Tuntutan agar bantuan kemanusiaan ke Gaza tidak dihalangi kembali mengemuka saat sekitar 100 orang menggelar aksi solidaritas di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat. Massa membawa atribut dukungan untuk Palestina dan menyoroti penahanan sembilan WNI oleh Israel ketika mereka menjalankan misi bantuan ke Gaza.
Di lokasi, peserta aksi menyerukan penghentian agresi Israel di Jalur Gaza. Mereka juga menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi para relawan bukan semata soal keselamatan warga negara Indonesia, melainkan juga akses bantuan kemanusiaan yang harus tetap terbuka untuk warga Gaza.
Aksi itu diawali doa bersama untuk keselamatan para relawan yang sempat ditahan otoritas Israel. Setelahnya, suasana berubah menjadi seruan solidaritas yang lebih keras, terutama terkait desakan agar misi kemanusiaan berikutnya tidak lagi dicegah.
Ketua Presidium Aqsa Working Group, M Anshorullah, menekankan bahwa perjuangan untuk Palestina tidak berhenti meski sembilan WNI yang terdiri atas aktivis dan jurnalis telah dibebaskan. Ia menilai isu yang lebih besar masih belum selesai karena Palestina masih belum merdeka dan Masjid Al-Aqsa belum terbebaskan.
Menurut Anshorullah, semangat para aktivis Global Sumud Flotilla dan para jurnalis justru memperkuat dorongan publik untuk terus membela Palestina. Dari pandangannya, pelepasan para relawan tidak menghapus masalah utama yang melatarbelakangi aksi solidaritas itu.
Kesembilan WNI tersebut ikut dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0 yang berlayar membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza. Armada itu dicegat militer Israel di perairan internasional sebelum para relawan dibawa ke wilayah Israel.
Dalam misi itu, tiga jurnalis media nasional juga ikut bergabung bersama para aktivis kemanusiaan. Kementerian Luar Negeri RI kemudian mengecam tindakan tersebut dan menyebut seluruh jalur diplomatik telah ditempuh untuk memastikan perlindungan bagi WNI.
Perkembangan terakhir menyebut seluruh sembilan WNI telah dibebaskan dan tiba di Istanbul, Turki, sebelum dipulangkan ke Indonesia. Pemerintah memastikan kondisi mereka aman, sementara perhatian publik terhadap nasib relawan dan situasi Gaza terus menguat dalam berbagai aksi solidaritas di Tanah Air.
Aksi di depan Kedubes AS memperlihatkan bahwa penahanan relawan dipahami massa sebagai bagian dari hambatan yang lebih luas terhadap penyaluran bantuan kemanusiaan. Bagi peserta aksi, isu itu tetap berkaitan langsung dengan tuntutan agar akses menuju Gaza tidak diputus di tengah konflik yang masih berlangsung.
Source: www.beritasatu.com




