Di tengah maraknya belanja buah lewat aplikasi dan pembayaran nontunai, Kusuma Buah tetap mempertahankan wajah warung tradisionalnya. Namun, dua penyesuaian sederhana (QRIS dan layanan pesan antar) membuat usaha kecil di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta, itu tetap bergerak di tengah perubahan perilaku pelanggan.
Warung buah milik Diana ini sudah berdiri sejak 2007 bersama suaminya. Selama hampir dua dekade, usaha keluarga itu tidak berpindah jauh dari jalur awalnya di Jalan Kusumanegara, meski lokasinya sempat bergeser ke sisi jalan yang berbeda sebelum menempati titik sekarang.
Lokasi yang ikut menghidupkan warung
Posisi warung menjadi salah satu alasan usaha itu tetap ramai. Kusuma Buah berada di jalur yang dekat dengan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Universitas Teknologi Yogyakarta, dan Pamela Supermarket.
Arus orang yang melintas di Jalan Kusumanegara juga membantu mendatangkan pembeli. Karena itu, pelanggan warung tidak hanya datang dari sekitar, tetapi juga dari pengguna jalan yang singgah untuk membeli buah atau minuman.
Diana dan suaminya menjalankan usaha itu dari rumah kontrakan yang mereka pakai sekaligus sebagai tempat usaha. Sejak awal dirintis, warung buah ini menjadi satu-satunya usaha yang mereka tekuni hingga sekarang.
Buah segar dan jus saling menopang
Kusuma Buah tidak hanya menjual buah segar, tetapi juga menyediakan jus buah. Dua jenis jualan itu saling terkait karena buah yang dijajakan di etalase juga menjadi bahan untuk minuman.
Pola itu membantu perputaran stok berjalan lebih cepat. Buah yang tidak habis terjual satuan masih bisa diolah menjadi jus, sehingga barang tidak cepat terbuang.
Untuk menjaga kesegaran, dagangan diperbarui setiap hari. Suami Diana mengambil pasokan langsung dari Pasar Gamping dan tidak menyimpan stok dalam jumlah besar agar uang bisa terus berputar.
Harga buah pun mengikuti kondisi pasar. Saat musim panen, harga cenderung lebih murah karena stok melimpah, sedangkan ketika pasar tidak stabil, harga bisa berubah setiap hari.
Pembayaran digital masuk karena permintaan pelanggan
Perubahan paling terasa datang dari kebiasaan belanja. Saat pelanggan mulai menanyakan pembayaran online, Diana kemudian memasang QRIS BRI sekitar tiga sampai empat tahun terakhir.
Keputusan itu ia ambil karena sudah memiliki rekening di BRI. Dengan begitu, warung bisa menerima pembayaran yang lebih mudah tanpa mengubah pola jualan yang sudah lama berjalan.
Meski QRIS sudah tersedia, uang tunai belum hilang dari transaksi harian. Pelanggan lama masih lebih sering membayar cash, sedangkan pelanggan baru yang banyak berasal dari kalangan mahasiswa lebih akrab dengan QRIS.
Alfi, salah satu pengguna QRIS, mengaku tetap membawa uang tunai saat bepergian. Namun untuk belanja biasa, ia lebih sering memakai QRIS, meski terkadang terkendala jaringan yang tidak stabil dan membuat transaksi lebih lambat.
Pesan antar memperluas jangkauan penjualan
Sebelum memakai QRIS, Diana lebih dulu masuk ke layanan pesan antar makanan. Langkah itu dimulai saat pandemi Covid-19 lewat GrabFood, lalu disusul pendaftaran ke platform lain secara bertahap.
Ketika Shopee membuka ShopeeFood di Indonesia pada April 2020, Kusuma Buah ikut bergabung. Belum lama ini, warung itu juga masuk ke GoFood untuk memperluas saluran penjualan.
Kehadiran beberapa platform itu membuat penjualan tidak lagi bertumpu pada pembeli yang datang langsung. Kini, pengemudi ojek online juga menjadi pemandangan yang sering datang ke warung untuk mengambil pesanan.
Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana warung buah kecil bisa bertahan dengan tetap sederhana, tetapi terbuka pada cara belanja yang berubah. Kusuma Buah tetap mengandalkan pembeli langsung, sambil memanfaatkan QRIS dan pesan antar agar usahanya tetap hidup di tengah persaingan penjual buah yang lebih besar.
Data BRI mencatat jumlah merchant mencapai 323,7 ribu dengan volume transaksi Rp67,9 triliun, tumbuh 26,5 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, transaksi QRIS mencapai Rp30,5 triliun dengan jumlah transaksi 253 miliar.





