Pasar enterprise AI kini tidak lagi hanya memperdebatkan model mana yang paling kuat. Fokus mulai bergeser ke pertanyaan yang jauh lebih sulit, yakni siapa yang mampu memasang, menyesuaikan, dan mempertahankan AI di dalam sistem perusahaan yang rumit.
OpenAI tampaknya membaca perubahan itu dengan cepat. Lewat OpenAI Deployment Company, perusahaan ini masuk ke wilayah konsultasi dan integrasi sistem, sebuah langkah yang membuatnya tidak lagi berhenti sebagai penyedia model.
Menarik insinyur masuk ke operasi klien
Pendekatan yang dipakai menyerupai strategi forward deployed engineers yang lebih dulu dipopulerkan Palantir. Insinyur spesialis ditempatkan langsung di lingkungan klien untuk bekerja di tengah proses operasional, bukan hanya menyerahkan perangkat lunak lalu selesai.
Model seperti ini lahir dari kenyataan bahwa banyak proyek AI perusahaan tidak kandas karena modelnya buruk. Masalah utamanya justru ada pada integrasi, terutama saat AI harus berjalan di atas infrastruktur lama, tunduk pada kepatuhan yang ketat, dan melewati lapisan persetujuan yang berulang.
OpenAI menempatkan Deployment Company sebagai jawaban atas hambatan tersebut. Targetnya adalah membantu organisasi mengubah alur kerja, menyesuaikan sistem kerja, dan memastikan AI benar-benar dipakai di produksi.
Modal besar dan akses ke jaringan bisnis
Entitas baru ini dibuka dengan investasi awal lebih dari $4 miliar dan valuasi $10 miliar. Sebanyak 19 firma ikut mendukung, termasuk TPG, Goldman Sachs, SoftBank, Capgemini, dan McKinsey & Company.
Dukungan itu memberi OpenAI keuntungan distribusi yang besar. Para investor tersebut secara kolektif mensponsori lebih dari 2.000 bisnis di seluruh dunia, sehingga Deployment Company berpotensi menjangkau pelanggan tanpa bergantung penuh pada siklus penjualan CIO tradisional.
Dengan struktur seperti ini, OpenAI tidak hanya masuk lewat produk. Perusahaan itu juga masuk lewat jaringan bisnis yang sudah lebih dulu terbentuk di ekosistem para pendukungnya.
Tomoro jadi penguat awal organisasi baru
Untuk mengisi lengan baru tersebut, OpenAI sepakat mengakuisisi Tomoro, perusahaan konsultasi applied AI asal Inggris. Tomoro sudah melakukan deployment di Tesco, Virgin Atlantic, dan Supercell.
Salah satu contoh yang menonjol datang dari Supercell, saat para insinyur Tomoro membangun agen dukungan dalam gim yang melayani 110 juta pengguna dalam 12 minggu. Akuisisi ini juga membawa sekitar 150 insinyur dan spesialis deployment ke dalam struktur OpenAI.
Transaksi tersebut masih menunggu persetujuan regulator dan diperkirakan selesai dalam beberapa bulan mendatang. Bagi OpenAI, langkah ini berarti organisasi baru itu langsung memiliki tim operasional yang siap menangani proyek enterprise.
Persaingan bergeser ke lapisan implementasi
Langkah OpenAI muncul hanya beberapa hari setelah Anthropic mengumumkan venture deployment enterprise sendiri. Entitas senilai $1,5 miliar itu didukung Blackstone, Hellman & Friedman, dan Goldman Sachs, dengan gagasan yang sangat mirip.
Kedua perusahaan tampak bertaruh bahwa persaingan enterprise AI sekarang tidak lagi ditentukan hanya oleh benchmark atau peluncuran model baru. Lapisan implementasi menjadi arena utama, yaitu pekerjaan nyata untuk membawa AI ke dalam organisasi dan membuatnya bertahan setelah fase pilot.
Perubahan ini penting karena enterprise sudah menjadi sumber pendapatan utama OpenAI. Porsi enterprise disebut menyumbang lebih dari 40% pendapatan OpenAI, dengan pendapatan tahunan mencapai $25 miliar pada Februari.
Tekanan pasar mendorong strategi baru
OpenAI juga menghadapi tekanan di pasar API enterprise. Pangsa API perusahaan itu dilaporkan turun dari sekitar 50% pada 2023 menjadi sekitar 25% pada pertengahan 2025, seiring Anthropic dan Google memperkuat posisi mereka.
Di tengah kondisi itu, Deployment Company berfungsi sebagai respons struktural. OpenAI tampak ingin membangun moat implementasi di sekitar model frontier-nya, bukan hanya mengandalkan keunggulan model atau penjualan API.
Ambisi jangka panjangnya juga besar. OpenAI memproyeksikan pendapatan mencapai $85 miliar pada 2030, dan target itu menuntut agen AI menjadi lapisan operasi default bagi perusahaan, bukan sekadar alat produktivitas tambahan.
Dengan langkah ini, persaingan enterprise AI memasuki fase yang lebih praktis. Yang diperebutkan bukan cuma model terbaik, tetapi juga kemampuan memastikan AI benar-benar digunakan, diintegrasikan, dan tetap bertahan di dalam perusahaan.





