Perubahan paling terasa setelah beralih ke Pop!_OS bukan sekadar soal tampilan baru, melainkan soal ritme kerja yang lebih tenang. Sistem ini dianggap lebih ringan, lebih bersih, dan lebih responsif daripada Windows modern, sampai perpindahan kembali ke Windows terasa seperti kembali ke lingkungan yang lebih berat.
Kesan itu muncul setelah pengalaman panjang memakai Windows sejak sekitar 1998 untuk banyak kebutuhan, mulai dari gaming, membuat UI, membangun situs web, menulis program, kuliah, hingga pekerjaan jurnalisme teknologi. Dalam rentang waktu sepanjang itu, rasa frustrasi terhadap Windows ikut menumpuk karena sistem operasi Microsoft dinilai makin sarat iklan, pembaruan yang terlalu sering, telemetri, dan dorongan kuat terhadap Copilot AI.
Di mata sebagian pengguna, Windows modern juga terlalu sering menyelipkan promosi untuk Microsoft 365, Teams, dan Candy Crush. Kombinasi semua itu membuat alur kerja terasa lebih sering terganggu, sehingga ketertarikan untuk mencari alternatif di Linux makin besar.
Pop!_OS kemudian muncul sebagai pilihan yang terasa aman dan masuk akal. Distribusi ini dipandang cukup matang, dan Cosmic UI menjadi salah satu daya tarik utama yang membuatnya terlihat menarik tanpa terasa terlalu ekstrem untuk pengguna lama Windows.
Jalur migrasi yang tidak memutus Windows
Peralihan tidak dilakukan dengan menghapus Windows sepenuhnya. Sistem dual boot tetap dipertahankan agar Windows masih tersedia, sementara Pop!_OS bisa dicoba tanpa risiko meninggalkan instalasi utama.
Proses pemasangannya juga masih terasa akrab bagi pengguna PC. Persiapan dasar yang dibutuhkan meliputi USB 8 GB, Rufus, dan file ISO yang sesuai dengan kartu grafis yang dipakai.
Untuk perangkat Nvidia, varian yang disarankan adalah “Pop!_OS 24.04 LTS with NVIDIA”. Sementara itu, perangkat AMD menggunakan ISO standar “Pop!_OS 24.04 LTS”.
Sebelum instalasi, partisi Windows perlu dikecilkan terlebih dahulu. Fast Startup dan BitLocker juga harus dimatikan, lalu secure boot di BIOS diubah menjadi “Other OS”.
Setelah installer Pop!_OS terbuka, pengguna memilih Custom Install dan mengisi partisi dari ruang kosong yang sudah disiapkan. Sesudah itu, sistem diperbarui lewat Terminal dengan perintah sudo apt update && sudo apt full-upgrade -y agar driver dan aplikasi ikut segar.
Pengalaman harian yang terasa lebih ringan
Kesan paling kuat justru muncul saat sistem dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Pop!_OS dinilai bersih, responsif, dan rendah latensi, sampai kembali ke Windows terasa seperti pindah ke sistem yang lebih lambat.
Perasaan itu tetap muncul meski sistem dijalankan di perangkat kelas atas. Konfigurasi yang dipakai mencakup Ryzen 9 9900X, RTX 5080, RAM 64 GB DDR5, dan SSD WD SN8100.
Perbedaan tersebut dikaitkan dengan desain dasar Linux yang lebih ringan. Windows dianggap membawa banyak lapisan kompatibilitas lama yang terus menumpuk, sementara Pop!_OS dan Cosmic UI dinilai lebih fleksibel karena komponen antarmukanya bisa diganti atau dilepas tanpa membuat sistem runtuh.
Di sisi penyimpanan, Linux memakai ext4 alih-alih NTFS. Format ini disebut lebih unggul untuk operasi file yang cepat, sehingga ikut mendukung kesan sistem yang lebih gesit.
Aplikasi masih menjadi batas utama
Meski terasa rapi dan fleksibel, Pop!_OS tetap belum bisa menggantikan semua kebutuhan. Ada banyak cara memasang aplikasi, termasuk paket .deb, pengunduhan lewat terminal, dan Flatpak yang membatasi akses aplikasi ke sistem.
Toko aplikasinya juga disebut sangat kaya pilihan. Bahkan VPN dapat muncul di tab jaringan sebagai fitur tersendiri, sehingga kebutuhan dasar terasa cukup mudah dipenuhi.
Masalah utamanya tetap ada pada kompatibilitas software. Adobe, Affinity, Battle.net, Office 365, iTunes, Notion, dan banyak aplikasi RGB seperti Corsair iCUE, Logitech, Razer, Armoury Crate, NZXT Cam, serta Elgato tidak tersedia secara native.
Sejumlah alternatif memang bisa dipakai. GIMP, Krita, OpenRGB, dan LibreOffice mampu menggantikan banyak kebutuhan, sementara layanan berbasis web seperti Tidal atau Google Drive bisa dipasang sebagai PWA agar terasa seperti program desktop biasa.
Gaming di Linux makin masuk akal, tapi belum selalu setara
Untuk urusan game, Pop!_OS mendapat keuntungan besar dari Lutris dan Wine yang memungkinkan aplikasi Windows berjalan lewat lapisan kompatibilitas. Proton dari Valve, yang merupakan turunan Wine untuk menerjemahkan DirectX ke Vulkan, menjadi faktor terpenting yang membuat gaming di Linux jauh lebih mungkin dilakukan.
Dukungan Nvidia juga disebut sudah jauh lebih baik. Nvidia merilis kernel module open-source untuk seri GTX 16, RTX 20, dan yang lebih baru pada 2022, lalu teknologinya dinilai mulai matang setelah awal yang cukup sulit.
Hasil pengujian game tetap campur aduk. Pada 1080p, performa di Linux turun rata-rata sekitar 11,1 persen, lalu turun 16,3 persen pada 4K.
Ada pengecualian menarik, terutama pada Cyberpunk 2077 dengan DLSS di 1080p. Di skenario itu, Pop!_OS justru lebih cepat dengan 127 fps dibanding 111 fps di Windows.
Namun tidak semua judul memberi hasil serupa. Total War: Warhammer 3 menjadi pengecualian terburuk, dengan Pop!_OS tertinggal 21 persen pada 1080p dan 25 persen pada 4K.
Pilihan yang ditentukan kebutuhan kerja
Pada akhirnya, Pop!_OS memberi pengalaman yang cepat, rapi, dan terasa menyenangkan dipakai. Tetapi kebutuhan kerja tertentu masih membuat Windows sulit ditinggalkan sepenuhnya.
Affinity dan software benchmark masih menjadi alasan utama untuk kembali ke ekosistem Microsoft. Karena itu, keputusan akhir tetap bergantung pada seberapa jauh kompatibilitas aplikasi mampu memenuhi tuntutan kerja harian.





