Maybank Indonesia memasuki kuartal I/2026 dengan modal dan likuiditas yang tetap kuat, meski pasar keuangan masih bergejolak. Bank ini mencatat CAR sebesar 26,3%, CET1 di 25,2%, serta LDR bank-only 85,5% yang menunjukkan ruang gerak bisnis tetap terjaga.
Di saat yang sama, beban pencadangan justru turun tajam 47,9% menjadi Rp123 miliar. Penurunan ini ikut mengangkat kualitas aset dan menjadi salah satu penopang utama laba sebelum pajak atau PBT yang mencapai Rp397 miliar.
Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan kinerja kuartal pertama masih dipengaruhi tekanan geopolitik global dan volatilitas pasar. Dalam kondisi tersebut, perseroan menyesuaikan ekspektasi dan tetap membidik peluang pertumbuhan di segmen ritel, non-ritel, korporasi, dan Perbankan Syariah.
Tekanan pasar memang masih terasa pada pendapatan non-bunga. Aktivitas trading surat berharga dan valuta asing di Global Markets tertekan, sementara pendapatan fee non-GM ikut menurun meski fee Premier Wealth tumbuh 20,0%.
Akibatnya, pendapatan non-bunga atau NOII terkoreksi 29,6% menjadi Rp402 miliar. Gross Operating Income tercatat Rp2,22 triliun, lebih rendah dari Rp2,35 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, pendapatan bunga bersih atau NII justru naik 2,1% menjadi Rp1,81 triliun. Margin bunga bersih atau NIM juga tetap stabil di level 4,3%, sehingga fondasi pendapatan inti bank masih terjaga.
Beban operasional naik 4,5% seiring aktivitas bisnis yang tetap berjalan. Namun, laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP masih mampu bertahan di Rp523 miliar.
Hasil akhirnya, laba setelah pajak dan kepentingan nonpengendali atau PATAMI mencapai Rp299 miliar. Angka itu memperlihatkan bank masih mampu menjaga profitabilitas di tengah kondisi pasar yang tidak mudah.
Dari sisi penyaluran kredit, segmen Community Financial Services atau CFS menjadi salah satu motor pertumbuhan. Kredit non-ritel CFS tumbuh 7,1% menjadi Rp39,89 triliun, didorong Business Banking yang naik 15,6% dan SME+ yang tumbuh 12,3%.
Kredit ritel CFS juga naik 4,1% berkat pembiayaan otomotif dan kredit konsumer. Secara keseluruhan, kredit CFS tumbuh 5,4% menjadi Rp88,33 triliun, sementara total kredit yang disalurkan tercatat relatif stabil di Rp121,99 triliun hingga Maret 2026.
Dana pihak ketiga ikut menguat dan memberi dukungan pada pendanaan bank. Simpanan nasabah naik 6,1% menjadi Rp118,35 triliun, didorong pertumbuhan giro sebesar 37,5% sehingga rasio CASA naik ke 61,2% dari 53,0% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Total aset Maybank Indonesia juga meningkat 1,2% menjadi Rp192,17 triliun. Di sisi likuiditas, LCR mencapai 146,2% dan NSFR berada di 112,4%, menandakan posisi pendanaan tetap sehat.
Presiden Komisaris Maybank Indonesia Dato’ Sri Khairussaleh Ramli mengatakan bank tetap fokus memperkuat fundamental UKM di tengah volatilitas pasar. Arah itu disebut sejalan dengan strategi pertumbuhan berkelanjutan Maybank Group dan penguatan bisnis inti melalui strategi ROAR30.
Unit syariah juga memberi kontribusi penting saat tekanan pasar masih berlangsung. Total pembiayaan syariah tumbuh 10,4% menjadi Rp32,23 triliun, didorong pembiayaan CFS Syariah dan GB Syariah yang masing-masing naik 10,4% dan 10,3%.
Pembiayaan ritel syariah tumbuh 12,5% terutama dari pembiayaan properti, sedangkan pembiayaan korporasi GB-LLC melonjak 30,2%. Kontribusi unit ini semakin terasa karena total pembiayaan syariah menyumbang 30,2% terhadap total portofolio pembiayaan bank.
Dari sisi pendanaan, dana simpanan perbankan syariah naik 7,5% menjadi Rp35,50 triliun. Rasio CASA syariah pun membaik ke 69,1% dari 57,6%, sementara kualitas aset terjaga dengan NPF gross 2,2% dan NPF net 1,5%.
PPOP perbankan syariah meningkat 20,9% berkat kenaikan pendapatan setelah distribusi bagi hasil dan pertumbuhan fee. Beban pencadangan syariah juga turun 69,8%, sehingga PBT unit ini naik 52,1% menjadi Rp226 miliar.
Di tengah ketidakpastian pasar, perseroan menempatkan penguatan aset, disiplin risiko, dan pertumbuhan di segmen inti sebagai tumpuan utama. Strategi itu terlihat dari perbaikan kualitas aset, penguatan dana murah, serta kontribusi yang makin besar dari bisnis syariah.
Source: finansial.bisnis.com