Langkah PBB memasukkan Rusia dan Israel ke daftar hitam kekerasan seksual dalam konflik menempatkan dua perang besar dunia dalam sorotan yang sama. Keputusan ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual di wilayah perang bukan lagi temuan sampingan, melainkan pola pelanggaran yang terus dicatat dalam pemantauan internasional.
Daftar tahunan itu mencakup 77 pihak, baik pemerintah maupun nonpemerintah, dari sekitar 12 negara yang diduga terlibat atau bertanggung jawab atas kekerasan seksual di zona konflik. Di antara nama baru yang paling menyita perhatian, Rusia masuk untuk pertama kalinya, sementara Israel kembali tercantum bersama Hamas yang memang sudah lebih dulu masuk daftar.
Rusia jadi sorotan baru
Untuk Rusia, PBB menyebut ada 310 kasus kekerasan seksual yang sudah diverifikasi terkait konflik di Rusia dan wilayah Ukraina yang diduduki Rusia. Mayoritas korban dilaporkan laki-laki, dan kasus-kasus itu berkaitan dengan tawanan perang serta tahanan sipil.
PBB juga menyatakan pihak berwenang Rusia konsisten menolak akses bagi penyelidik HAM. Meski begitu, temuan yang terkumpul dinilai cukup kuat untuk memasukkan Rusia ke daftar hitam tahun ini.
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, membantah tuduhan itu secara keras. Ia menyebutnya sebagai kebohongan tanpa dasar dan mengatakan Rusia akan mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB untuk menolak gambaran bahwa negaranya melakukan kekejaman.
Israel kembali tercatat dalam laporan
Israel juga kembali masuk daftar tahun 2025 melalui pasukan militer dan aparat keamanannya. Hamas tetap tercantum karena sebelumnya sudah dimasukkan setelah serangan 7 Oktober 2023 ke Israel yang memicu perang di Gaza.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya sudah memperingatkan bahwa Israel dan Rusia berpotensi masuk daftar tersebut. Peringatan itu kini berubah menjadi keputusan resmi yang langsung memicu reaksi keras dari kedua negara.
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyatakan kekecewaannya melalui media sosial. Ia menuding Guterres menempatkan Israel sejajar dengan Hamas, ISIS, dan kelompok teroris lain.
Israel mengatakan sudah menyerahkan dokumen, data, dan jawaban rinci untuk membantah tuduhan dalam laporan PBB. Kementerian Luar Negeri Israel juga menyebut keputusan itu menunjukkan permusuhan institusional PBB yang disebutnya telah berlangsung lama.
Temuan PBB soal korban dan bentuk kekerasan
Laporan PBB menyebut pihaknya mendokumentasikan pola kekerasan seksual terhadap warga Palestina yang ditahan di Israel maupun di wilayah Palestina yang diduduki. PBB memverifikasi sejumlah kasus yang disebut terjadi sebagai bentuk penyiksaan terhadap korban dari Gaza dan Tepi Barat.
Dalam laporan itu, PBB menyebut telah memverifikasi kasus terhadap 14 pria, tujuh perempuan, sembilan anak laki-laki, dan satu anak perempuan. Dari jumlah itu, 13 kasus terjadi sepanjang 2025, sedangkan 18 kasus lain tercatat pada 2023 dan 2024.
Bentuk pelanggaran yang dicantumkan meliputi pemerkosaan, pemerkosaan beramai-ramai, percobaan pemerkosaan, kekerasan fisik pada alat kelamin, penembakan yang menargetkan alat kelamin, hingga penggeledahan telanjang tanpa alasan keamanan yang jelas. Laporan itu juga menyebut adanya ancaman pemerkosaan dan pemaksaan untuk telanjang.
PBB menambahkan sedikitnya sembilan korban, sebagian besar dari Gaza, disebut mengalami pemerkosaan atau pemerkosaan beramai-ramai, bahkan berulang kali. Pelaku yang diduga terlibat berasal dari Pasukan Pertahanan Israel, petugas penjara Israel, pasukan khusus, dan unit kepolisian.
Situasi konflik masih menyulitkan pengungkapan
Di Ukraina, pemantau HAM mendokumentasikan 31 kasus kekerasan seksual terkait konflik terhadap tawanan perang dan tahanan sipil. Sebagian besar kasus itu terjadi sebelum 2025, tetapi Ukraina tidak dimasukkan ke daftar hitam PBB.
Kondisi di berbagai medan perang membuat investigasi berjalan sulit, terutama ketika akses dan kerja sama dari pihak-pihak terkait tetap terhambat. PBB menegaskan bahwa hambatan itu menjadi salah satu alasan utama mengapa pengungkapan kasus kekerasan seksual di konflik masih jauh dari tuntas.
Source: www.viva.co.id