Pabrik RI Dikejar AI, Namun Integrasi Data Masih Jadi Penghambat Utama

Pabrik di Indonesia tengah didorong untuk bergerak lebih cepat ke arah AI, tetapi dorongan itu belum selalu sejalan dengan kesiapan sistem yang menopangnya. Di banyak perusahaan manufaktur, masalah utamanya justru masih ada pada data yang tercecer dan proses yang belum saling terhubung.

Situasi ini membuat banyak inisiatif digital sulit memberi hasil maksimal. Ketika data produksi, inventori, pembelian, hingga keuangan masih berjalan sendiri-sendiri, perusahaan tidak punya pandangan operasional yang utuh dan real-time untuk mengambil keputusan dengan cepat.

Fondasi yang belum rapi

Vice President Asia Epicor Vincent Tang menilai sejumlah perusahaan manufaktur di Indonesia masih menjalankan operasional dengan sistem yang belum terintegrasi. Menurut dia, perhatian kerap terlalu cepat diarahkan ke AI, sementara kesiapan dasar seperti konektivitas data dan proses bisnis justru lebih penting.

Vincent menegaskan bahwa yang sering terlewat adalah memastikan data, proses bisnis, dan operasional sudah tersambung dengan baik. Ia juga menyebut kondisi seperti ini bukan hal baru di sektor manufaktur Indonesia.

Selama sistem masih bergerak sendiri-sendiri, analisis yang akurat akan sulit disusun. Dalam kondisi seperti itu, langkah operasional yang cepat juga menjadi lebih berat dilakukan.

ERP modern jadi titik sambung

Di tengah kebutuhan integrasi itu, enterprise resource planning atau ERP modern dipandang memegang peran sentral. Sistem ini tidak lagi hanya berfungsi untuk administrasi dan pencatatan keuangan.

ERP kini menjadi pusat yang menghubungkan penjualan, produksi, inventori, rantai pasok, dan distribusi dalam satu platform. Dengan cara itu, perusahaan dapat melihat kondisi operasional secara menyeluruh dan mengambil keputusan berbasis data dengan lebih cepat.

Bagi manufaktur, integrasi semacam ini menjadi dasar sebelum melangkah lebih jauh ke teknologi yang lebih canggih. Tanpa pusat data yang rapi, AI sulit memberi manfaat yang optimal di lantai produksi maupun di level manajemen.

Cloud dan AI perlu tumpuan yang sama

Penerapan AI di manufaktur juga tidak bisa berdiri sendiri. Selain integrasi ERP, platform cloud disebut makin penting karena memberi fleksibilitas dan skalabilitas yang lebih besar bagi operasional industri.

Sistem berbasis cloud memungkinkan akses data secara real-time lintas lokasi. Teknologi ini juga memudahkan koneksi dengan internet of things atau IoT, yang kemudian membuka jalan untuk mendorong otomatisasi mesin produksi.

Di saat yang sama, perusahaan dapat memperkuat pemantauan proses secara lebih efektif. Kombinasi itu menunjukkan bahwa AI baru akan bekerja baik jika infrastruktur digital dasarnya sudah kuat.

Tekanan pasar membuat transformasi makin mendesak

Kebutuhan berbenah juga datang dari luar perusahaan. Vincent menilai perubahan rantai pasok global dan meningkatnya persaingan industri membuat kecepatan pengambilan keputusan menjadi faktor penting dalam daya saing manufaktur.

Ia juga melihat peluang bagi Indonesia karena ada pergeseran basis produksi global dari China ke sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Vietnam, dan Thailand. Indonesia disebut memiliki posisi penting karena menjadi salah satu basis manufaktur terbesar di kawasan.

Dorongan ini membuat perusahaan tidak cukup hanya mengejar teknologi baru. Sistem internal harus mampu menopang perubahan yang lebih cepat dan lebih luas agar modernisasi benar-benar berdampak.

Perubahan bertahap dianggap paling realistis

Meski minat terhadap AI terus meningkat, Vincent menilai modernisasi manufaktur tidak bisa dilakukan secara instan. Perusahaan perlu menyesuaikan langkah transformasi dengan kesiapan operasional dan sumber daya manusia yang dimiliki.

Pendekatan bertahap dinilai lebih realistis agar integrasi sistem, pemanfaatan cloud, dan penerapan AI benar-benar menghasilkan efisiensi serta visibilitas operasional. Tanpa fondasi itu, adopsi teknologi berisiko hanya menjadi langkah simbolis tanpa perubahan berarti di lini produksi maupun pengelolaan bisnis.

Source: teknologi.bisnis.com
Exit mobile version