Perhatian NASA terhadap Artemis III kini tertuju pada satu hal yang paling menentukan: kesiapan rangkaian pesawat dan roket untuk membawa manusia kembali ke Bulan. Misi ini tidak hanya dipandang sebagai kelanjutan setelah Artemis II, tetapi juga sebagai ujian besar atas kemampuan seluruh sistem yang harus bekerja selaras saat peluncuran hingga operasi di sekitar Bulan.
Di tengah rangkaian persiapan itu, Space Launch System atau SLS muncul sebagai komponen paling vital. Roket ini disebut NASA sebagai satu-satunya kendaraan peluncur yang mampu mengirim kapsul Orion, astronaut, dan logistik ke Bulan dalam satu kali terbang, dengan daya dorong lebih dari 2 juta pon.
SLS menjadi poros utama misi
NASA menempatkan perakitan SLS sebagai prioritas yang paling mendesak dalam tahap persiapan Artemis III. Fokusnya ada pada pembuatan dan penyatuan bagian inti roket agar seluruh sistem siap menjalani integrasi akhir di Kennedy Space Center.
Komponen inti SLS, termasuk tangki hidrogen cair dan tangki oksigen cair, dibuat di Michoud Assembly Facility. Setelah itu, bagian-bagian tersebut dikirim menggunakan kapal Pegasus menuju Kennedy Space Center untuk dirakit bersama komponen lain sebelum masuk ke proses perakitan vertikal.
Empat mesin utama RS-25 juga masuk dalam daftar bagian yang sangat krusial. Mesin-mesin itu dijadwalkan dikirim dari Stennis Space Center untuk dipasang pada inti roket, sehingga setiap tahap penyusunan harus berjalan presisi tanpa celah kesalahan.
NASA menilai ketelitian pada tahap ini sangat penting karena Artemis III tidak memberi ruang bagi kegagalan kecil. Jika satu bagian tidak terpasang tepat, maka fungsi SLS sebagai kendaraan utama menuju orbit Bulan bisa terganggu.
Misi yang lebih rumit dari sekadar terbang ke Bulan
Artemis III dirancang bukan hanya untuk mencapai Bulan, tetapi juga untuk menguji rangkaian prosedur yang diperlukan agar manusia bisa benar-benar mendarat di permukaannya. Karena itu, misi ini diposisikan sebagai verifikasi sistem yang jauh lebih kompleks daripada sekadar peluncuran biasa.
Dalam skenario misi, kapsul Orion akan membawa astronaut ke orbit Bumi lebih dulu. Setelah itu, Orion akan melakukan rendezvous dan docking dengan wahana komersial yang berfungsi sebagai pendarat Bulan.
Tahap pertemuan dan penyambungan dua wahana tersebut menjadi salah satu bagian paling menentukan. Keberhasilan proses ini akan memengaruhi kelancaran tahapan berikutnya sebelum pendaratan dilakukan.
Dengan susunan seperti itu, Artemis III menjadi ajang pembuktian bahwa NASA dan mitra industrinya siap menjalankan operasi yang lebih rumit. Setiap langkah harus berlangsung sesuai rancangan agar manusia bisa kembali menginjak permukaan Bulan dengan aman.
Kerja sama industri yang saling terhubung
Di balik misi ini, NASA mengandalkan kolaborasi dengan sejumlah mitra industri yang memegang peran berbeda. Boeing menjadi kontraktor utama untuk tahap inti roket, sedangkan L3Harris Technologies bertanggung jawab atas mesin RS-25.
Pembagian tugas ini penting karena Artemis III bergantung pada sinkronisasi banyak sistem sekaligus. Roket, kapsul Orion, dan wahana pendarat harus berfungsi sebagai satu rangkaian yang saling mendukung agar misi berjalan mulus.
Persiapan yang berlangsung sekarang menunjukkan bahwa Artemis III berada di jalur teknis yang sangat kompleks. Mulai dari komponen inti roket hingga sistem pendarat, semua harus disiapkan dengan tingkat presisi tinggi.
Bagi NASA, misi ini bukan sekadar langkah lanjutan dalam program eksplorasi Bulan. Artemis III juga menjadi pijakan strategis untuk memperluas kehadiran manusia di luar orbit Bumi dan membuka jalan bagi perjalanan yang lebih jauh ke Mars.
Source: www.idntimes.com




