Di tepi Manila Bay, sebuah replika kapal galeon berukuran besar tidak hanya menarik perhatian karena bentuknya yang mencolok, tetapi juga karena cerita yang dibawanya tentang perdagangan laut yang membentuk hubungan Asia, Amerika, dan Eropa. Museo del Galeon menggunakan kapal Espiritu Santo sebagai pintu masuk untuk menelusuri jalur dagang yang besar nilainya, namun dibangun di atas biaya manusia yang sangat tinggi.
Museum ini menempatkan sejarah dari sudut pandang Filipina, terutama mereka yang membangun dan mengoperasikan kapal-kapal galeon selama berabad-abad. Dari cara itu, pengunjung diajak melihat bahwa kemegahan kapal harta karun selalu berjalan seiring dengan penderitaan para pelaut yang menggerakkannya.
Jalur dagang yang menghubungkan tiga benua
Rute galeon dari Manila ke Acapulco di Meksiko pernah menjadi penghubung penting antara Asia, Amerika, dan Eropa. Sejarawan Francis Navarro dari Ateneo de Manila University menyebutnya sebagai “the first global trade, connecting three continents” yang ikut “made the world smaller.”
Perjalanan ke arah barat melintasi Pasifik ini memakan waktu sekitar tiga bulan. Dari Manila, kapal membawa barang ke Acapulco, lalu perak dari koloni Spanyol di Amerika ditukar dengan sutra, porselen, dan giok dari Tiongkok sebelum barang-barang itu diteruskan ke Spanyol melalui Meksiko.
Di balik kemewahan, ada kerja paksa dan risiko besar
Espiritu Santo dibangun dengan kerja paksa pada 1603 dan menjadi bagian dari 181 kapal harta karun yang menempuh ratusan pelayaran antara 1565 dan 1815. Para sejarawan menggambarkan pelayaran itu sebagai salah satu yang paling berbahaya, dengan tingkat kematian sekitar satu dari tiga awak dalam satu perjalanan.
Manuel Quezon, direktur eksekutif museum, menekankan bahwa tradisi maritim Filipina kerap dijalani dalam keadaan yang tidak manusiawi. Ia juga menyoroti kewajiban kerja tanpa upah selama 40 hari bagi banyak pria untuk menebang pohon dan membangun kapal di bawah pengawasan mandor Spanyol.
Perdagangan yang ikut membentuk kehidupan sehari-hari
Barang yang dibawa melalui jalur galeon tidak berhenti pada komoditas bernilai tinggi. Ide, penyakit, makanan, agama, dan mode juga ikut bergerak ke Filipina, lalu memengaruhi identitas masyarakat setempat dalam proses yang tidak lepas dari penindasan kolonial.
Quezon menyebut museum ini sebagai upaya untuk memperlihatkan bahwa pengaruh besar dalam sejarah selalu datang bersama dampak berat. Jalur dagang tersebut merusak hutan-hutan di kepulauan Filipina, menghancurkan banyak komunitas, dan memaksa sebagian pria bekerja sebagai pelaut hingga 10 tahun.
Replika yang dibuat untuk mengisi bagian sejarah yang kosong
Museo del Galeon mulai bisa dimasuki pengunjung pada 1 Mei setelah 14 tahun tahap perencanaan. Di dalamnya, pengunjung dapat berjalan di atas dek replika sambil melihat layar LED besar yang menampilkan langit malam, dengan artefak pelayaran dipajang di sekeliling kapal.
Salah satu benda yang dipamerkan adalah bagian dari makam Tiongkok yang dulu digunakan sebagai pemberat di lambung galeon. Menurut Quezon, museum ini dibuat untuk “filling in the blanks” agar pengunjung, terutama anak-anak, memahami bahwa banyak hal yang tampak biasa hari ini memiliki latar sejarah yang panjang.
Bangunan besar, tetapi tidak untuk berlayar
Replika Espiritu Santo dibuat akurat berdasarkan data yang tersedia tentang kapal asli, tetapi tidak dimaksudkan untuk mengarungi laut. Quezon menjelaskan bahwa kayu keras dan kayu tahan air yang dulu dipakai untuk membangun galeon sudah lama habis, sementara pembuatan kapal seperti itu memerlukan sekitar 800 pohon yang kini hanya ditemukan di hutan Myanmar.
Karena itu, replika museum dibuat terutama dari fiberglass dan bahan buatan lain. Pilihan tersebut dianggap lebih masuk akal daripada menebang hutan besar-besaran hanya untuk kapal yang memang tidak akan digunakan berlayar.
Didanai keluarga-keluarga kaya Filipina
Proyek museum ini menelan biaya billion-peso atau $16.5 million dan dibiayai oleh keluarga-keluarga terkaya di Filipina. Upaya mencari dukungan dari pemerintah dan seorang miliarder Meksiko tidak berhasil, sehingga dana swasta menjadi penopang utama pembangunan.
Dengan posisinya di tepi Manila Bay dan kapal raksasa yang menghadap laut, Museo del Galeon menghadirkan kembali sejarah perdagangan yang pernah menghubungkan dua samudra dan tiga benua. Di saat yang sama, museum ini juga menampilkan sisi keras dari jaringan dagang yang dibangun lewat kerja paksa, rusaknya hutan, dan risiko tinggi yang ditanggung ribuan pelaut.