Di tengah melemahnya kondisi global, Bank Indonesia masih melihat ruang yang cukup bagi ekonomi Indonesia untuk tetap bergerak. Penopang utamanya bukan berasal dari luar, melainkan dari permintaan domestik yang masih kuat, terutama konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi yang tetap menunjukkan arah positif.
Salah satu dorongan yang paling terasa datang dari momentum Idulfitri 1447 H. Pada periode itu, daya beli masyarakat tetap terjaga dan keyakinan pelaku ekonomi masih solid, sehingga aktivitas belanja ikut menguat dan membantu menjaga pergerakan ekonomi nasional.
Belanja pemerintah ikut menahan pelemahan
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai belanja pemerintah memberi dampak langsung pada perekonomian. Penyaluran tunjangan hari raya atau THR, kenaikan belanja sosial, insentif, hingga transfer ke daerah dinilai mampu menjaga peredaran uang di masyarakat tetap hidup saat ekonomi global melambat.
Menurut Perry, rangkaian kebijakan tersebut membantu menjaga momentum pertumbuhan di tingkat domestik. Efeknya tidak hanya terasa pada konsumsi rumah tangga, tetapi juga pada aktivitas di berbagai sektor yang bergantung pada perputaran belanja masyarakat dan pemerintah.
Bank Indonesia memandang dorongan fiskal seperti ini penting untuk menghindari perlambatan yang lebih dalam. Ketika belanja pemerintah meningkat, konsumsi dan aktivitas pelaku usaha ikut memperoleh penopang tambahan di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.
Konsumsi rumah tangga masih jadi tumpuan
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penyangga utama ekonomi Indonesia. BI mencatat ketahanannya masih terjaga meski gejolak global terus terasa, dengan dukungan pendapatan masyarakat yang relatif stabil dan aktivitas belanja yang meningkat pada momen hari besar keagamaan nasional.
Keyakinan pelaku ekonomi juga membantu menjaga ritme konsumsi agar tidak melemah. Kondisi ini menunjukkan bahwa rumah tangga masih memegang peran besar dalam menjaga laju ekonomi ketika sumber pertumbuhan dari luar negeri sedang tidak kuat.
Sejumlah indikator yang dipantau BI turut mengarah pada penguatan pada triwulan I 2026. Sinyal ini memperkuat pandangan bahwa konsumsi masyarakat belum kehilangan tenaga dan masih mampu menjadi motor penggerak utama.
Investasi bangunan tetap memberi sinyal positif
Selain konsumsi dan belanja pemerintah, investasi juga masih berada di jalur yang mendukung pertumbuhan. BI menyoroti sektor bangunan yang tetap menunjukkan kinerja positif seiring akselerasi berbagai program prioritas pemerintah.
Perry menyebut percepatan program prioritas itu ikut menjaga aktivitas investasi tetap bergerak. Dalam situasi global yang melambat, investasi domestik dipandang sebagai sumber pertumbuhan yang masih bisa diandalkan untuk menopang ekonomi nasional.
Kinerja positif di sektor ini juga memberi gambaran bahwa dunia usaha belum kehilangan minat terhadap pasar dalam negeri. Selama program prioritas terus berjalan, aktivitas pembangunan dan sektor-sektor terkait berpeluang tetap menjaga denyut ekonomi.
BI dorong sinergi kebijakan agar sumber domestik lebih kuat
Ke depan, BI menilai penguatan kebijakan pemerintah dan bank sentral perlu terus dijaga untuk merespons perlambatan ekonomi global. Tujuannya adalah memitigasi dampak eksternal sekaligus mengoptimalkan sumber pertumbuhan dari dalam negeri.
Perry menekankan pentingnya program prioritas pemerintah yang menyerap tenaga kerja, meningkatkan permintaan domestik, dan menjaga ketahanan fiskal. Dalam kerangka itu, BI berkomitmen menjaga stabilitas sambil tetap mendorong pertumbuhan.
Upaya tersebut akan diperkuat melalui sinergi kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran bersama pemerintah. Dengan fondasi konsumsi rumah tangga yang masih kuat, belanja pemerintah yang terdorong THR dan belanja sosial, serta investasi domestik yang tetap positif, BI memprakirakan perekonomian Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9%–5,7%.
Source: www.beritasatu.com