Bank-bank di Tanah Air kini semakin menempatkan modal dan likuiditas sebagai benteng utama di tengah ketidakpastian global. Tekanan eksternal membuat pengujian ketahanan atau stress test menjadi alat penting untuk membaca apakah neraca bank tetap aman saat kondisi ekonomi berubah cepat.
Di tengah situasi yang dinamis itu, fokus industri perbankan tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan. Stabilitas operasional, kualitas aset, dan kesiapan cadangan ikut masuk dalam perhatian utama agar guncangan dari luar tidak mudah menekan kinerja bank.
BTN perbarui pengawasan lewat stress test rutin
Di sektor lain, BTN juga menjalankan stress test secara berkala sebagai bagian dari pengelolaan risiko. Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menjelaskan bahwa pengujian tersebut dilakukan setiap tiga bulan untuk melihat daya tahan bank dalam berbagai skenario ekonomi.
Bagi BTN, stress test bukan sekadar formalitas internal, melainkan cara untuk mengukur dampak potensi tekanan ekonomi global terhadap kondisi bank. Hasilnya kemudian dipakai sebagai dasar untuk menyusun langkah antisipatif agar stabilitas tetap terjaga saat perubahan makro berlangsung cepat.
Seleksi debitur diperketat di tengah risiko kredit
BTN juga memperkuat mitigasi risiko pada pembiayaan, terutama di sektor konstruksi. Perseroan kini menyeleksi debitur dengan lebih hati-hati agar kualitas kredit tetap terkendali di tengah tantangan ekonomi yang belum mereda.
Setiyo menjelaskan bahwa BTN memprioritaskan calon debitur yang memiliki rekam jejak usaha yang memadai, kapasitas keuangan yang kuat, dan permodalan yang cukup. Lokasi usaha juga menjadi salah satu pertimbangan sebelum pembiayaan diberikan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian risiko di perbankan berjalan dari beberapa sisi sekaligus. Stress test, seleksi debitur, dan penguatan mitigasi risiko saling melengkapi untuk menjaga portofolio pembiayaan tetap sehat.
BCA menilai ketahanan modal masih kuat
Dari sisi bank lain, PT Bank Central Asia Tbk. juga menyampaikan hasil stress test yang masih solid. Direktur BCA Subur Tan mengatakan perseroan telah menjalankan pengujian sesuai arahan regulator dan hasilnya masih dinilai cukup melegakan.
Dalam paparan kinerja kuartal I/2026 yang digelar secara daring, Subur menegaskan bahwa permodalan BCA tetap kuat. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) bank tersebut berada di kisaran 29%, jauh di atas ketentuan minimal Otoritas Jasa Keuangan.
Kondisi kualitas kredit juga masih terjaga. Non-Performing Loan (NPL) BCA tercatat 1,8% pada kuartal I/2026, yang menunjukkan risiko kredit bermasalah masih berada dalam batas terkendali.
Kualitas aset dan cadangan ikut jadi perhatian
Selain modal, BCA juga mencermati loan at risk atau LAR yang sempat naik tipis. Meski begitu, Subur menyebut posisinya masih terkontrol dan tidak menimbulkan kekhawatiran berlebih.
Cadangan yang dimiliki perseroan juga dinilai tetap memadai untuk menghadapi potensi tekanan ke depan. Dalam situasi seperti ini, kualitas aset dan kekuatan pencadangan menjadi penopang penting agar bank tetap mampu menjaga likuiditas dan kepercayaan nasabah.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana stress test tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi kehati-hatian yang lebih luas. Bank perlu memastikan bahwa modal, likuiditas, dan kualitas pembiayaan tetap cukup kuat untuk merespons gejolak yang datang dari luar negeri maupun dari dalam negeri.
Source: finansial.bisnis.com