Ketika microwave kini hampir selalu ada di dapur rumah tangga Amerika Serikat, sedikit orang mengingat bahwa perangkat itu lahir dari rangkaian kebetulan. Penemunya, Percy Spencer, justru semula bekerja di jalur teknologi militer, bukan di dapur, dan rasa ingin tahunya mengubah benda industri menjadi alat rumah tangga yang kelak sangat umum.
Spencer bukan sosok dengan perjalanan pendidikan yang mulus. Ia tumbuh dengan pendidikan formal yang terbatas karena kondisi keluarga yang sulit, lalu memilih belajar sendiri untuk mengejar ketertarikannya pada teknologi nirkabel yang mulai berkembang pada awal abad ke-20.
Ia mendaftar ke United States Navy pada 1912 dengan tujuan menjadi operator radio. Masa dinasnya tidak sampai dua tahun, tetapi ia memanfaatkannya untuk terus belajar, termasuk saat berjaga malam sambil membaca buku teks secara otodidak.
Gangguan telinga kronis akhirnya membuat Spencer meninggalkan Angkatan Laut. Meski begitu, kebiasaan belajarnya tidak berhenti, dan kemudian ia berkembang menjadi penemu produktif dengan lebih dari 100 paten.
Dari radar perang ke eksperimen tak terduga
Setelah Perang Dunia I, Spencer menerima tawaran kerja dari perusahaan yang kemudian menjadi Raytheon Manufacturing Company. Perannya semakin penting saat Perang Dunia II berlangsung, ketika Inggris mencari cara cepat untuk memproduksi sistem radar guna mendeteksi pesawat dan kapal selam Jerman.
Raytheon kemudian dikontrak untuk membantu menyelesaikan persoalan itu. Bersama koleganya, Spencer membantu merancang metode produksi cavity magnetron dalam jumlah besar, komponen yang ditemukan fisikawan Inggris John Randall dan Harry Boot pada 1940.
Cavity magnetron menjadi elemen utama radar pada masa itu, dan upaya produksi massal membuat keluaran komponen itu naik hingga sekitar 2.600 unit per hari. Atas kontribusinya, Angkatan Laut memberinya Distinguished Public Service Award, yang menjadi kehormatan sipil tertinggi dari dinas tersebut di luar Departemen Angkatan Laut.
Namun, penemuan yang paling dikenal dari Spencer tidak lahir dari laboratorium formal yang direncanakan. Semuanya berawal dari kejadian sederhana ketika ia berdiri di dekat magnetron dan mendapati cokelat batang yang dibawanya meleleh.
Percobaan yang mengubah arah penemuan
Rasa ingin tahu Spencer langsung bekerja. Ia meminta seseorang membawa popcorn mentah, lalu menaruhnya di depan magnetron dan melihat biji-bijian itu meletus.
Percobaan berikutnya bahkan lebih mengejutkan. Spencer membuat lubang pada ketel, memasukkan telur ke dalamnya, dan gelombang mikro dari magnetron membuat cangkangnya pecah hebat sampai kuning telur menyembur ke wajah salah satu rekan kerja yang berdiri di depan lubang.
Dari rangkaian percobaan itu, lahirlah paten pertama untuk oven microwave pada 1945. Patent Office Amerika Serikat kemudian menyetujui paten tersebut pada 24 Januari 1950, dan perangkat itu awalnya dikenal sebagai Radarange.
Tidak langsung menjadi barang dapur
Meski kini identik dengan kepraktisan, Radarange pada awalnya jauh dari kata sederhana. Harganya mencapai ribuan dolar, sehingga berada di luar jangkauan sebagian besar keluarga di Amerika Serikat.
Ukuran alat itu juga besar sekali. Tingginya sekitar 6 kaki dan beratnya hampir 750 pound, sehingga membutuhkan ruang yang sangat luas di rumah.
Ada pula kekhawatiran mengenai paparan radiasi. Kekhawatiran itu bahkan begitu kuat sampai seorang ilmuwan NASA dilaporkan menawarkan diri duduk di atas Radarange selama setahun untuk membuktikan alat tersebut aman digunakan di rumah.
Seiring waktu, alat itu dibuat lebih kecil dan lebih terjangkau. Kekhawatiran soal keamanan gelombang mikro juga akhirnya teratasi, dan Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat memperkirakan lebih dari 90% rumah tangga kini memiliki microwave.
Spencer sendiri tidak sempat menikmati sepenuhnya perubahan besar itu. Ia meninggal pada 1970 dalam usia 76 tahun, sementara Raytheon hanya memberikan bonus sebesar $2 untuk temuannya.