Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto tentang dolar yang naik justru mencuri perhatian bukan karena nada tegang, melainkan karena selipan kelakar yang diarahkan ke Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Di tengah pembahasan ekonomi, Prabowo menilai publik tak perlu terlalu khawatir selama Purbaya masih tampak tenang dan tersenyum.
Ucapan itu muncul saat Prabowo meresmikan 1.061 Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur. Di hadapan peserta acara, ia memakai bahasa ringan untuk menjelaskan bahwa gejolak nilai tukar tidak selalu terasa sama oleh semua orang.
Pemerintahan Harus Bergerak sebagai Tim
Prabowo lebih dulu menekankan pentingnya kerja bersama di lingkup pemerintahan. Ia menyampaikan apresiasi kepada jajaran Kabinet Merah Putih yang dinilainya bergerak bersama untuk membangun Indonesia.
Menurut dia, keberhasilan program pemerintah tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja. Dukungan kementerian, pemerintah daerah, hingga unsur keamanan disebut menjadi bagian dari jalannya program di lapangan.
Dalam penjelasannya, Prabowo menyebut koperasi yang baru diresmikan akan menjadi kebanggaan bersama bila dikerjakan sebagai satu tim. Ia juga menegaskan bahwa tanpa peran kementerian dalam negeri, gubernur, bupati, kepala desa, TNI, dan Polri, program tidak akan berjalan lancar.
Kelakar Soal Dolar dan Purbaya
Di sela uraian soal pengelolaan negara, Prabowo menyinggung bahwa urusan keuangan berada di bawah tanggung jawab Kementerian Keuangan. Dari situ, ia lalu menyebut nama Purbaya yang menurutnya kini sedang sangat populer.
“Purbaya sekarang populer banget, Purbaya itu. Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, ngga usah kalian khawatir itu,” ucap Prabowo. Kalimat itu disampaikan dalam suasana santai saat ia membahas naik-turunnya dolar.
Prabowo menilai fluktuasi kurs tidak perlu membuat masyarakat desa ikut cemas. Ia mengingatkan bahwa banyak warga desa tidak bergantung pada transaksi dalam mata uang asing.
Dampak Kurs Lebih Terasa di Kelompok Tertentu
Menurut Prabowo, pelemahan atau penguatan rupiah lebih banyak dirasakan oleh mereka yang sering ke luar negeri atau bertransaksi dengan dolar. Ia menyebut kelompok itu umumnya berasal dari kalangan tertentu, termasuk pengusaha dan pejabat yang kerap bepergian ke luar negeri.
“Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar. Yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri,” ujarnya. Pernyataan ini memperlihatkan cara Prabowo membedakan dampak kurs antara masyarakat umum dan kelompok yang lebih sering bersentuhan dengan mata uang asing.
Nada ringan itu tetap membawa pesan bahwa gejolak nilai tukar tidak otomatis memukul semua lapisan masyarakat. Prabowo ingin publik melihat persoalan ekonomi dari sudut yang lebih luas dan tidak bereaksi berlebihan.
Keyakinan pada Fondasi Ekonomi Nasional
Selain menyinggung kurs dolar, Prabowo juga menyatakan keyakinannya bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih kuat. Ia meminta masyarakat percaya pada kemampuan ekonomi nasional dan pada kerja para pemimpin yang berpihak kepada rakyat.
“Percaya, ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Orang mau ngomong apa, ya, ngomong apa, Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita,” kata Prabowo. Ia menambahkan bahwa semua pemimpin harus bekerja untuk rakyat tanpa memandang asal partai.
Dalam penjelasannya, Prabowo juga menyebut bahwa di setiap partai ada sosok yang baik dan ada pula yang tidak. Karena itu, menurut dia, yang terpenting adalah memastikan pemerintahan tetap fokus pada kepentingan publik.
Senyum Purbaya yang disorot Prabowo pun menjadi bagian dari pesan penenang di tengah pembahasan rupiah dan dolar. Di forum tersebut, Prabowo menggabungkan humor, penegasan kerja tim, dan keyakinan pada ketahanan ekonomi nasional dalam satu rangkaian pesan yang sama.
Source: www.viva.co.id