Pluto Ingin Dinaikkan Lagi Ke Status Planet, Bos Baru NASA Siap Menantang IAU

Dukungan agar Pluto kembali disebut planet muncul dari sosok yang kelak memimpin NASA, dan itu langsung membuat perdebatan lama ikut hidup lagi. Jared Isaacman menyampaikan pandangan tersebut saat rapat di Senat yang membahas anggaran pemerintah, setelah senator Jerry Moran menanyakan posisinya soal Pluto.

Jawaban Isaacman singkat, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan keberpihakannya. Ia menyebut dirinya berada di kubu yang ingin “jadikan Pluto planet lagi”, sebuah pernyataan yang segera menarik perhatian karena status Pluto memang sudah lama menjadi bahan silang pendapat di dunia astronomi.

Status Pluto yang belum pernah benar-benar tenang

Pluto kehilangan pengakuan sebagai planet pada 2006 ketika International Astronomical Union atau IAU mengubah definisi planet. Sejak saat itu, Pluto yang selama puluhan tahun dikenal sebagai planet kesembilan Tata Surya turun kelas menjadi planet kerdil.

Keputusan itu tidak lahir tanpa dasar. IAU menetapkan tiga syarat agar sebuah benda langit bisa disebut planet, yaitu harus mengorbit Matahari, berbentuk bola karena gravitasinya sendiri, dan membersihkan orbitnya dari benda lain.

Pluto memang memenuhi dua syarat awal. Namun, Pluto gagal pada syarat ketiga karena wilayah orbitnya masih berbagi ruang dengan Sabuk Kuiper dan sejumlah planet kerdil lain di kawasan yang sama.

Mengapa dukungan Isaacman dianggap penting

Pernyataan Isaacman mendapat sorotan bukan hanya karena isi pandangannya, tetapi juga karena posisi yang akan dipegangnya di NASA. Saat tokoh yang berpeluang memimpin lembaga antariksa terbesar di Amerika Serikat ikut menyuarakan dukungan, perdebatan tentang Pluto kembali memperoleh panggung di level kebijakan.

Isaacman juga memberi sinyal bahwa isu ini tidak berhenti pada nostalgia. Ia menyebut pihaknya tengah menyiapkan karya ilmiah yang akan diajukan ke komunitas sains yang lebih luas, sehingga dorongan untuk menghidupkan lagi status Pluto tampak dibawa ke jalur akademik.

Bagi pendukung Pluto, sikap seperti itu penting karena menunjukkan bahwa pembahasan soal status planet tidak hanya datang dari penggemar astronomi. Wacana tersebut kini juga mendapat dukungan dari figur yang dekat dengan pengambilan keputusan di bidang antariksa.

Sisi sejarah yang ikut dibawa ke dalam perdebatan

Dalam penjelasannya, Isaacman juga menyinggung aspek sejarah Pluto. Ia menilai upaya untuk mengembalikan status Pluto layak menjadi bentuk penghargaan yang pantas bagi Clyde Tombaugh, astronom yang menemukan Pluto lewat gambar dari Lowell Observatory di Arizona pada 1930-an.

Nama Tombaugh memang lekat dengan kisah Pluto sejak lama. Karena itu, bagi sebagian pihak, pembicaraan soal status Pluto bukan sekadar soal klasifikasi ilmiah, tetapi juga soal bagaimana sejarah penemuan tersebut dihormati.

Alasan perdebatan ini belum selesai

Pendukung Pluto menilai standar IAU terlalu ketat dan tidak selalu adil. Mereka kerap menunjuk contoh keberadaan asteroid di sekitar orbit Bumi dan Jupiter untuk menunjukkan bahwa ukuran “membersihkan orbit” tidak sepenuhnya meyakinkan sebagai penentu tunggal sebuah planet.

Namun, di sisi lain, definisi IAU tetap dipandang penting karena memberi batas yang konsisten dalam astronomi. Tanpa patokan yang jelas, garis pemisah antara planet dan planet kerdil bisa menjadi kabur dan membuka ruang tafsir yang berbeda di kalangan ilmuwan.

Itulah sebabnya Pluto tetap menjadi objek yang punya daya tarik ilmiah sekaligus emosional. Meski status resminya berubah, namanya masih sangat kuat di ingatan publik sebagai planet kesembilan yang pernah diajarkan di banyak buku pelajaran.

Siapa yang memegang keputusan akhir

Walau ada dukungan dari dalam NASA, badan antariksa Amerika Serikat itu bukan pihak yang berwenang menentukan status resmi Pluto. Otoritas internasional untuk menetapkan definisi dan nama objek langit tetap berada di tangan IAU.

Karena itu, jika Pluto ingin kembali diakui sebagai planet, para pendukungnya harus meyakinkan komunitas astronom internasional. Proses tersebut tidak sederhana karena menyangkut definisi dasar yang dipakai dalam astronomi modern.

Dorongan dari Isaacman menunjukkan bahwa debat soal Pluto belum benar-benar padam. Di satu sisi ada keinginan untuk mengembalikan nama lama Pluto, sementara di sisi lain masih ada standar ilmiah resmi yang dipertahankan IAU sebagai acuan dunia astronomi.

Source: www.cnbcindonesia.com

Baca Juga

Back to top button