Bagi Air India, tekanan terbesar saat ini tidak datang dari satu sisi saja, melainkan dari gabungan masalah yang saling memperkuat. Maskapai itu harus menanggung kerugian besar, biaya operasional yang makin berat, serta sorotan publik yang belum reda setelah tragedi AI-171.
Di saat yang sama, perhatian pasar juga tertuju pada hasil akhir investigasi kecelakaan tersebut. Otoritas Investigasi Kecelakaan Pesawat India atau Aircraft Accident Investigation Bureau diperkirakan merilis laporan akhir dalam waktu kurang dari satu bulan, dan hasilnya dinilai akan ikut memengaruhi arah tekanan terhadap maskapai.
Beban keuangan Air India kini menjadi salah satu yang paling mencolok di bawah Tata Group. Laporan media lokal menyebut kerugian untuk tahun yang berakhir Maret 2026 mencapai sekitar US$ 2,4 miliar atau sekitar Rp 39 triliun, angka yang menunjukkan betapa beratnya proses pembenahan setelah privatisasi.
Kerugian itu juga memperlihatkan bahwa target transformasi yang dijanjikan sejak pengambilalihan dari pemerintah pada 2022 belum sepenuhnya terlihat dalam kinerja harian. Mantan eksekutif industri Jitendra Bhargava menilai Air India memerlukan arah yang lebih tegas untuk keluar dari tekanan yang menumpuk saat ini.
Bhargava mengatakan rencana lima tahun pascaprivatisasi belum berjalan mulus. Ia juga menilai ada jarak besar antara perencanaan dan implementasi, sementara tantangan warisan dari pengelolaan lama sempat diremehkan.
Masalah internal turut memperlambat perbaikan. Pembentukan tim baru disebut berjalan lebih lambat dari yang diharapkan, sehingga pembenahan di dalam perusahaan ikut tertahan.
Kepemimpinan dan keselamatan ikut menjadi sorotan
Tekanan itu bertambah setelah pengunduran diri CEO Campbell Wilson di tengah periode krisis. Kekosongan kepemimpinan dinilai menyulitkan langkah penyehatan bisnis dan penguatan operasional yang sedang dibutuhkan maskapai.
Di sisi keselamatan, Air India masih harus menghadapi temuan yang mengganggu kepercayaan publik. Regulator penerbangan India sebelumnya menemukan 51 pelanggaran keselamatan dalam audit tahunan, dan tujuh di antaranya masuk kategori berat.
Sorotan lain muncul dari gangguan operasional yang ikut merusak citra. Penerbangan Delhi–Vancouver sempat harus kembali ke Delhi setelah hampir delapan jam terbang karena tidak memiliki izin masuk wilayah udara Kanada.
Rute dipangkas, armada belum pulih
Di tengah tekanan biaya, Air India juga melakukan penyesuaian pada jaringan penerbangannya. Sejumlah rute internasional, termasuk Delhi–Washington dan Mumbai–San Francisco, dipangkas sehingga berdampak pada pendapatan.
Langkah itu memperlihatkan upaya menyeimbangkan ekspansi dengan kemampuan operasional dan efisiensi biaya. Namun dalam situasi keuangan yang ketat, setiap perubahan rute langsung berpengaruh pada arus kas.
Modernisasi armada pun belum berjalan sesuai rencana. Keterlambatan pengiriman pesawat baru akibat masalah rantai pasok global menahan pembaruan armada yang menjadi bagian penting dari strategi pemulihan.
Kurs dan avtur menambah beban
Pelemahan rupee India memperberat situasi itu. Mata uang tersebut terdepresiasi lebih dari 10% terhadap dolar AS, padahal banyak biaya Air India tetap bergantung pada transaksi berbasis dolar.
Analis aviasi Mahantesh Sabarad menilai kondisi itu menjadi tantangan besar bagi pemulihan maskapai. Biaya bahan bakar dan leasing pesawat ikut tertekan oleh fluktuasi mata uang, sehingga ruang gerak perusahaan makin sempit.
Di atas semua itu, gejolak harga bahan bakar di Timur Tengah menambah beban lain. Avtur yang mahal biasanya langsung memukul biaya operasional maskapai berbasis jaringan internasional seperti Air India.
Dalam kondisi seperti ini, dukungan pemegang saham menjadi semakin penting. Tata Group dan Singapore Airlines yang memegang 25,1% saham disebut perlu memperkuat dukungan pendanaan untuk menutup kerugian yang terus meningkat.
Laporan akhir investigasi AI-171 kini berada di pusat perhatian karena berpotensi menambah atau mengurangi tekanan reputasi. Meski kewajiban finansial terkait kecelakaan diperkirakan sudah banyak tertangani, dampak citra masih membayangi dan tetap menjadi faktor penting bagi pemulihan jangka panjang Air India.
Source: www.beritasatu.com