Di industri komputasi kuantum, kemajuan tidak hanya ditentukan oleh jumlah qubit, tetapi juga oleh kemampuan sistem menjaga kontrol yang sangat presisi. Di titik inilah kolaborasi Silicon Quantum Computing atau SQC dengan AMD menjadi penting, karena keduanya mencoba menyatukan teknologi kuantum, komputasi klasik, dan kecerdasan buatan dalam satu sistem yang lebih siap dipakai.
SQC menempatkan presisi atom sebagai inti pendekatannya. Perusahaan asal Sydney, Australia, itu menanam atom fosfor individual ke dalam silikon murni isotopik dengan akurasi hingga 0,13 nanometer, sebuah tingkat ketelitian yang membantu menekan noise dan menjaga operasi qubit tetap stabil.
Stabilitas seperti ini menjadi krusial karena kualitas komputer kuantum sangat bergantung pada bagaimana qubit dikendalikan. Pendekatan atomik SQC memberi keunggulan teknis yang sulit dicapai lewat metode konvensional, terutama ketika sistem harus bekerja dalam skala yang jauh lebih kompleks.
Di sisi lain, AMD berperan sebagai penghubung antara dunia kuantum dan komputasi klasik. SQC menggunakan AMD Zynq UltraScale+ RFSoC untuk mengelola data dan kontrol pada skala atom, sekaligus membantu pembacaan qubit secara langsung dan real-time.
Platform itu juga memegang peran dalam pengolahan beban kerja berat melalui klaster prosesor Ryzen Threadripper. Infrastruktur tersebut dipakai untuk simulasi dan pemodelan sebelum desain chip masuk tahap fabrikasi, sehingga pengujian bisa dilakukan dengan persiapan yang lebih matang.
Penggunaan RFSoC memberi fleksibilitas dalam mengatur pulsa analog dan instruksi digital. Dukungan ini turut membantu SQC mempercepat iterasi perangkat lunak, termasuk pembaruan firmware mingguan yang disebut bisa dilakukan berkat keandalan platform AMD.
Fokus bukan lagi sekadar riset dasar
SQC tidak berjalan dengan pendekatan laboratorium semata. Perusahaan ini disebut telah mengantongi pendanaan AU$180 juta, atau sekitar Rp1,9 triliun, dan didukung tim 85 insinyur yang membuat arah kerjanya lebih dekat ke aplikasi praktis.
Dengan kapasitas tersebut, SQC tidak hanya mengejar pencapaian ilmiah, tetapi juga menyiapkan teknologi yang bisa dimanfaatkan sekarang. Perusahaan ini bahkan menyebut mampu memproduksi ratusan desain chip setiap tahun, sebuah modal penting untuk mendekati target komputer kuantum komersial.
Bidang penerapan mulai melebar
Arah pengembangan SQC juga terlihat dari sektor-sektor yang mulai diuji. Di keuangan, sistem kuantum diarahkan untuk membantu analisis antipencucian uang dan identifikasi akun ilegal secara lebih cepat.
Pada sektor energi, teknologi ini diposisikan untuk mengoptimalkan load balancing agar mendukung target emisi net-zero. Di telekomunikasi, fokusnya ada pada prediksi gangguan jaringan dan peningkatan keandalan layanan.
Sementara itu, di bidang pertahanan, teknologi kuantum ditempatkan sebagai technology offset untuk memperkuat keamanan siber tingkat tinggi. Pola penerapan ini menunjukkan bahwa komputasi kuantum mulai dipandang sebagai alat kerja lintas sektor, bukan sekadar eksperimen sains.
Michelle Simmons, Founder dan CEO SQC, menilai masa depan komputasi akan bergerak ke sistem heterogen. Ia melihat kuantum, klasik, dan AI akan bekerja berdampingan sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi, dan menurutnya komputer kuantum skala komersial membutuhkan hardware paling modern di dunia.
Kemitraan dengan AMD memperkuat arah itu karena desain, simulasi, dan kontrol bisa dibangun di atas infrastruktur yang lebih matang. Dengan fabrikasi skala atom dan software stack internal yang komprehensif, SQC berupaya membangun fondasi teknologi yang siap digunakan di luar laboratorium.
Langkah ini membuat SQC menjadi salah satu pemain yang diperhatikan dalam perlombaan menuju komputer kuantum komersial pertama. Perpaduan presisi atom dan perangkat AMD menempatkan perusahaan tersebut lebih dekat pada tujuan yang selama ini menjadi tantangan utama industri kuantum.
Source: mediaindonesia.com




