Restu Trust Charter Buka Jalan Coinbase Dorong Stablecoin Jadi Alat Bayar Nyata

Persaingan di pembayaran berbasis aset digital mulai bergerak ke arah yang lebih praktis, bukan sekadar jual beli kripto. Coinbase ikut mendorong arah itu dengan menggandeng Nium agar stablecoin bisa dipakai lebih dekat ke kebutuhan bisnis, mulai dari mengirim, menerima, mengonversi, hingga membelanjakan USDC dalam pembayaran mata uang tradisional.

Langkah tersebut datang beriringan dengan kabar bahwa Coinbase memperoleh persetujuan bersyarat trust charter dari Office of the Comptroller of the Currency. Status ini memberi ruang bagi perusahaan untuk menawarkan layanan kustodian kripto sebagai produk yang diregulasi, sekaligus memperkuat pijakan Coinbase di tengah persaingan penyedia aset digital lain.

Stablecoin diarahkan ke kebutuhan pembayaran

Dalam kerja sama ini, Coinbase menyiapkan infrastruktur pembayaran, likuiditas, dompet digital, dan layanan kustodian. Nium memegang peran pemrosesan pembayaran sehingga bank dan perusahaan dapat memanfaatkan USDC untuk alur pembayaran yang selama ini masih bergantung pada sistem tradisional.

USDC menjadi aset awal yang dipakai dalam integrasi tersebut. Coinbase juga menegaskan bahwa dukungan pembayaran tidak berhenti pada satu stablecoin saja, karena perusahaan tetap membuka layanan untuk stablecoin lain.

Alec Lovett, head of infrastructure products di Coinbase, mengatakan kepada American Banker bahwa skala di pasar ini muncul ketika perusahaan bertemu langsung dengan kebutuhan enterprise tempat mereka sudah beroperasi. Pernyataan itu menggambarkan pendekatan Coinbase yang memilih jalur adopsi melalui kebutuhan bisnis, bukan semata lewat aktivitas perdagangan.

Masih ada jarak antara potensi dan pemakaian harian

Stablecoin memang makin sering mendapat perhatian di sektor keuangan, tetapi pemakaiannya untuk pembayaran belum meluas. Sebagian besar aktivitas stablecoin sejauh ini masih terkait perdagangan kripto, bukan transaksi harian untuk bisnis maupun konsumen.

Aaron Press, research director of worldwide payment strategies di IDC, menyebut stablecoin masih “fairly nascent” walau aktivitasnya terus meningkat. Ia menilai jaringan penerimaan menjadi faktor penting agar aset ini bisa dipakai lebih luas dalam transaksi sehari-hari, bukan hanya untuk perpindahan dana dalam skala besar.

Bagi perusahaan, stablecoin menawarkan kecepatan penyelesaian transaksi dan risiko konversi mata uang yang lebih rendah. Namun manfaat itu baru terasa penuh jika ada jembatan yang menghubungkan dana digital dengan sistem pembayaran tradisional secara lebih mulus.

Nium menekan friksi pembayaran lintas batas

Melalui integrasi ini, Nium dapat memakai USDC untuk mendanai pembayaran lintas batas dan menyelesaikannya dalam fiat lokal. Santhosh Srinivasan, group treasurer di Nium, mengatakan bahwa rails milik Coinbase beroperasi sepanjang waktu sehingga perusahaan bisa menyediakan likuiditas fiat lokal.

Srinivasan menilai model itu membantu bisnis menjangkau lebih banyak pelanggan dengan volume transaksi lebih tinggi sekaligus menekan risiko prefunding. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan ini relevan saat ekonomi global menghadapi tekanan dari tarif, perang Iran, gangguan rantai pasok, dan inflasi.

Lovett menyebut model tersebut sebagai peningkatan langsung dari sistem lama yang kerap membuat perusahaan harus menahan modal kerja selama beberapa hari. Ia juga menilai proses yang lebih singkat dapat mempercepat penyelesaian transaksi dan mengurangi risiko nilai tukar, sementara ketergantungan pada correspondent banks dengan jendela pemrosesan terbatas bisa berkurang.

Dorongan yang selaras dengan strategi bisnis Coinbase

Kemitraan dengan Nium sejalan dengan upaya Coinbase memperluas sumber pendapatan di luar perdagangan kripto. Perusahaan terus membangun custody, staking, stablecoin, dan layanan lain agar pertumbuhan tidak hanya bergantung pada jual-beli aset digital.

Shan Aggarwal, chief business officer Coinbase, menyebut dalam unggahan media sosial bahwa pendapatan trading perusahaan turun dari lebih dari 90% saat penawaran saham perdana menjadi sekitar 55% pada akhir 2025. Ia mengatakan perubahan itu merupakan hasil strategi yang sengaja dilakukan dengan berinvestasi lebih awal pada custody, staking, dan stablecoin sebelum adopsinya menjadi arus utama.

Pada akhir 2025, Coinbase disebut memiliki 12 produk yang masing-masing menghasilkan lebih dari $100 juta per tahun secara annualized. Portofolio itu mencakup custody, staking, stablecoin, derivatives, dan layanan lain yang menunjukkan pergeseran bisnis perusahaan ke arah infrastruktur keuangan.

Coinbase juga terus memperluas lini produknya lewat kerja sama dan peluncuran layanan baru. Pada Januari, perusahaan meluncurkan pasar prediksi untuk olahraga dan pemilu, lalu menghadapi gugatan dari Jaksa Agung New York Letitia James yang menuduh layanan itu melanggar hukum perjudian negara bagian.

Di Inggris, Coinbase juga meluncurkan produk pinjaman kripto melalui kemitraan dengan jaringan Morpho. Layanan itu memungkinkan pengguna meminjam USDC dengan jaminan bitcoin atau ether, memperlihatkan bahwa stablecoin kini menjadi salah satu fondasi penting dalam arah produk Coinbase ke depan.

Baca Juga

Back to top button