Rapat Darurat DK PBB Disiapkan, Beaufort Direbut Israel dan Konflik Lebanon Selatan Makin Membesar

Penguasaan Kastel Beaufort oleh militer Israel memicu perhatian dunia karena benteng itu bukan sekadar titik tempur biasa. Di tengah memanasnya lagi perang di Lebanon selatan, Dewan Keamanan PBB kini bersiap menggelar rapat darurat untuk membahas situasi yang dinilai makin sulit dikendalikan.

Dorongan untuk menggelar pertemuan itu datang dari Prancis, yang menyebut kondisi di Lebanon selatan sangat mengkhawatirkan. Presiden Emmanuel Macron juga menegaskan tidak ada pembenaran untuk eskalasi besar yang sedang berlangsung di wilayah tersebut.

Beaufort kembali jadi pusat sorotan

Kastel Beaufort, yang juga dikenal sebagai Qalaat al-Chakif, memiliki nilai strategis dan simbolis dalam konflik di selatan Lebanon. Lokasinya berada di wilayah teritorial Libanon dan pernah dipakai Israel sebagai pangkalan selama dua dekade pendudukan Israel di Lebanon selatan yang berakhir pada 2000.

Karena itu, penguasaan atas benteng bersejarah tersebut langsung dianggap memperluas skala operasi militer Israel. Perhatian internasional pun meningkat, terutama karena wilayah itu lama menjadi salah satu titik ketegangan dengan Hizbullah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut langkah itu sebagai bagian penting dari operasi pasukannya. Dalam pernyataan video setelah Beaufort direbut, ia mengatakan pihaknya akan mendorong operasi lebih jauh.

Netanyahu juga menyebut arahan yang diterimanya adalah memperdalam dan memperluas cengkeraman Israel di tempat-tempat yang berada di bawah kendali Hizbullah. Pernyataan itu memperkuat kekhawatiran bahwa konflik tidak berhenti pada satu titik penguasaan saja.

Upaya menahan konflik masih berjalan

Di tengah situasi yang terus memburuk, diplomasi internasional tetap bergerak. Seorang pejabat senior Amerika Serikat mengatakan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah berbicara dengan Presiden Libanon Joseph Aoun dan Netanyahu.

Washington mengusulkan urutan langkah yang jelas untuk meredakan ketegangan. Hizbullah diminta menghentikan seluruh serangan ke Israel, lalu Israel diminta menahan diri dari eskalasi di Beirut sebagai balasan.

Namun, di lapangan pertempuran belum berhenti. Bentrokan terbuka masih terjadi meski kesepakatan gencatan senjata sempat dimulai pada 17 Maret.

Kesepakatan itu disebut tidak pernah dipatuhi oleh kedua pihak. Akibatnya, konflik terus berlanjut dan memperbesar risiko di kawasan perbatasan.

Warga sipil ikut menanggung dampaknya

Dampak perang juga semakin berat bagi warga Lebanon. Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi massal ke wilayah selatan Sungai Zahrani, sementara serangan udara di dekat sebuah rumah sakit di Tyre dilaporkan melukai 13 staf medis.

Di Sidon, sejumlah pengungsi mengaku takut kembali ke rumah karena kerusakan besar di wilayah asal mereka. Zeinab Fakih, pengungsi dari Nabatieh, menyebut kedatangan pasukan Israel di kastel bersejarah itu sebagai sesuatu yang tragis.

Kementerian Kesehatan Libanon mencatat serangan Israel telah menewaskan lebih dari 3.412 orang sejak awal Maret. Di sisi lain, militer Israel menyebut pihaknya kehilangan 25 tentaranya dan mengklaim telah mengeliminasi 900 anggota Hizbullah sejak gencatan senjata dimulai.

Dengan kondisi seperti ini, rapat darurat Dewan Keamanan PBB menjadi salah satu jalur utama untuk merespons krisis yang terus meluas. Perhatian dunia kini tetap tertuju ke Lebanon selatan, tempat Beaufort kembali berubah menjadi simbol perang yang belum menemukan jalan keluar.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version