Di tengah banjir informasi dan konten yang terus bergerak cepat, KPID Jawa Barat mengingatkan bahwa publik tetap membutuhkan pegangan yang jelas. Wakil Ketua KPID Jawa Barat, Almadina Rakhmaniar, menilai radio masih punya tempat penting karena hadir dengan fondasi regulasi dan pengawasan yang lebih kuat.
Menurut Almadina, tantangan media hari ini bukan sekadar soal banyaknya konten, melainkan soal bagaimana masyarakat memilih informasi yang sehat dan bertanggung jawab. Ia menyampaikan pandangan itu dalam program Bandung Menyapa Pagi RRI Pro 1 Bandung.
Literasi tidak cukup untuk penonton
Almadina menilai literasi media tidak bisa hanya diarahkan kepada penonton atau pendengar. Pembuat konten juga harus memahami batasan dan tanggung jawab agar ekosistem media berjalan sehat.
Ia menjelaskan bahwa media masa kini seharusnya tidak hanya menarik, tetapi juga lengkap dan mendidik. Karena itu, literasi perlu menyasar dua sisi sekaligus, yakni kreator dan penikmat konten.
Dalam pandangannya, masyarakat juga tidak boleh berhenti sebagai penonton pasif. Di tengah arus informasi yang deras, publik perlu lebih cermat memilah tayangan dan informasi yang masuk.
Kreator digital perlu memahami aturan
Almadina menyoroti bahwa lembaga penyiaran konvensional seperti televisi dan radio sudah akrab dengan regulasi P3SPS. Sebaliknya, banyak kreator digital belum mengenal aturan itu secara memadai.
Ia mendorong agar sekolah P3SPS diperluas ke para kreator digital. Mereka tetap bebas berekspresi, tetapi kebebasan itu harus disertai tanggung jawab sosial agar tidak menyesatkan publik.
Poin ini, menurutnya, penting untuk membangun ruang media yang lebih tertib. Jika pembuat konten memahami aturan, kualitas informasi yang beredar di ruang publik juga akan lebih terjaga.
Radio dan televisi masih punya fondasi kuat
Di tengah kompetisi dengan media digital, Almadina menolak anggapan bahwa radio dan televisi akan tertinggal begitu saja. Ia menilai penyiaran konvensional justru memiliki keunggulan karena berada dalam sistem regulasi dan pengawasan yang jelas.
Karena itu, ia menyebut televisi dan radio tetap layak dijadikan rujukan utama oleh masyarakat. Fondasi yang kuat membuat keduanya tidak mudah tergeser oleh perubahan arus digital yang terus bergerak.
Pandangan tersebut sejalan dengan dorongan KPID Jawa Barat agar publik tidak kehilangan pegangan di tengah banjir konten. Bagi lembaga itu, kehadiran media penyiaran yang tertib tetap dibutuhkan untuk menjaga kualitas informasi.
Masyarakat perlu memilih tayangan yang sehat
Selain menyoroti pembuat konten, Almadina juga mengingatkan pentingnya literasi bagi penikmat media. Ia menilai publik perlu lebih cerdas memilih tayangan agar tidak terjebak pada hiburan instan semata.
Masyarakat yang cakap bermedia, kata dia, akan lebih mudah memilih konten yang sesuai regulasi dan kebutuhan. Hasilnya, informasi yang diterima bukan hanya menghibur, tetapi juga mencerdaskan.
Ia juga mengaitkan hal itu dengan sudut pandang psikologi komunikasi. Menurut Almadina, publik membutuhkan indikator siaran sehat karena tayangan yang baik tidak hanya memberi hiburan, tetapi juga menjaga kondisi psikologis masyarakat.
Jika tidak ada saringan yang jelas, arus konten justru dapat menambah beban mental. Dalam situasi seperti itu, media seharusnya menjadi penyeimbang, bukan sumber informasi yang menyesatkan.
Radio tetap penting saat kondisi darurat
Program Bandung Menyapa Pagi juga membuka ruang interaksi bagi pendengar lewat WhatsApp, telepon, dan siaran langsung di TikTok. Pola itu menunjukkan upaya RRI Bandung menghadirkan dialog publik yang lebih inklusif.
Di bagian akhir, Almadina kembali menegaskan bahwa radio tetap punya peran vital saat bencana. Menurut dia, radio masih efektif menyampaikan informasi ketika listrik padam atau jaringan telekomunikasi terganggu.
Karena itu, di tengah derasnya konten digital, radio tetap dipandang sebagai suara harapan yang belum kehilangan relevansinya. Bagi KPID Jawa Barat, posisi itu membuat radio tetap penting sebagai pegangan publik saat informasi begitu mudah berubah arah.
Source: rri.co.id