Bagi banyak kreator, masalah terbesar kini bukan lagi sekadar jumlah pengikut, melainkan apakah angka itu benar-benar bisa diubah menjadi pendapatan yang stabil. Di Amerika, kondisi itu makin terasa saat platform memperketat pembagian uang dan brand menjadi lebih selektif dalam memilih kerja sama.
Situasi ini membuat profesi influencer tampak jauh lebih rapuh daripada kesan gemerlap yang sering muncul di layar. Banyak akun masih besar, tetapi penghasilan mereka tidak otomatis mengikuti pertumbuhan audiens.
Audiens besar tidak selalu berarti penghasilan besar
Contoh paling jelas terlihat dari Clint Brantley. Kreator full-time itu sudah tiga tahun membuat konten di TikTok, YouTube, dan Twitch, dengan fokus pada tren game mobile Fortnite.
Brantley memiliki lebih dari 400.000 pengikut dan rata-rata tayangan di atas 100.000. Namun, penghasilannya tahun lalu tetap lebih kecil dari gaji median tahunan pekerja full-time di AS pada 2023 yang mencapai US$ 58.084 atau sekitar Rp 950 jutaan.
Kondisi itu membuat Brantley belum berani menyewa apartemen karena pemasukan yang tidak tetap. Kreator berusia 29 tahun itu masih tinggal bersama ibunya di Washington dan menyebut dirinya “sangat rentan”.
Pasar kreator semakin padat
Masalah penghasilan ini tidak berdiri sendiri. Jumlah orang yang membuat konten dan mencoba mencari nafkah dari media sosial terus bertambah, sehingga persaingan untuk mendapatkan uang juga makin ketat.
Goldman Sachs pada 2023 mencatat ratusan juta orang di dunia mengunggah konten di media sosial, dan sekitar 50 juta di antaranya menghasilkan uang dari sana. Lembaga itu juga memperkirakan jumlah kreator berpendapatan akan tumbuh 10% hingga 20% per tahun sampai 2028.
Di saat yang sama, NeoReach mencatat 48% influencer memperoleh kurang dari US$ 15.000 atau Rp 245 jutaan pada tahun lalu. Hanya 14% yang bisa meraih lebih dari US$ 100.000 atau Rp 1,6 miliar.
Pembayaran platform ikut menyempit
Sumber pendapatan kreator juga tidak lagi semurah dulu. Platform-platform besar kini memperketat syarat dan membatasi program pembayaran yang sebelumnya sempat lebih longgar.
TikTok pada 2020-2023 pernah memiliki program pendanaan hingga US$ 1 miliar. YouTube lewat Shorts juga sempat memungkinkan kreator mengumpulkan sekitar US$ 100-10.000 per bulan lewat program pendanaan sementara, sementara Instagram Reels pernah memberi penghargaan dalam jumlah yang fluktuatif untuk mendorong lebih banyak orang membuat konten.
Sekarang, kebijakannya jauh lebih ketat. TikTok memperbanyak syarat penghasilan bagi kreator, dengan ketentuan minimal 10.000 pengikut dan 100.000 view minimum dalam sebulan.
YouTube juga menerapkan pembagian uang iklan untuk kreator Shorts dengan syarat minimal 1.000 subscriber dan 10 juta view dalam 90 hari. Dari skema itu, porsi pendapatan iklan yang diberikan mencapai 45%.
Instagram pun menguji program “invitation-only” untuk memberi penghargaan uang kepada kreator yang mengunggah Reels dan foto. Pola ini menunjukkan bahwa akses ke monetisasi kini makin terbatas dan tidak lagi terbuka merata.
Pengikut bertambah, pendapatan justru turun
Sejumlah kreator mengaku situasinya makin sulit meski audiens mereka terus tumbuh. Ben-Hyun, misalnya, pernah memperoleh US$ 200-400 per satu juta view pada Maret lalu, tetapi pendapatannya kemudian menurun walau pengikutnya naik hingga 2,9 juta.
Ia menyebut kini hanya mendapat US$ 120 untuk video yang meraih 10 juta view. Kasus ini menunjukkan bahwa jumlah penonton besar tidak otomatis menghasilkan bayaran yang sebanding jika bergantung pada platform semata.
Danisha Carter juga mengalami hal serupa. Akun TikTok-nya memiliki 1,9 juta pengikut, tetapi pendapatannya dari platform itu hanya total US$ 12.000.
Untuk menambah pemasukan, Carter membuat merchandise dan menghasilkan US$ 5.000 pada tahun lalu. Ia menilai kreator seharusnya dibayar adil sesuai pendapatan yang dihasilkan aplikasi, dengan transparansi dan kebijakan yang konsisten.
Kerja berat, perlindungan minim
Di balik tampilan konten yang ringan, pekerjaan kreator menuntut banyak tenaga dan ketahanan mental. Mereka harus merencanakan konten berhari-hari, memproduksi materi, mengedit, lalu terus berinteraksi dengan penggemar agar tetap relevan.
Analis Emarketer, Jasmine Enberg, menilai pekerjaan ini jauh lebih berat dari yang dibayangkan banyak orang. Ia juga menekankan bahwa kreator yang bisa hidup dari profesi ini biasanya sudah bekerja bertahun-tahun, bukan muncul besar dalam waktu singkat.
Tekanan itu semakin berat karena influencer yang bekerja mandiri tidak menikmati manfaat seperti pekerja kantoran. Mereka tidak mendapat jaminan kesehatan, uang pensiun, maupun bonus tahunan, sementara inflasi dan ketidakpastian ekonomi terus menekan kondisi keuangan mereka.
Ancaman lain datang dari kemungkinan TikTok diblokir di AS pada 2025. Bagi banyak kreator, hilangnya satu kanal distribusi berarti hilangnya salah satu sumber uang yang selama ini menopang penghasilan mereka.
Source: www.cnbcindonesia.com




