Pertandingan melawan Oman datang pada momen penting bagi Indonesia. Di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, laga ini bukan sekadar pemanasan, melainkan ajang untuk melihat seberapa jauh skuad Garuda bisa menjawab tuntutan bermain lebih rapi dan lebih berani.
John Herdman menempatkan duel ini sebagai ujian serius. Ia ingin Indonesia tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga menunjukkan bahwa tim ini mampu bersaing di level Asia dengan dukungan penuh publik sendiri.
Tekanan dari lawan yang lebih tinggi peringkat
Bobot laga ini ikut naik karena posisi Oman di peringkat 79 FIFA jauh lebih tinggi dibanding Indonesia yang berada di urutan 122. Selisih itu membuat pertandingan di Jakarta menjadi kesempatan yang tepat untuk mengukur disiplin, ketajaman, dan konsistensi permainan Garuda.
Bagi Herdman, menghadapi tim dengan peringkat lebih baik memberi gambaran yang lebih jelas tentang level sebenarnya timnya. Ia memandang hasil pertandingan ini sebagai cerminan apakah Indonesia benar-benar bergerak ke arah yang diinginkan.
Rekor lama yang belum banyak bersahabat
Secara sejarah, Indonesia memang punya kenangan manis atas Oman, tetapi catatan itu sudah sangat lama. Dari enam pertemuan, Indonesia hanya meraih dua kemenangan, dan semuanya terjadi di King’s Cup pada 1987 dan 1988 dengan skor 2-0 serta 3-0.
Setelah itu, hasil lebih sering berpihak kepada Oman. Pada laga persahabatan 2021, Indonesia yang saat itu ditangani Shin Tae-yong kalah 1-3, sehingga pertemuan di SUGBK terasa lebih penting dari sekadar laga uji coba biasa.
Fokus pada efektivitas serangan
Salah satu perhatian Herdman menjelang laga ini ada pada produktivitas serangan. Ia menyoroti minimnya tembakan tepat sasaran meski Indonesia sempat menguasai permainan pada pertandingan sebelumnya.
Masalah lain muncul di penempatan pemain di kotak penalti. Herdman menilai Indonesia masih kurang tajam saat masuk ke area berbahaya, sehingga peluang yang dibangun belum menjadi ancaman maksimal bagi gawang lawan.
Karena itu, duel kontra Oman dipandang sebagai kesempatan untuk memperbaiki dua aspek tersebut. Jika penguasaan bola bisa diubah menjadi serangan yang lebih efisien, permainan Indonesia akan terlihat lebih matang.
Dukungan publik jadi bagian dari rencana
Selain urusan teknis, Herdman juga memberi perhatian besar pada atmosfer stadion. Ia berharap SUGBK dipenuhi suporter yang terus memberi dorongan sepanjang pertandingan.
Bermain di kandang sendiri memberi peluang bagi Indonesia untuk tampil lebih percaya diri dan lebih agresif. Dukungan publik juga bisa membantu pemain menjaga intensitas sejak menit awal.
Situasi ini membuat laga melawan Oman memiliki nilai emosional yang kuat. Indonesia tidak hanya ingin meraih hasil positif, tetapi juga ingin memperlihatkan identitas permainan yang lebih meyakinkan di hadapan pendukung sendiri.
Terkait dengan rangkaian FIFA Series 2026
Laga ini juga dilihat Herdman sebagai bagian dari kelanjutan dua pertandingan pertama Indonesia di FIFA Series 2026 pada akhir Maret. Ia ingin melanjutkan sisi positif yang sudah terlihat, sambil menutup kekurangan yang masih muncul.
Dengan sudut pandang itu, pertandingan di Jakarta menjadi bagian dari proses yang lebih besar. Hasil dan performa melawan Oman akan memberi petunjuk apakah Indonesia benar-benar berkembang sesuai target yang diharapkan.
Perhatian publik pun ikut tertuju pada kondisi skuad Garuda jelang duel ini. Marselino Ferdinan dikabarkan mengalami cedera hamstring dan diragukan tampil, sehingga persiapan Indonesia menuju laga kontra Oman semakin menarik untuk diikuti.
Source: mediaindonesia.com




