan dengan peringatan para dokter bahwa nyeri dada tidak layak ditangani hanya dengan asumsi dari hasil pencarian internet.

Saat gejala muncul, pemeriksaan langsung tetap menjadi langkah paling aman untuk memastikan apakah keluhan tersebut terkait jantung atau bukan. Dalam kasus nyeri dada, keputusan tercepat sering kali menjadi faktor yang paling menentukan.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button