Beban panas di data center kini sudah ikut menentukan cara seluruh fasilitas dibangun dan dijalankan. Ketika satu rak server dapat menghasilkan panas hingga 200 kilowatt, dan dalam beberapa kasus mencapai 600 kW lalu mendekati 1 megawatt, pendinginan tidak lagi bisa diperlakukan sebagai pelengkap.
Perubahan itu membuat thermal management masuk ke pusat pembahasan, bukan sekadar urusan teknis di belakang layar. Bagi pemilik data center, pembuat chip, penyedia listrik, dan pengelola beban termal, keterkaitan antarpihak semakin rapat karena tantangan panas ikut membentuk keputusan sejak tahap desain.
Mauro Atalla, senior vice president dan chief technology and sustainability officer Trane Technologies, menilai setiap colocation provider pada akhirnya akan melewati perjalanan pengelolaan termal yang serupa. Karena itu, ia menekankan pentingnya keterhubungan di banyak level agar desain fasilitas, sistem daya, dan pendinginan dapat bergerak dalam arah yang sama.
Trane merespons kebutuhan itu lewat reference design yang menggabungkan pendinginan dengan teknologi data center lain. Desain model thermal system tersebut dapat diadopsi oleh colocation provider maupun pemilik data center lain, sehingga pendekatan yang sama bisa digunakan dalam skala yang lebih luas.
Salah satu contoh terbarunya adalah desain untuk fasilitas AI yang dikembangkan bersama NVIDIA bagi data center skala gigawatt. Desain itu terhubung dengan NVIDIA Omniverse DSX Blueprint dan mencakup chiller Trane, coolant distribution units atau CDU, heat exchanger, pompa, serta urutan kontrol.
Trane menyebut desain berbasis NVIDIA Omniverse Blueprint itu dirancang untuk meningkatkan keberlanjutan dan mengoptimalkan operasi. Arah kerja ini menunjukkan bahwa cooling tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari arsitektur yang ikut membentuk performa fasilitas.
Liquid cooling makin sulit dihindari
Atalla mengatakan direct-to-chip liquid cooling CDU menjadi semakin penting seiring naiknya daya dan kecepatan kerja chip. Sistem ini menyalurkan campuran air-glycol ke chip, dan kebutuhan tersebut dinilai sudah tidak bisa dihindari.
Dalam sebuah konferensi pada akhir April, Atalla dan Phill Lawson-Shanks, chief innovation and technology officer Aligned Data Centers, menegaskan bahwa sistem pendingin kini bekerja sebagai bagian dari sistem itu sendiri. Lawson-Shanks menilai seluruh bangunan perlu dipikirkan sebagai satu sistem yang koheren, bukan sebagai lapisan-lapisan terpisah yang hanya saling bereaksi.
Atalla menambahkan bahwa sumber panaslah yang menggerakkan seluruh rancangan. Artinya, keputusan soal chip, daya, dan pendinginan harus dipandang sebagai satu rangkaian yang saling terkait sejak awal.
Daya cadangan ikut masuk ke dalam desain termal
Saat liquid cooling dipakai, ruang untuk kehilangan daya menjadi sangat sempit. Atalla dan Lawson-Shanks menjelaskan bahwa sistem berpendingin cair hanya punya waktu beberapa detik sebelum batas termal tercapai, sementara sistem air cooled konvensional masih dapat bertahan beberapa menit.
Kondisi itu membuat penyimpanan daya cadangan yang aktif seketika menjadi sangat penting. Manajemen energi akhirnya masuk langsung ke dalam sistem termal, bukan lagi hanya berada sebagai infrastruktur penunjang di belakang layar.
Lawson-Shanks mengatakan liquid cooling membutuhkan kontinuitas mekanis yang langsung. Dalam praktiknya, integrasi antara daya, pendinginan, dan chip harus berjalan tanpa jeda agar sistem tetap aman.
Kontrol terhubung masih menjadi target
Atalla menilai industri memang bergerak ke arah kontrol yang lebih terhubung, tetapi belum sepenuhnya sampai ke sana. Ia melihat sistem pendingin idealnya dapat bereaksi langsung terhadap naik turunnya permintaan komputasi.
Agar hal itu terjadi, penyedia thermal management perlu terhubung dengan sistem operasi data center. Pandangan ini semakin menegaskan bahwa pendinginan kini menjadi bagian dari arsitektur utama fasilitas, bukan elemen yang ditempatkan di luar sistem inti.
Atalla juga membandingkan data center dengan industri dirgantara dalam hal pentingnya kolaborasi tanpa celah. Menurut dia, investasi bernilai miliaran dolar menuntut semua pihak memastikan setiap komponen bekerja sesuai rencana, termasuk ketika kondisi tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Di tengah tekanan panas yang terus naik, kebutuhan liquid cooling, dan tuntutan integrasi daya, thermal management ikut menentukan arah operasi data center. Pendinginan kini bukan lagi sekadar menjaga suhu tetap aman, tetapi menjaga seluruh sistem tetap mampu bekerja.