Keputusan Piyawutt atau Es untuk meninggalkan aktivitas musik sementara dan menjalani kehidupan sebagai biksu Buddhis membuat nama Whispers kembali ramai dibicarakan. Bukan karena kabar konflik atau perubahan arah musik, melainkan karena langkah itu datang saat band hardcore asal Thailand tersebut masih aktif bergerak di panggung internasional.
Di Thailand, pilihan seperti ini justru punya tempat yang wajar dalam kehidupan sosial dan spiritual. Hidup monastik sementara sudah lama dikenal sebagai praktik yang umum bagi laki-laki dewasa, sehingga keputusan Es lebih dipahami sebagai bagian dari perjalanan pribadi daripada sinyal masalah di dalam band.
Whispers sendiri bukan nama baru di skena hardcore Asia. Band yang berasal dari Bangkok itu sudah aktif sejak 2014 dan dikenal lewat musik metallic hardcore yang mereka sebut sebagai “Bangkok Evilcore”.
Identitas tersebut membuat Whispers menonjol di antara band-band hardcore lain di kawasan ini. Di luar Thailand, nama mereka juga makin dikenal karena telah tampil di berbagai panggung internasional, termasuk tur ke Eropa dan Amerika Serikat.
Sorotan terhadap Whispers ikut membesar setelah mereka sempat muncul dalam program Audiotree Live di Chicago. Ketika kabar vakumnya Es menyebar lewat media sosial resmi band, respons dari para penggemar langsung mengalir cepat.
Banyak pendengar memandang keputusan itu sebagai sesuatu yang tidak perlu dibaca sebagai tanda perpecahan. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai langkah hidup yang selaras dengan tradisi Thailand, terutama karena hidup sebagai biksu sementara memang lazim dijalani dalam rentang waktu yang beragam.
Makna di balik pilihan sementara
Dalam budaya Thailand, masa monastik sementara sering dikaitkan dengan pendalaman spiritual, penghormatan kepada keluarga, dan ruang untuk refleksi pribadi. Durasi yang dijalani juga tidak sama, karena ada yang hanya beberapa minggu dan ada pula yang sampai beberapa bulan.
Konteks itu membuat keputusan Es lebih mudah dipahami oleh publik yang mengikuti Whispers. Bagi sebagian penggemar, langkah tersebut justru dianggap sebagai bentuk lain dari semangat hardcore karena menunjukkan pilihan yang tegas, personal, dan penuh karakter.
Meski Es vakum, aktivitas band tidak ikut berhenti. Untuk sementara, posisi drummer diisi oleh Pex dari band hardcore Thailand lain, For Decision.
Dengan formasi sementara itu, Whispers diperkirakan tetap melanjutkan agenda musik mereka sambil menunggu Es menyelesaikan masa monastiknya. Situasi tersebut membuat band tetap berjalan di panggung, sementara sang drummer menjalani fase spiritual yang memang memiliki tempat kuat dalam tradisi Thailand.
Source: mediaindonesia.com




