Panen Udang Kebumen Buktikan Model Rp 175 Miliar Ini Layak Direplikasi Ke Daerah Lain

Model budidaya udang berbasis kawasan di Kebumen kini diposisikan sebagai contoh yang akan dibawa ke daerah lain. Pemerintah menilai proyek ini punya hasil nyata karena produktif, menyerap tenaga kerja, dan sudah mampu bersaing di pasar dunia.

Presiden Prabowo Subianto melihat langsung panen raya di Budidaya Udang Berbasis Kawasan Kebumen saat kunjungan bersama sejumlah pejabat. Hadir mendampingi antara lain Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta pimpinan Komisi IV DPR.

Kinerja Kebumen jadi acuan

Kebumen mendapat sorotan karena kawasan budidaya itu sudah beroperasi selama tiga tahun. Dari hasil yang dilaporkan kepadanya, Prabowo menilai capaian kawasan tersebut menjanjikan dan layak dijadikan rujukan.

Setiap hektar tambak di kawasan itu disebut mampu menghasilkan 40 ton udang vaname. Dengan harga jual Rp 70.000 per kilogram atau Rp 70 juta per ton, hasil budidaya ini dinilai punya daya saing yang kuat.

Kawasan budidaya tersebut berdiri di atas lahan total 100 hektar. Dari jumlah itu, 65 hektar sudah terbangun dan berfungsi sebagai lokasi operasional budidaya.

Investasi awal dan dampak tenaga kerja

BUBK Kebumen dibangun dan diresmikan pada 2023 pada masa Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Proyek ini menelan anggaran Rp 175 miliar dan dirancang sebagai percontohan untuk mendongkrak produksi udang nasional.

Selain produksi, proyek ini juga memberi efek langsung ke warga sekitar. Hingga kini, 650 warga lokal tercatat bekerja di kawasan tersebut.

Prabowo menilai data itu menunjukkan bahwa proyek ini bukan hanya besar di atas kertas, tetapi juga produktif dalam praktik. Karena itu, model serupa dinilai pantas diperluas ke wilayah lain.

Replikasi ke daerah lain mulai disiapkan

Pemerintah kini menyiapkan pengembangan kawasan budidaya dengan skala lebih besar di sejumlah daerah. Lokasi yang disiapkan meliputi Waingapu di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, seluas 2.000 hektar, 200 hektar di Gorontalo, dan 14.000 hektar di Pantai Utara Jawa.

Berbeda dari Kebumen yang fokus pada udang vaname, kawasan baru itu akan dibuat berbasis kawasan untuk ikan. Pemerintah menargetkan produksi dari proyek-proyek tersebut bisa memenuhi kebutuhan protein rakyat sekaligus diarahkan untuk ekspor agar menghasilkan devisa.

Masuk agenda hilirisasi

Pengembangan kawasan budidaya ikan dan udang ini juga sejalan dengan dorongan hilirisasi pemerintah. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani pada akhir April 2026 menegaskan bahwa hilirisasi tidak hanya menyasar energi dan mineral, tetapi juga pertanian serta perikanan.

Dengan pendekatan itu, sektor-sektor tersebut diharapkan memberi nilai tambah yang lebih besar. Pemerintah juga menargetkan penyerapan tenaga kerja dan daya saing dari hulu hingga hilir.

Prabowo mengatakan pemerintah akan mempercepat pembangunan produktif dalam beberapa bulan ke depan. Menurut dia, pembangunan harus menghasilkan nilai tambah dan membuka lapangan kerja karena dua hal itu penting untuk menambah kekayaan bangsa dan meningkatkan penghasilan rakyat.

Ia juga menekankan agar prioritas pembangunan tidak hanya diarahkan pada kantor, tetapi pada proyek yang benar-benar menghasilkan produktivitas. Dalam pandangannya, pengelolaan kekayaan bangsa harus dijalankan secara mandiri supaya manfaatnya tidak terus mengalir ke luar negeri.

Prabowo menyebut kebocoran kekayaan perlu dihentikan melalui pengelolaan sumber daya alam yang mandiri dan penegakan hukum yang lebih tegas. Dari Kebumen, pemerintah kini mendorong model yang sudah terbukti itu untuk menjadi acuan bagi kawasan budidaya lain di berbagai daerah.

Source: www.kompas.id

Baca Juga

Back to top button