Pergerakan rupiah masih dibayangi kombinasi tekanan eksternal yang kuat dan sikap hati-hati pelaku pasar. Pada perdagangan terakhir, mata uang Garuda ditutup di Rp 17.528 per dolar AS setelah sempat menguat ke Rp 17.475 pada sesi sore sebelum berbalik melemah tajam.
Volatilitas itu menunjukkan pasar belum menemukan pegangan yang cukup stabil untuk mengambil posisi agresif. Sejak pembukaan perdagangan pagi, rupiah sudah berada dalam tekanan dan bergerak turun 13 poin atau 0,07% ke Rp 17.515 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai kondisi tersebut tidak lepas dari meningkatnya kembali ketegangan geopolitik. Pasar merespons sensitif setelah Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi kritis.
Pernyataan itu membuat ekspektasi terhadap peluang tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat ikut melemah. Di saat yang sama, ketidakpastian global tetap tinggi dan mendorong investor mengurangi minat pada aset berisiko, termasuk rupiah.
Tekanan dari Timur Tengah masih terasa
Selain pernyataan soal negosiasi, gangguan distribusi pengiriman melalui Selat Hormuz juga ikut menambah kekhawatiran pasar. Jalur tersebut masih menjadi perhatian karena situasi yang belum mereda membuat sentimen terhadap emerging markets tetap rapuh.
Dalam kondisi seperti ini, mata uang negara berkembang biasanya paling cepat merasakan dampaknya. Rupiah pun ikut terseret ketika investor memilih mencari aset yang lebih aman di tengah perkembangan geopolitik yang belum jelas arahnya.
Fokus pasar bergeser ke Beijing dan data inflasi AS
Di luar faktor Timur Tengah, pasar juga menunggu pertemuan Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Agenda itu dijadwalkan berlangsung pada 14-15 Mei 2026 di Beijing.
Pertemuan tersebut diperkirakan membahas ketegangan perdagangan, konflik Iran, Taiwan, hingga rantai pasokan global. Karena menyangkut banyak isu besar, hasil pembicaraan dua pemimpin itu berpotensi memengaruhi sentimen risiko global dalam waktu dekat.
Sikap wait and see yang muncul menjelang pertemuan itu membuat tekanan pada aset berisiko tetap tinggi. Rupiah pun berada di posisi yang rentan ketika pelaku pasar belum berani mengambil arah yang tegas.
Pasar juga menyoroti rilis indeks harga produsen AS sebagai petunjuk baru mengenai tekanan inflasi. Data ini penting karena dapat membantu membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve berikutnya.
Ibrahim menyebut ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga AS tahun ini mulai berkurang. Ketika peluang penurunan suku bunga makin kecil, dolar AS cenderung bertahan kuat dan menambah tekanan pada rupiah.
Rentang gerak sepekan masih lebar
Untuk perdagangan sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.420 hingga Rp 17.650 per dolar AS. Rentang tersebut menunjukkan pasar masih menghadapi ruang fluktuasi yang besar di tengah sentimen eksternal yang mudah berubah.
Arah rupiah dalam periode ini akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, data ekonomi AS, dan respons pelaku pasar internasional. Selama ketidakpastian belum mereda, rupiah masih berpeluang bergerak naik turun dengan cepat terhadap dolar AS.
Source: www.beritasatu.com