Stabilitas pasokan gas menjadi penopang penting bagi Petrokimia Gresik dalam menjaga kelancaran produksi pupuk. Dengan kepastian suplai hingga 2035, perusahaan mendapat ruang yang lebih aman untuk mempertahankan operasi di tengah situasi energi global yang tidak menentu.
Langkah ini juga memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara industri energi dan kebutuhan pupuk nasional. Bagi Petrokimia Gresik, keamanan bahan baku bukan hanya soal operasional pabrik, tetapi juga bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan.
Penguatan suplai gas dilakukan melalui kerja sama dengan dua pemasok energi. Petrokimia Gresik menggandeng Husky-CNOOC Madura Limited atau HCML dari Lapangan MDA-MBH di Selat Madura, serta PC Ketapang II Ltd dari Wilayah Kerja Ketapang di Perairan Utara Pulau Madura.
Dari dua kerja sama itu, pasokan gas diperkirakan bertambah sekitar 30–35 MMSCFD. Tambahan volume tersebut disiapkan untuk mendukung kebutuhan operasi jangka panjang perusahaan.
Skema dengan HCML dituangkan melalui Perjanjian Jual Beli Gas atau PJBG. Sementara itu, kerja sama dengan PC Ketapang II Ltd dimulai lewat penandatanganan Head of Agreement atau HoA sebagai dasar rencana jual beli gas jangka panjang.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menegaskan bahwa kepastian energi menjadi faktor penting bagi keberlanjutan industri pupuk nasional. Ia menilai sinergi antara sektor energi dan industri pupuk perlu terus diperkuat agar produktivitas pertanian tetap terjaga.
“Gas bumi merupakan salah satu bahan baku utama dalam proses produksi pupuk. Oleh karena itu, kepastian pasokan gas dan penguatan kolaborasi dengan para pemasok energi merupakan bagian penting dari komitmen perusahaan untuk menjaga keberlanjutan operasional serta mendukung produktivitas sektor pertanian nasional,” ujar Daconi.
Bagi perusahaan, kerja sama tersebut tidak berdiri hanya sebagai pengadaan bahan baku. Petrokimia Gresik memandangnya sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan industri nasional di tengah dinamika global yang terus berubah.
Kepastian pasokan energi dinilai membantu perusahaan menjaga produksi tetap stabil. Kondisi itu juga penting agar peran Petrokimia Gresik dalam memenuhi kebutuhan pupuk nasional tidak terganggu.
Daconi menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor dibutuhkan untuk menjaga stabilitas produksi pupuk nasional. Stabilitas itu, menurut dia, berkaitan langsung dengan upaya memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
“Petrokimia Gresik berkomitmen terus membangun kemitraan strategis yang memberikan manfaat jangka panjang bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan Indonesia,” kata dia.
Penandatanganan PJBG dilakukan oleh Daconi Khotob bersama perwakilan HCML, Wahyudin Sunarya. Adapun HoA dengan PC Ketapang II Ltd ditandatangani bersama Presiden Direktur PC Ketapang II Ltd, Yuzaini Md Yusof.
Dengan penguatan pasokan dari dua sumber tersebut, Petrokimia Gresik menempatkan keamanan energi sebagai salah satu faktor utama keberlanjutan produksinya hingga 2035. Langkah ini sekaligus mempertegas bahwa ketenangan produksi pupuk sangat bergantung pada kepastian suplai gas yang terjaga.
Source: www.suara.com