Investasi AI Tak Surut Di Indonesia, Cloudera Melihat Pelanggan Terus Bertambah

Peta pertumbuhan Cloudera di Indonesia tampaknya masih terbuka lebar, terutama karena kebutuhan perusahaan terhadap AI Enterprise belum menunjukkan tanda melambat. Di tengah ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, perusahaan ini melihat pelanggan di Tanah Air tetap menjadikan teknologi sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

Dorongan terbesar datang dari sektor yang memang paling dekat dengan kebutuhan pengelolaan data, yakni keuangan, pemerintahan, dan manufaktur. Cloudera menilai ketiga sektor itu masih menjadi lahan penting untuk memperluas adopsi solusi data dan AI di Indonesia.

Senior Vice President APAC Cloudera, Remus Lim, mengatakan minat pelanggan untuk tetap berinvestasi di teknologi masih terjaga. Ia menegaskan bahwa tantangan yang paling terasa saat ini bukan harga atau ketersediaan, melainkan soal memori. “Meski di tengah kondisi perekonomian seperti saat ini, pelanggan tetap melakukan investasi di teknologi. Satu-satunya tantangan saat ini perihal memori, bukan harga atau ketersediaan,” ujar Remus di sela acara EVOLVE Forum di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Pernyataan itu memberi gambaran bahwa kebutuhan terhadap platform data dan AI masih berjalan, bahkan ketika banyak pelaku industri menahan belanja di area lain. Bagi Cloudera, keberlanjutan investasi tersebut menunjukkan bahwa efisiensi operasional masih menjadi alasan kuat bagi perusahaan untuk terus melangkah.

Fokus bisnis bergeser ke sektor yang paling siap

Pada tahun ini, Cloudera memusatkan perhatian terlebih dahulu pada sektor keuangan. Setelah itu, perusahaan membidik pemerintahan dan manufaktur sebagai area berikutnya yang dinilai punya kebutuhan besar terhadap pengelolaan data.

Manufaktur menjadi salah satu sektor yang paling menarik perhatian perusahaan. Cloudera melihat ruang pertumbuhan yang besar untuk penerapan AI Enterprise yang dapat membantu efisiensi rantai pasok dan optimalisasi proses produksi secara digital.

Kebutuhan itu sejalan dengan dorongan industri untuk mengambil keputusan lebih cepat berbasis data. Dalam situasi seperti ini, platform data yang mampu mendukung analitik dan AI menjadi semakin relevan bagi perusahaan besar yang ingin menjaga daya saing.

Regulasi ketat menuntut fondasi data yang kuat

Country Manager Indonesia Cloudera, Sherlie Karnidta, menilai penerapan AI di sektor yang diawasi ketat seperti perbankan memiliki tantangan yang berbeda. Menurut dia, keberhasilan implementasi tidak cukup hanya bertumpu pada model AI yang dipakai.

“Di sektor yang sangat diawasi ketat regulasi seperti perbankan, skalabilitas AI yang berhasil tidak hanya bergantung pada penerapan model semata, hal tersebut pada dasarnya membutuhkan fondasi data yang kuat dan tata kelola yang ketat di seluruh infrastruktur hybrid,” kata Sherlie.

Ia juga menekankan pentingnya mempercepat inisiatif AI tanpa mengabaikan kepatuhan terhadap regulasi lokal dan integritas data pelanggan. Karena itu, modernisasi arsitektur data menjadi bagian penting bagi bisnis yang ingin menjaga laju transformasi digital.

Hybrid multi-cloud dan analitik real-time jadi kebutuhan utama

Cloudera memandang analitik real-time dalam lingkungan hybrid multi-cloud sebagai salah satu kebutuhan utama korporasi saat ini. Pendekatan ini dinilai penting untuk mendukung keberlanjutan bisnis, terutama di sektor keuangan dan manufaktur yang bergantung pada kecepatan pemrosesan data.

Bagi perusahaan yang mengelola volume data besar, kemampuan membaca data secara cepat dan terintegrasi dapat membantu pengambilan keputusan yang lebih akurat. Di saat yang sama, tata kelola data tetap harus dijaga agar adopsi AI tidak berbenturan dengan standar kepatuhan yang berlaku.

Indonesia sendiri memiliki posisi yang penting dalam portofolio bisnis Cloudera di kawasan Asia. Remus menyebut pasar Indonesia sebagai salah satu market terbaik sekaligus jangkar pertumbuhan penting di Asia Tenggara dan Asia yang lebih luas.

Optimisme itu juga ditopang oleh kinerja global perusahaan. Cloudera mencatat Annual Recurring Revenue atau ARR 2025 melampaui US$1 miliar atau setara Rp16,2 triliun, dengan pertumbuhan yang ditopang oleh adopsi platform data hibrida dan layanan AI oleh korporasi besar di 19 negara operasional.

Aktivitas bisnis tersebut turut didukung oleh pusat regional di Asia Pasifik, termasuk Singapura, Australia, India, Jepang, dan Korea Selatan. Dengan fondasi seperti itu, Cloudera tampak menyiapkan ekspansi yang bertumpu pada kebutuhan nyata industri di Indonesia, terutama di sektor yang menuntut efisiensi tinggi dan pengawasan regulasi yang ketat.

Source: teknologi.bisnis.com
Exit mobile version