Rencana perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran kini menempatkan Islamabad sebagai salah satu titik paling diperhatikan dalam peta diplomasi global. Jika agenda itu berjalan sesuai rencana, Pakistan akan memegang peran penting sebagai mediator dalam upaya meredakan ketegangan yang sempat memanas di kawasan.
Pembicaraan tersebut disebut akan digelar di Pakistan seusai Idul Adha, dengan fokus pada penyusunan draf kesepakatan damai. Dalam skema yang beredar, panglima angkatan darat Pakistan dijadwalkan mengunjungi Iran pada 21 Mei 2026 untuk mengumumkan penyelesaian draf akhir kesepakatan itu.
Posisi Pakistan menjadi menarik karena negara tersebut tidak hanya dipandang sebagai tuan rumah, tetapi juga penengah yang diharapkan mampu menjaga komunikasi antara Washington dan Teheran. Jalur diplomasi ini dinilai penting agar pembicaraan tidak berhenti di tahap awal dan benar-benar menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima kedua pihak.
Dorongan menuju meja perundingan muncul di tengah konflik yang belum reda. Sebelumnya, militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan Operasi Epic Fury terhadap Iran pada Februari 2026, lalu Iran membalas melalui operasi True Promise 4.
Rangkaian aksi dan balasan itu membuat ruang diplomasi semakin mendesak. Karena itu, perundingan damai di Islamabad diposisikan bukan sekadar langkah politik, melainkan upaya untuk mencegah eskalasi yang lebih jauh di kawasan.
Di sisi lain, perhatian dunia juga masih tertuju pada dinamika Beijing setelah pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan kunjungannya, Xi disebut langsung menyambut Putin pada Rabu, 20/5/2026.
Pertemuan itu memperlihatkan semakin rapatnya hubungan ekonomi Beijing dan Moskow. Nilai perdagangan bilateral keduanya disebut mencapai Rp 4.224 triliun pada 2025, dengan hampir 100 persen transaksi memakai rubel dan yuan, bukan dolar AS.
Langkah tersebut menegaskan dorongan dua negara besar untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang Amerika Serikat. Dalam pembacaan yang lebih luas, penguatan hubungan China dan Rusia ikut mendorong pergeseran pusat pengaruh ekonomi dunia.
Dampak kawasan dan jalur energi
Agenda damai antara Washington dan Teheran juga terkait erat dengan stabilitas energi global. Selat Hormuz menjadi salah satu titik yang disorot karena kawasan itu sangat berpengaruh terhadap arus energi dunia.
Jika konflik mereda, tekanan terhadap pasar energi berpotensi ikut menurun. Karena itu, hasil perundingan di Pakistan dipandang dapat membawa dampak yang melampaui hubungan dua negara, karena menyentuh kepentingan perdagangan dan energi yang lebih luas.
Pada saat yang sama, China terus memperluas manuver luar negerinya di berbagai arah. Xi Jinping dikabarkan akan segera melawat ke Korea Utara pada pekan depan, sementara Beijing juga menyiapkan Polar Silk Road atau Jalur Sutra Kutub sebagai alternatif jalur dagang.
Jalur itu diklaim mampu memangkas waktu pelayaran dari Asia ke Eropa menjadi sekitar 20 hari, lebih cepat dibanding rute tradisional melalui Terusan Suez. Dalam konteks itu, perundingan damai AS-Iran di Islamabad semakin dipandang sebagai salah satu momen yang menentukan untuk menahan gejolak dan menjaga keseimbangan ekonomi global.
Source: www.suara.com