Pemulihan hutan tropis masih berjalan di jalur yang rapuh. Meski kehilangan hutan hujan tropis primer dunia melambat, tekanan dari pembukaan lahan dan kebakaran belum hilang, sehingga kabar baik itu belum bisa dibaca sebagai tanda aman bagi masa depan hutan.
Data World Resources Institute dan University of Maryland menunjukkan kehilangan hutan hujan tropis primer pada tahun lalu mencapai 4,3 juta hektare. Angka itu setara dengan hilangnya sekitar 11 lapangan sepak bola setiap menit, meski secara global turun 36 persen dibanding 2024.
Penurunan itu memberi ruang optimisme, tetapi para peneliti menilai situasinya masih jauh dari stabil. Kebakaran tetap menjadi sumber kerusakan besar, sementara perluasan pertanian dan tekanan kebijakan di sejumlah negara terus mendorong pembukaan hutan.
Brasil dan kebijakan yang mulai memberi hasil
Brasil menjadi salah satu contoh paling jelas dari perubahan arah tersebut. Kehilangan hutan di negara itu, jika area terbakar tidak dihitung, turun 41 persen dibanding 2024 dan menjadi yang terendah dalam catatan.
Elizabeth Goldman, co-director platform Global Forest Watch milik WRI, menyebut penurunan tajam dalam satu tahun sebagai sinyal positif bagi kebijakan publik. Ia menilai perbaikan di Brasil berkaitan dengan langkah lingkungan yang lebih kuat sejak Presiden Luiz Inacio Lula da Silva menjabat pada 2023.
Sejak itu, Brasil kembali menghidupkan rencana aksi antideforestasi dan memperberat sanksi bagi kejahatan lingkungan. Meski begitu, faktor pendorong deforestasi utama belum pergi, terutama ekspansi pertanian yang berkaitan dengan kebun kedelai dan peternakan sapi.
Di sisi lain, sejumlah negara bagian di Amazon juga sudah meloloskan aturan yang melemahkan perlindungan lingkungan. Kondisi ini membuat capaian di lapangan tetap bergantung pada ketegasan kebijakan yang berkelanjutan.
Perbaikan tidak terjadi merata
Kolombia juga mencatat penurunan kehilangan hutan sebesar 17 persen. Menurut para peneliti, itu menjadi tahun kedua terendah sejak 2016 dan didorong oleh kebijakan pemerintah serta kesepakatan yang membatasi pembukaan hutan.
Berbeda dengan itu, Indonesia justru mengalami kenaikan kehilangan hutan sebesar 14 persen. Walau meningkat, angkanya masih jauh di bawah puncak yang terlihat satu dekade lalu.
Malaysia berada dalam posisi yang lebih stabil. Langkah pemerintah disebut membantu menahan laju kehilangan hutan agar tidak naik secepat beberapa negara lain, meski tekanan terhadap kawasan hutan tetap ada.
Di luar tiga negara itu, tekanan hutan tropis masih tinggi di Bolivia, Republik Demokratik Kongo, Kamerun, dan Madagaskar. Kawasan-kawasan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan global belum merata dan belum berlangsung dalam ritme yang sama.
Api makin besar perannya dalam kerusakan hutan
Secara global, kehilangan tutupan pohon memang turun 14 persen. Namun kebakaran mengambil porsi sangat besar dalam total kerusakan, dengan kontribusi 42 persen dari seluruh kehilangan yang tercatat.
Goldman menilai kebakaran kini menjadi ancaman yang makin erat kaitannya dengan krisis iklim. Selama tiga tahun terakhir, ia menyebut kebakaran membakar tutupan pohon lebih dari dua kali lipat dibanding dua dekade lalu.
Para peneliti juga melihat perubahan iklim memperkuat siklus kebakaran alami di wilayah utara dan beriklim sedang. Kanada menjadi contoh ekstrem dengan tahun kebakaran terburuk kedua dalam catatan, ketika 5,3 juta hektare hutan hangus terbakar.
Situasi ini membuat pemulihan hutan tidak hanya berhadapan dengan deforestasi, tetapi juga dengan api yang semakin sulit dipisahkan dari kondisi iklim yang memanas. Dalam banyak kasus, kebakaran tidak lagi datang sebagai gangguan sesekali, melainkan sebagai tekanan yang semakin sering muncul.
Target 2030 masih jauh
Matthew Hansen, direktur GLAD Lab di University of Maryland, menegaskan bahwa kebijakan yang baik memang bisa menghasilkan perbaikan, tetapi hasil itu harus dijaga terus. Ia menilai perubahan iklim dan pembukaan lahan telah memperpendek jeda menuju kebakaran hutan global.
Dalam pandangan para peneliti, hal itu membuat gangguan musiman berubah menjadi keadaan darurat yang nyaris permanen. Karena itu, penurunan kehilangan hutan pada 2025 belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pemulihan sudah berada di jalur aman.
Bahkan dengan perbaikan yang terjadi, kehilangan hutan global masih 70 persen lebih tinggi dari level yang dibutuhkan untuk mencapai target 2030. Target tersebut menuntut penghentian dan pembalikan deforestasi, sementara kebakaran dan ekspansi lahan masih terus membayangi kawasan hutan tropis di banyak negara.