Di tengah naiknya sorotan terhadap penyaluran BBM subsidi, penggunaan Pertalite oleh mobil mewah kembali memancing perdebatan. Bukan hanya soal tepat sasaran atau tidak, tetapi juga soal apakah bahan bakar itu memang cocok untuk mesin kendaraan modern yang umumnya punya kompresi tinggi.
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena selisih harga memang bisa terasa menguntungkan di awal, namun keputusan itu belum tentu aman untuk kendaraan. Pada mobil kelas atas, pilihan BBM yang tidak sesuai spesifikasi pabrikan justru dapat menimbulkan biaya perawatan yang jauh lebih besar di kemudian hari.
Masalah Subsidi dan Kecocokan Mesin
Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai, penggunaan Pertalite oleh mobil mewah memperlihatkan dua persoalan sekaligus. Di satu sisi, ada potensi subsidi dinikmati kelompok yang sebenarnya tidak menjadi sasaran.
Di sisi lain, bahan bakar beroktan lebih rendah dinilai tidak ideal untuk mobil modern dengan kompresi mesin tinggi. Karena itu, isu Pertalite tidak berhenti pada urusan distribusi, tetapi juga menyentuh aspek teknis kendaraan.
Agus juga menyoroti bahwa sebagian orang masih mengisi mobil seperti Toyota Alphard atau Voxy dengan Pertalite RON 90 tanpa berpikir panjang. Menurut dia, kebiasaan itu kurang sejalan dengan kebutuhan mesin mobil mahal.
Risiko Hemat Sesaat
Pemakaian BBM yang tidak sesuai spesifikasi dapat membawa dampak buruk dalam jangka panjang. Risiko yang disebut antara lain kerusakan komponen mesin, munculnya gejala ngelitik atau detonasi, serta penurunan performa kendaraan.
Karena itu, penghematan dari selisih harga BBM dinilai hanya terasa sesaat. Agus menilai, upaya berhemat seperti itu tidak sebanding dengan potensi biaya perawatan yang harus ditanggung pemilik mobil.
Pandangan itu menempatkan pilihan BBM sebagai keputusan teknis, bukan semata urusan harga di pompa. Mobil dengan teknologi mesin modern memang membutuhkan bahan bakar yang sesuai agar kinerjanya tetap terjaga.
Wacana Pembatasan yang Belum Tuntas
Di tengah perdebatan ini, pembatasan Pertalite sempat menjadi pembahasan setelah muncul kabar bahwa kendaraan roda empat dengan kapasitas mesin tertentu akan dibatasi mengonsumsi BBM RON 90. Salah satu kriteria yang ikut mengemuka adalah larangan bagi mobil bermesin di atas 1.400 cc.
Kabar tersebut sudah dibantah oleh Pertamina, tetapi Agus menilai skema semacam itu bukan hal yang mustahil diterapkan. Ia berpandangan, karena Pertalite masih disubsidi, mobil dengan mesin di atas 1.400 cc pada akhirnya bisa saja dilarang menggunakannya.
Pandangan itu memperlihatkan bahwa isu pembatasan belum benar-benar selesai. Selama Pertalite masih berada dalam skema subsidi, pertanyaan tentang siapa yang berhak mengaksesnya akan tetap muncul.
Pengawasan di SPBU Masih Punya Celah
Untuk mengawasi penyaluran BBM bersubsidi, sistem digital seperti MyPertamina sudah disiapkan di SPBU. Mekanisme itu ditujukan sebagai alat pencatatan dalam distribusi BBM subsidi yang dikonsumsi masyarakat.
Namun, Agus menilai implementasinya di lapangan masih menyisakan tantangan besar. Ia menyebut perencanaan pengawasan memang mengarah ke penggunaan MyPertamina, tetapi sistem tersebut belum tentu akurat dan tetap memiliki celah untuk dimainkan.
Karena itu, pembatasan di atas kertas belum tentu berjalan efektif bila verifikasi di lapangan belum presisi. Fenomena mobil mewah yang masih bisa mengakses Pertalite pun menjadi contoh bahwa ruang pengawasan belum sepenuhnya tertutup.
Imbauan untuk Kendaraan Mewah
Dari sisi penyaluran, Pertamina Patra Niaga menjelaskan bahwa QR Code dipakai untuk mendata distribusi BBM bersubsidi. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun juga mengimbau masyarakat mampu agar menggunakan BBM non-subsidi.
Ia menegaskan bahwa kendaraan mewah pada umumnya memiliki spesifikasi pabrikan yang menyarankan penggunaan BBM dengan RON lebih tinggi. Karena itu, kendaraan mewah sebaiknya memakai BBM yang sesuai dengan kebutuhan mesinnya.
Meski begitu, Pertamina belum menyebut adanya larangan resmi bagi pemilik mobil mewah untuk mengisi Pertalite. Posisi yang disampaikan sejauh ini masih berupa imbauan, sementara penegasan lain tetap sama: BBM subsidi diperuntukkan bagi konsumen yang berhak menerimanya.
Selama belum ada aturan resmi yang benar-benar diterapkan, perdebatan soal mobil mewah, akurasi pengawasan, dan ketepatan sasaran subsidi masih akan terus berlangsung. Di lapangan, pertanyaan yang sama juga belum berubah, yakni apakah Pertalite dipakai oleh pihak yang tepat dan apakah kendaraan yang menggunakannya sudah sesuai dengan kebutuhan mesinnya.
Source: otomotif.kompas.com




