Bagi banyak orang, Nokia N-Gage bukan sekadar ponsel lama. Perangkat ini lebih mirip percobaan besar Nokia untuk menyatukan fungsi komunikasi dan permainan dalam satu bodi yang bentuknya sangat tidak biasa.
Hal itu kembali ramai setelah David GadgetIn membongkar unit N-Gage yang masih menyimpan banyak kelengkapan asli di dalam kotaknya. Dari isi paket hingga desainnya, perangkat ini memang mudah memancing nostalgia sekaligus rasa heran.
Desain yang benar-benar berbeda
N-Gage langsung mencuri perhatian karena tampilannya jauh dari standar ponsel pada masa itu. David menggambarkan bentuknya seperti ketupat, daun, atau taco, sebutan yang terasa cocok untuk desain yang tidak lazim tersebut.
Susunan tombolnya juga unik. D-pad berada di sisi kiri, keypad di kanan, sementara layar kecil ditempatkan di tengah.
Bagian earpiece pun ikut berbeda dari ponsel pada umumnya. Saat dipakai menelepon, pengguna harus menempelkan sisi ponsel ke telinga, sehingga cara pakainya terasa aneh jika dilihat dengan ukuran sekarang.
Isi kotak yang masih lengkap
Daya tarik lain datang dari kemasan penjualannya yang masih menyimpan banyak item asli. Di dalam kotak, David menemukan charger lawas, headset kabel, kabel tambahan, manual tebal, memory card MMC 128 MB, hingga kartu garansi.
Ada juga nota pembelian asli dari Bandung bertahun 2004. Kehadiran nota ini membuat unboxing N-Gage terasa seperti membuka kapsul waktu.
Paket tersebut juga menyertakan manual dan katalog game yang masih rapi tersimpan. Beberapa judul klasik yang tercantum di dalamnya antara lain MotoGP, Tony Hawk Pro Skater, dan Tomb Raider.
Baterai cadangan yang sudah menggembung ikut terlihat di dalam paket. David menyebut kondisi seperti itu wajar untuk perangkat yang usianya sudah lebih dari 20 tahun.
Harga yang dulu terasa premium
Dari nota pembelian itu, David mengulas bahwa harga Nokia N-Gage di Indonesia sekitar tahun 2004 bisa mencapai sekitar Rp5 jutaan. Pada masa tersebut, angka itu termasuk sangat mahal untuk sebuah ponsel.
Harga setinggi itu membuat N-Gage berada di kelas yang terasa eksklusif. Perangkat ini memang hadir sebagai produk premium bagi pengguna yang ingin pengalaman berbeda dari ponsel biasa.
Gaming sebelum unduhan instan
Sebagai ponsel gaming, N-Gage memang dirancang untuk menjalankan gim, dan David sempat mencoba beberapa judul klasik. Super Monkey Ball, Asphalt 2, Fireball, The Sims, dan Sonic termasuk di antara gim yang dicoba.
Untuk ukuran masanya, kemampuan memainkan gim 3D sederhana sudah dianggap maju. Walau tampilannya terbatas menurut standar sekarang, perangkat ini tetap memberi hiburan yang kuat.
Cara memasang gim pada era itu juga berbeda jauh dari kebiasaan sekarang. Belum ada App Store atau unduhan instan, sehingga prosesnya dilakukan manual lewat kartu memori atau bantuan toko HP.
David menyebut praktik “suntik aplikasi” sangat umum di Indonesia saat itu. Pengguna datang ke counter HP untuk membeli aplikasi dan gim, bukan mengunduhnya sendiri dari ponsel.
Input teks yang masih mengandalkan T9
Selain urusan gim, David juga memperlihatkan cara mengetik SMS menggunakan sistem T9. Sistem ini memakai kombinasi angka untuk membentuk huruf, sehingga tombol harus ditekan berulang kali untuk mendapatkan karakter yang diinginkan.
Meski terasa rumit dibanding keyboard modern, fitur predictive text di dalamnya dianggap cerdas pada zamannya. Cara kerja itu menunjukkan bagaimana teknologi input ponsel berkembang sebelum layar sentuh menjadi standar.
Di balik bentuknya yang dianggap nyeleneh, N-Gage tetap punya tempat khusus di ingatan banyak orang. Perangkat ini menjadi salah satu simbol masa ketika mobile gaming mulai terasa seru, mahal, dan penuh rasa takjub.





