Lamanya seseorang berada di kamar mandi tidak otomatis menjadi tanda kesepian atau gangguan kesehatan mental. Dalam banyak situasi, kebiasaan itu justru muncul karena air hangat memberi rasa nyaman dan membantu tubuh mengambil jeda dari padatnya rangsangan harian.
Bagi sebagian orang, mandi menjadi momen singkat untuk menenangkan diri. Konselor berlisensi Emma Kobil dari Mindful Counselling menjelaskan kepada Huff Post bahwa sensasi air hangat dapat terasa menenangkan dan bekerja seperti istirahat sebentar dari tekanan sensorik yang terus-menerus.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya durasinya, melainkan apa yang terjadi setelah mandi selesai. Jika seseorang sulit beralih ke aktivitas berikutnya, bahkan untuk mengambil handuk atau mengenakan pakaian, hal itu bisa menjadi sinyal bahwa transisi dari satu kegiatan ke kegiatan lain mulai terganggu.
Saat mandi berubah jadi tempat bertahan
Dr. Mosun, konsultan psikiater di Cassiobury Court, menyebut lama berada di kamar mandi dapat menjadi petunjuk halus dari persoalan yang lebih dalam. Pada sebagian orang dengan depresi, bahkan memikirkan mandi saja sudah terasa melelahkan, lalu mereka cenderung bertahan lebih lama setelah berhasil masuk ke kamar mandi.
Pola serupa juga dapat muncul ketika seseorang sedang mengalami stres berat, kewalahan, atau membawa trauma yang belum diproses dalam waktu lama. Dalam kondisi seperti itu, kamar mandi bisa berubah menjadi ruang jeda yang terasa lebih aman daripada kembali ke rutinitas harian.
Kobil menjelaskan bahwa tubuh dapat masuk ke kondisi vagal dorsal saat menghadapi tekanan berat. Respons ini membuat tubuh seperti membeku atau masuk mode shutdown, sehingga energi untuk keluar dari kamar mandi dan melanjutkan aktivitas terasa jauh lebih besar.
Tidak selalu soal kesepian
Ada juga temuan yang mengaitkan mandi lama dengan rasa terisolasi. Peneliti Universitas Yale menemukan bahwa orang yang mandi air panas dalam waktu lama mungkin melakukannya tanpa sadar untuk meredakan rasa kesepian.
Psikolog John Bargh, PhD, yang terlibat dalam penelitian itu, menyebut pola yang menarik: semakin kesepian seseorang, semakin sering ia mandi, semakin panas airnya, dan semakin lama ia berada di bawah air. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa air panas dari bak mandi atau pancuran dapat berfungsi seperti pengganti kehadiran teman dan membantu mengurangi rasa terasing.
Meski begitu, kebiasaan mandi lama tidak bisa langsung dibaca sebagai tanda bahwa seseorang tidak bahagia. Durasi mandi tetap harus dilihat bersama kondisi hidup dan perilaku harian lain yang menyertainya.
Tanda yang perlu diperhatikan
Kekhawatiran biasanya muncul ketika mandi lama berjalan bersama perubahan rutinitas lain. Dr. Mosun menyebut tanda tambahan seperti menghindari tanggung jawab, mengabaikan perawatan diri, sulit bangun dari tempat tidur, tetap merasa lelah meski sudah tidur nyenyak, atau mulai menjauh dari orang terdekat.
Kobil juga menyoroti beberapa pola lain yang patut dicermati. Itu termasuk merasa mati rasa secara emosional atau tidak fokus saat mandi, sulit memotivasi diri untuk keluar dari kamar mandi, memakai kamar mandi sebagai pelarian utama, sering menangis saat mandi tetapi tidak merasa lebih lega, serta menghindari perawatan diri atau koneksi sosial lainnya.
Pola-pola tersebut penting karena menunjukkan bahwa persoalannya sudah melampaui kebiasaan pribadi. Saat mandi mulai memutus hubungan sosial, mengganggu rutinitas, atau muncul bersama gejala emosional yang makin jelas, kebiasaan itu layak dilihat lebih serius.
Pada akhirnya, mandi lama masih bisa wajar selama tidak mengganggu fungsi harian. Yang menjadi perhatian utama adalah apakah kebiasaan itu mulai membuat seseorang sulit kembali ke aktivitas normal, kehilangan energi untuk merawat diri, atau semakin menjauh dari orang lain.
Source: www.beautynesia.id




