Rupiah Melemah dan Minyak Dunia Mahal, Bahlil Kumpulkan Menteri Bahas BBM

Tekanan terhadap anggaran energi kembali menguat ketika rupiah sempat berada di level Rp17.540 per dolar AS. Di saat yang sama, harga minyak dunia masih bertahan tinggi, membuat pemerintah harus menghitung ulang ruang gerak untuk menjaga stabilitas BBM di dalam negeri.

Situasi itu mendorong Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menggelar rapat darurat bersama jajaran menteri terkait. Pembahasan utama rapat tersebut berkaitan dengan dampak pelemahan rupiah terhadap biaya impor energi, beban subsidi, dan kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar.

Ruang fiskal makin sempit

Kombinasi rupiah yang melemah dan minyak mentah internasional yang belum turun memberi tekanan berlapis pada APBN. Biaya energi yang dibayar dengan dolar AS otomatis menjadi lebih mahal ketika kurs tertekan.

Kondisi itu juga membuat kebutuhan subsidi berpotensi meningkat. Pemerintah pun harus lebih hati-hati agar gejolak pasar tidak langsung berubah menjadi lonjakan beban fiskal.

Di tingkat harga global, Brent tercatat di USD 106,95 per barel dan WTI di USD 101,52 per barel. Angka itu masih jauh di atas asumsi makro APBN 2026 yang memasang harga minyak di USD 70 per barel.

Pembahasan lintas kementerian masih berlangsung

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman membenarkan bahwa pembahasan lintas kementerian sedang berjalan. Menurut dia, rapat tersebut digelar untuk memitigasi dampak pelemahan rupiah terhadap sektor energi dan anggaran subsidi.

Laode menyebut pembicaraan masih berlangsung di level menteri. Ia meminta publik menunggu hasil pembahasan sebelum pemerintah mengambil langkah berikutnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa pemerintah belum ingin tergesa-gesa. Di tengah tekanan pasar yang belum mereda, keputusan soal energi memang masih dipantau dengan cermat.

Rupiah sempat menyentuh titik terendah

Sorotan pemerintah tertuju pada pergerakan rupiah yang sempat turun ke Rp17.540 per dolar AS. Level tersebut menjadi salah satu titik terendah dan memicu kekhawatiran baru di sektor energi.

Pada Rabu pagi, rupiah bergerak tipis ke Rp17.493 per dolar AS. Meski ada perbaikan kecil, posisinya masih menunjukkan tekanan kuat bagi biaya impor energi dan kebutuhan subsidi.

Dalam situasi seperti ini, harga keekonomian energi ikut terdorong naik. Karena itu, pemerintah perlu menimbang dampak kurs dengan lebih hati-hati sebelum menentukan langkah lanjutan.

Harga BBM belum berubah

Hingga kini, pemerintah belum mengambil keputusan soal penyesuaian harga BBM. Laode menegaskan bahwa perkembangan kurs rupiah dan harga minyak dunia masih terus dipantau.

“itu masih kan belum ada info-info lain lagi kan, selain yang ada sekarang (harga BBM tidak naik), jadi kita lihat perkembangan berikutnya saja nanti,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah masih menahan keputusan. Namun, rapat darurat yang dipimpin Bahlil memperlihatkan bahwa tekanan eksternal ini dipandang serius karena bisa berdampak langsung pada anggaran energi dan masyarakat.

Source: www.suara.com
Exit mobile version