Rugi Besar Di Tengah Ekspansi Bitcoin, Saham Preferen Metaplanet Masih Tertahan

Meski tekanan laba terus menekan, Metaplanet belum mengubah arah besarnya: memperbesar kepemilikan Bitcoin sambil mencari cara pendanaan yang cocok dengan pasar Jepang. Perusahaan yang berbasis di Tokyo itu justru masih menatap aset digital tersebut sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang dan sumber pendapatan baru.

Namun, strategi itu datang bersama beban yang tidak kecil. Pada kuartal pertama, Metaplanet membukukan rugi $725 juta atau ¥114.5 miliar setelah nilai kepemilikan Bitcoin miliknya turun, di saat perusahaan terus menambah eksposur ke aset kripto itu.

Di periode yang berakhir 31 Maret, Metaplanet menambah 5.075 Bitcoin. Tambahan itu membuat total simpanan perusahaan mencapai 40.177 Bitcoin, naik 14.5% dibanding kuartal sebelumnya.

Dengan harga Bitcoin belakangan berada di sekitar $79,300, nilai kepemilikan Metaplanet diperkirakan sekitar $3.18 miliar. Sejak mulai mengakumulasi Bitcoin pada April 2024, perusahaan itu tumbuh menjadi pemegang korporasi terbesar ketiga untuk aset digital tersebut.

Risiko dari pendekatan ini terlihat jelas ketika harga Bitcoin melemah dari rekor tertinggi tahun lalu. Tekanan serupa juga dirasakan banyak perusahaan lain yang menjadikan cadangan Bitcoin sebagai bagian utama neraca mereka.

Bisnis lama bergeser

Metaplanet dulunya berfokus pada manajemen hotel, tetapi struktur bisnisnya kini sudah berubah cukup jauh. Sebagian besar pendapatan perusahaan saat ini berasal dari penjualan kontrak opsi Bitcoin.

Pada kuartal pertama, segmen itu menyumbang $15.8 juta atau ¥2.5 miliar. Angka tersebut naik tajam dari $4.8 juta atau ¥770 juta pada tahun sebelumnya.

CEO Simon Gerovich mengatakan perusahaan ingin membangun posisi Bitcoin dengan disiplin dan kesabaran. Melalui unggahan di X, ia juga menyebut Metaplanet akan terus mengembangkan layanan dan bisnis di atas fondasi tersebut.

Saham masih tertekan

Di pasar saham, reaksi investor belum sepenuhnya pulih. Saham Metaplanet ditutup di ¥327.00 pada Rabu, menurut Yahoo Finance, meski dalam sebulan terakhir masih naik 5.8% seiring harga Bitcoin bergerak di sekitar level $80,000.

Dalam hitungan yang lebih panjang, saham perusahaan masih 45% lebih rendah dibandingkan setahun lalu. Walau begitu, Metaplanet mengatakan basis investornya telah melebar menjadi sekitar 250,000 pemegang saham dari 63,600 pada tahun lalu.

Perubahan itu menunjukkan minat pasar masih ada, tetapi volatilitas Bitcoin membuat valuasi perusahaan belum stabil. Pergerakan saham Metaplanet pun tetap sangat terkait dengan naik turunnya aset kripto utama yang mereka pegang.

Rencana pendanaan belum juga jalan

Di tengah tekanan tersebut, Metaplanet juga berusaha meniru pendekatan Strategy di Amerika Serikat sebagai model pendanaan berbasis Bitcoin. Perusahaan itu sudah berupaya membentuk saham preferen yang meniru STRC, produk variable-rate yang dipakai perusahaan milik Michael Saylor sebagai sumber dana.

Gerovich mengakui produk dividen “MARS” dan “MERCURY” yang diperkenalkan pada November belum diterbitkan. Ia mengatakan prosesnya berjalan lebih lama dari perkiraan, tetapi perusahaan tetap berkomitmen membawanya ke pasar.

Ia juga menjelaskan bahwa desain kedua produk itu perlu disesuaikan dengan praktik pasar Jepang. Strategy membayar dividen bulanan pada STRC, sementara perusahaan tercatat di Jepang umumnya membagikan distribusi satu atau dua kali setahun.

Penundaan itu menambah lapisan tantangan bagi Metaplanet di tengah rugi kuartalan dan gejolak harga Bitcoin. Meski begitu, arah strateginya masih sama: menambah kepemilikan Bitcoin sambil menyiapkan sumber pendanaan yang lebih sesuai untuk pasar lokal.

Exit mobile version