Bagi banyak pekerja muda di Indonesia, AI sudah masuk ke rutinitas kerja, tetapi arah pengembangannya belum sepenuhnya terfasilitasi di tempat kerja. Survei Deloitte 2026 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan adopsi teknologi ini sudah sangat tinggi, namun dukungan pelatihan masih tertinggal dari kecepatan pemakaian.
Di Indonesia, 87% Gen Z dan 88% milenial mengatakan sudah menggunakan AI untuk pekerjaan sehari-hari. Angka itu lebih tinggi dibanding rata-rata global, yang masing-masing berada di 74%, sehingga pekerja muda Indonesia terlihat lebih cepat menerima teknologi ini dalam aktivitas profesional mereka.
Pemakaian AI juga tidak berhenti di tugas yang sifatnya teknis atau operasional. Responden muda di Indonesia memanfaatkannya untuk mengembangkan karier, mencari peluang belajar, meminta saran profesional, dan membantu mengelola stres kerja.
Organization & Transformation Director Deloitte Indonesia Andika Yalasena menilai tenaga kerja muda Indonesia selangkah lebih maju dibanding tren global dalam penguasaan AI. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keunggulan itu dapat melemah jika perusahaan tidak memperkuat kapasitas karyawan lewat pembelajaran yang sistematis.
Pelatihan masih menjadi titik lemah
Di balik tingginya pemakaian AI, hambatan di tempat kerja masih terasa jelas. Gen Z di Indonesia paling banyak menyoroti minimnya kesempatan pelatihan yang efektif, sementara milenial lebih sering menyebut keterbatasan pengetahuan dan pengalaman sebagai kendala utama.
Aturan kepatuhan perusahaan juga ikut membatasi pemanfaatan AI di lingkungan kerja. Karena itu, literasi digital dan kemampuan memakai perangkat otomatisasi berbasis AI menjadi keterampilan yang paling ingin dikembangkan oleh responden.
Andika menilai perusahaan perlu menambah investasi pada pelatihan AI yang terstruktur. Menurut dia, program pembelajaran berkelanjutan penting agar talenta muda tidak tertinggal dan perusahaan tetap bisa menarik serta mempertahankan pekerja unggul.
Makna kerja ikut memengaruhi pilihan mereka
Selain soal teknologi, survei ini juga memperlihatkan bahwa generasi muda Indonesia memberi bobot besar pada makna pekerjaan. Sebanyak 99% Gen Z dan 100% milenial di Indonesia menilai purpose atau makna dalam pekerjaan sebagai faktor penting bagi kepuasan kerja mereka.
Pandangan itu terlihat saat mereka berhadapan dengan pekerjaan yang tidak sejalan dengan nilai pribadi. Sebanyak 44% Gen Z dan 38% milenial mengaku pernah menolak pekerjaan karena tidak sesuai dengan prinsip mereka.
Technology & Transformation Leader Iwan Atmawidjaja mengatakan Gen Z dan milenial Indonesia kini menempatkan integritas perusahaan sebagai pertimbangan penting saat memilih tempat bekerja. Ia menilai makna bekerja bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan ukuran utama dalam rekrutmen dan retensi.
Ingin memimpin, tetapi bukan tujuan utama
Minat terhadap kepemimpinan juga terbilang tinggi di kalangan muda Indonesia. Sebanyak 85% Gen Z dan 81% milenial tertarik menempati posisi pemimpin di masa depan, dan angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata global.
Meski begitu, hanya 3% Gen Z dan 2% milenial yang menjadikan kepemimpinan sebagai tujuan karier utama. Pada Gen Z, target terbesar justru kemandirian finansial sebesar 29%, disusul keinginan menjadi ahli di bidangnya sebesar 25%.
Pada kelompok milenial, kemandirian finansial dan keseimbangan hidup sama-sama berada di posisi teratas dengan porsi 26%. Kekhawatiran terhadap stres, burnout, dan terganggunya work-life balance membuat jabatan pimpinan tidak selalu menjadi pilihan utama.
Tekanan biaya dan isu sosial masih membayangi
Perhatian generasi muda Indonesia juga tidak sepenuhnya sejalan dengan tren global. Jika biaya hidup menjadi kekhawatiran dominan secara global, responden Indonesia justru paling banyak menyoroti korupsi dalam bisnis dan politik.
Sebanyak 34% Gen Z dan 41% milenial di Indonesia menyebut korupsi sebagai isu sosial utama. Perubahan iklim dan pelestarian lingkungan juga termasuk dalam daftar kekhawatiran yang tinggi di kalangan responden.
Tekanan ekonomi tetap terasa kuat pada kelompok usia produktif ini. Sebanyak 54% Gen Z dan 43% milenial mengaku menunda keputusan besar seperti menikah, melanjutkan pendidikan, atau memulai bisnis karena kondisi finansial.
Keterjangkauan harga rumah juga ikut memengaruhi arah hidup mereka. Sebanyak 74% Gen Z dan 64% milenial di Indonesia menyatakan biaya rumah berdampak pada keputusan yang mereka ambil, mulai dari pilihan karier hingga rencana pribadi.
Source: teknologi.bisnis.com




