Dorongan menjadikan selatan Jawa Tengah sebagai penyangga pangan nasional kini semakin kuat, tetapi jalan yang harus ditempuh masih penuh pekerjaan rumah. Di tengah tekanan pada produksi pangan dan distribusi antarwilayah, kawasan ini justru dilihat sebagai salah satu tumpuan baru yang bisa memperkuat ketahanan pangan lebih luas.
Anggota DPD RI Abdul Kholik menilai jalur selatan Jawa Tengah atau Jasela punya modal yang besar untuk mengambil peran itu. Ia menyebut wilayah ini tidak hanya memiliki pertanian dan perikanan, tetapi juga pariwisata serta ekonomi kreatif yang dapat saling menguatkan jika dikelola secara terpadu.
Kekuatan Jasela juga ditopang oleh populasi sekitar 11,8 juta jiwa. Dalam pandangan Kholik, basis penduduk sebesar itu memberi ruang besar bagi pengembangan ekonomi sekaligus penguatan sektor pangan di kawasan selatan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Diskusi Kelompok Terpumpun di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, yang membahas kebijakan dan strategi pengembangan potensi pertanian dan perikanan. Forum itu menyoroti langkah menuju kemandirian pangan di wilayah Barlingmascakeb dan Purwomanggung, terutama di kawasan Jasela.
Meski potensinya besar, Kholik mengingatkan bahwa keunggulan kawasan tidak akan muncul otomatis tanpa arah kebijakan yang jelas. Ia menilai pertanian, perikanan, dan konektivitas antardaerah harus bergerak bersama agar selatan Jawa Tengah tidak berhenti sebagai lumbung lokal.
Di sisi lain, Jawa Tengah masih dibayangi tantangan pembangunan yang berat. Kholik menyoroti jumlah penduduk yang mencapai sekitar 38 juta jiwa, tingginya angka kemiskinan, ketimpangan antarkawasan, alih fungsi lahan yang menekan sektor pangan, serta lemahnya regenerasi petani.
Ia juga menilai pemerataan pusat pertumbuhan ekonomi menjadi kebutuhan mendesak. Menurut dia, pembangunan tidak seharusnya terus bertumpu pada wilayah pantai utara karena kesenjangan antarwilayah masih terlihat jelas.
Perbedaan itu tampak dari kondisi kemiskinan yang tidak merata. Ada daerah dengan tingkat kemiskinan sekitar 4 persen, sementara di wilayah selatan masih terdapat daerah dengan angka kemiskinan dua digit.
Bagi Kholik, pangan tidak bisa diperlakukan sebagai sektor pelengkap. Ia memandang sektor ini harus ditempatkan sebagai industri strategis, sejajar dengan sektor lain yang selama ini lebih sering dianggap sebagai penggerak utama ekonomi.
Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan Jawa Tengah yang menghadapi tekanan pada produksi pangan dan distribusi antarwilayah. Dengan basis penduduk besar dan tantangan ketahanan pangan yang makin kompleks, sektor pangan dinilai memerlukan pendekatan pembangunan yang lebih serius.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Mahdi Abdillah, menegaskan bahwa pertanian dan perikanan juga punya peran penting dalam stabilitas ekonomi daerah. Menurut dia, dua sektor itu berkaitan langsung dengan pengendalian inflasi, peningkatan investasi, dan penguatan kesejahteraan masyarakat.
Mahdi menjelaskan, komoditas pangan yang bergejolak masih menjadi penyumbang utama dinamika inflasi di banyak daerah. Kondisi serupa juga terjadi di wilayah eks Keresidenan Banyumas, yang mencakup Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.
Karena itu, Bank Indonesia terus mendorong ketahanan pangan daerah melalui pengembangan klaster pangan strategis, kerja sama antardaerah, digitalisasi pertanian, penguatan hilirisasi produk, serta peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha. Mahdi menilai tiap wilayah memiliki potensi berbeda yang perlu disambungkan dalam rantai pasok yang efisien dan berdaya saing.
Dari sudut pandang perencanaan wilayah, Kepala Pusat Studi Transportasi dan Pengembangan Wilayah LPPM Unsoed, Probo Hardini, menilai pengembangan Jasela harus memakai pendekatan kewilayahan. Pendekatan itu perlu memperhatikan potensi, karakteristik ruang, persoalan dasar, dan kebutuhan tiap daerah.
Kajian LPPM Unsoed menunjukkan konektivitas intra dan antardaerah masih menjadi masalah utama di kawasan selatan. Probo juga menyoroti ego sektoral yang masih kuat di masing-masing daerah dan membuat pengembangan kawasan berjalan belum terpadu.
Ia menegaskan bahwa setiap daerah punya keunggulan komparatif yang bisa saling melengkapi. Karena itu, pengembangan kawasan selatan perlu dibangun secara kolaboratif, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Pakar kebijakan publik Unsoed, Prof Slamet Rosyadi, menambahkan bahwa arah pengembangan pertanian dan perikanan di Jasela perlu merujuk pada tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama Zero Hunger atau tanpa kelaparan. Ia juga menyebut perguruan tinggi siap mendukung lewat riset, inovasi teknologi, dan pendampingan kebijakan agar produktivitas serta nilai tambah sektor pangan di kawasan selatan terus meningkat.
Source: jateng.antaranews.com