Persita Tangerang masuk ke laga di Gelora Kie Raha dengan situasi yang jauh dari ideal. Bukan hanya membawa beban kekalahan 0-3 dari Persijap Jepara, mereka juga harus bergerak dengan lini depan yang tidak lengkap.
Kondisi itu membuat misi meraih poin di dua pertandingan tersisa Super League 2025/2026 terasa lebih berat. Di saat persaingan sudah memasuki fase akhir musim, Pendekar Cisadane justru kehilangan banyak amunisi penting di area yang paling dibutuhkan untuk mencetak gol.
Masalah terbesar Persita datang dari absennya Eber Bessa dan Matheus Alves yang masih dalam pemulihan cedera. Daftar pemain yang tak bisa diturunkan bertambah panjang karena Javlon Guseynov harus menjalani hukuman akibat akumulasi kartu merah, sementara Hokky Caraka juga tidak tersedia.
Pelatih Carlos Pena pun harus menyusun ulang opsi yang ada dengan ruang gerak yang terbatas. Ia menegaskan timnya ingin segera menyingkirkan hasil buruk sebelumnya dan memaksimalkan dua laga sisa untuk mengumpulkan poin sebanyak mungkin.
“Hal penting adalah pertandingan malam ini bukan persiapan. Kami ingin melupakan kekalahan terakhir di kandang dan fokus mendapatkan sebanyak mungkin poin di dua laga sisa,” ujar Pena.
Serangan Persita ikut terdampak
Pena tidak menutup mata terhadap penurunan efektivitas timnya di depan gawang. Menurutnya, situasi tersebut tidak lepas dari absennya beberapa pemain depan yang membuat variasi serangan menjadi lebih sempit.
Ia menyebut staf pelatih sudah mencoba banyak opsi untuk memperbaiki keadaan. Namun, dalam laga terakhir Persita memang gagal mencetak gol, dan itu menjadi catatan penting untuk dibawa ke masa depan.
“Sebagai pelatih dan staf, kami sudah mencoba banyak opsi untuk memperbaiki situasi ini. Memang dalam pertandingan terakhir kami tidak mencetak gol, tetapi ini menjadi pelajaran penting untuk masa depan,” ucap Pena.
Ia juga menilai penurunan performa itu baru terasa dalam dua bulan terakhir. Meski begitu, Pena tetap melihat ada sisi positif dari perjalanan Persita sepanjang musim yang sudah mereka bangun.
Ujian di tengah lawan yang lebih stabil
Laga di Ternate juga datang dengan konteks klasemen yang tidak menguntungkan bagi Persita. Mereka berada di posisi ke-9 dengan 44 poin, sedangkan Malut United menempati peringkat ke-6 dengan 52 poin.
Dari pertemuan pertama musim ini, kedua tim pernah bermain imbang 0-0. Hasil itu menunjukkan duel ini memang cenderung ketat, meski kondisi Persita saat ini berbeda karena datang tanpa beberapa pemain inti.
Situasi tersebut membuat tantangan di Gelora Kie Raha terasa lebih besar. Malut United punya modal yang lebih baik, sementara Persita harus mencari cara agar tetap kompetitif di tengah kondisi skuad yang terbatas.
Bagi Persita, pertandingan ini bukan sekadar soal angka di klasemen. Laga tersebut juga menjadi ukuran apakah mereka mampu tetap bersaing ketika kekuatan lini serang tidak berada dalam bentuk terbaiknya.
Dengan dua laga tersisa, setiap poin memiliki arti besar bagi Persita. Carlos Pena kini dituntut menemukan solusi cepat agar timnya bisa menutup musim dengan hasil yang lebih baik.
Source: www.beritasatu.com