Panas Roland Garros Bikin Sinner Kewalahan, Cerundolo Memanfaatkan Momen Balikkan Laga

Juan Manuel Cerundolo justru pulang dengan kemenangan paling besar dalam musim 2026 setelah Jannik Sinner kehabisan tenaga di tengah laga. Petenis Argentina itu merebut 18 dari 20 game terakhir dan membalikkan pertandingan yang semula tampak berada dalam kendali petenis nomor satu dunia.

Di Roland Garros, faktor fisik menjadi penentu yang jauh lebih besar daripada kualitas permainan semata. Sinner akhirnya tak mampu menahan panas, kram, dan kelelahan yang terus menekan tubuhnya, lalu menyerah 3-6, 2-6, 7-5, 6-1, 6-1.

Pertandingan yang berubah arah

Sinner memulai laga dengan sangat baik dan sempat terlihat cukup nyaman untuk menjaga kendali. Namun, kondisi itu tidak bertahan lama ketika energi fisiknya turun tajam dan Cerundolo mulai membaca perubahan situasi di lapangan.

Saat pertandingan masih ketat, tanda-tanda masalah fisik mulai terlihat jelas. Pada kedudukan 5-4, 0/40, Sinner bahkan harus meminta jeda medis di luar lapangan, sebuah momen yang menegaskan bahwa panas dan kelelahan sudah memengaruhi permainannya.

Setelah itu, alur pertandingan bergeser total. Cerundolo memanfaatkan setiap penurunan tenaga dari lawannya dan menutup laga dengan dominasi besar pada set-set akhir.

Keluhan fisik yang terus muncul

Sepanjang dua pertandingan terakhir, Sinner disebut tidak nyaman di lapangan. Petenis Italia berusia 24 tahun itu beberapa kali gagal menyelesaikan poin secara normal karena tubuhnya tidak merespons seperti biasa.

Keluhan fisik yang muncul tidak hanya soal lelah. Ia juga mengalami kaki kram dan rasa mual yang hampir membuatnya muntah, sehingga beban yang ia tanggung di lapangan terasa semakin berat.

Kondisi itu memperlihatkan betapa kerasnya tuntutan pertandingan di tengah panas Roland Garros. Dalam situasi seperti ini, daya tahan tubuh bisa menjadi pembeda sebesar teknik dan mental.

Cerundolo memanfaatkan peluang

Cerundolo tidak menutupi bahwa lawannya sebenarnya masih bermain kuat pada awal pertandingan. Ia menyebut Sinner sempat layak menang, tetapi keadaan fisik kemudian mengubah segalanya dan membuka jalan bagi dirinya.

“Ini sulit baginya. Saya tidak bisa memenangkan lebih dari tiga game dalam satu set, jadi saya sedikit beruntung. Dia pantas memenangkan pertandingan ini, dan kemudian saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi saya merasa kasihan padanya dan berharap dia pulih,” kata Cerundolo.

Ucapan itu sejalan dengan jalannya laga. Begitu Sinner kehilangan tenaga, Cerundolo langsung mengambil alih momentum dan menuntaskan pertandingan dengan sangat meyakinkan.

Dampak besar bagi unggulan teratas

Kekalahan ini menambah tiga kekalahan beruntun yang dialami Sinner setelah tidak mampu menahan panas di Roland Garros. Bagi petenis yang berstatus unggulan teratas dan dikenal sangat konsisten di level tertinggi, hasil tersebut jelas menjadi perhatian besar.

Di sisi lain, kemenangan ini memiliki arti khusus bagi Cerundolo. Petenis peringkat 56 dunia itu tercatat sebagai pria pertama yang menyingkirkan unggulan teratas di turnamen Grand Slam lapangan tanah liat sebelum babak ketiga sejak Karol Kucera pada 2000.

Hasil ini kemudian menggeser sorotan dari sekadar skor akhir menuju isu yang lebih besar. Roland Garros kembali menunjukkan bahwa panas ekstrem dapat mengubah arah pertandingan secara drastis, bahkan ketika seorang petenis top memulai laga dengan sangat kuat.

Source: bola.bisnis.com
Exit mobile version