Mobil Listrik Mulai Menopang Xiaomi, Saat Bisnis Ponsel Justru Tertahan

Kinerja Xiaomi mulai menunjukkan arah baru ketika bisnis kendaraan listriknya memberikan dorongan yang makin besar, meski penjualan ponsel pintar justru masih tertahan. Di tengah tekanan itu, perusahaan tetap mencatat kenaikan laba 7,3 persen pada kuartal Desember lalu.

Perubahan ini terlihat dari komposisi pendapatan yang makin bergeser. Xiaomi membukukan penjualan 116,9 miliar yuan atau sekitar Rp292 triliun pada periode tersebut, sedikit lebih tinggi dari estimasi rata-rata 116,3 miliar yuan, dengan kontribusi utama datang dari lonjakan pengiriman mobil listrik.

Mobil listrik jadi penopang utama

Divisi EV Xiaomi mencatat lompatan yang tajam dalam periode itu. Perusahaan mengirim 145.115 unit mobil, lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.

Respons pasar terhadap model SUV yang diluncurkan pada musim panas lalu menjadi salah satu pendorong utama. Pada bulan Desember saja, pengiriman Xiaomi menembus lebih dari 50.000 unit, angka bulanan tertinggi yang pernah dicapai perusahaan.

Permintaan juga ikut terdorong oleh pembelian lebih awal dari konsumen di China. Banyak pembeli disebut bergerak lebih cepat karena pemerintah China berencana memangkas subsidi pembelian kendaraan listrik pada 2026.

Unit EV mulai mencetak laba

Kabar penting lain datang dari sisi profitabilitas. Divisi kendaraan listrik Xiaomi membukukan laba 1,1 miliar yuan dan melanjutkan tren positif setelah mencetak laba pertamanya pada kuartal sebelumnya.

Pencapaian itu membuat bisnis EV bukan hanya penting dari sisi pertumbuhan, tetapi juga mulai relevan sebagai penyumbang keuntungan. Dalam situasi ketika lini ponsel masih tertekan, perkembangan ini memberi ruang napas bagi kinerja keseluruhan perusahaan.

Ponsel pintar belum pulih

Berbeda dengan mobil listrik, bisnis smartphone Xiaomi masih menghadapi tekanan. Perusahaan terdampak pasokan cip memori yang ketat dan melemahnya permintaan konsumen, dua faktor yang menekan pengiriman perangkat.

Meski masih mempertahankan posisi sebagai vendor ponsel terbesar ketiga di dunia pada kuartal lalu, pengiriman perangkat Xiaomi turun 11,5 persen. Kondisi itu berlawanan dengan pasar global yang justru tumbuh lebih dari 2 persen.

Firma riset IDC memperkirakan pasar smartphone dunia akan menyusut hingga 12,9 persen tahun ini. Proyeksi tersebut dikaitkan dengan krisis pasokan memori yang belum mereda dan berpotensi mendorong harga perangkat ke level yang lebih tinggi.

Presiden Xiaomi, Lu Weibing, menyebut perusahaan kemungkinan akan menaikkan harga smartphone sebagai respons atas tekanan biaya. Langkah itu dipandang perlu untuk menjaga margin di tengah kenaikan harga komponen.

Arah bisnis Xiaomi makin berubah

Di tengah pelemahan ponsel, bisnis otomotif semakin menempati posisi sentral dalam strategi Xiaomi. Salah satu pendiri perusahaan, Lei Jun, menargetkan pengiriman 550.000 unit mobil pada 2026, naik 34 persen dari realisasi tahun lalu sebanyak 410.000 unit.

Xiaomi juga menyiapkan ekspansi ke luar negeri dengan membidik penjualan mobil di Eropa mulai 2027. Rencana itu berjalan di saat pasar domestik China masih dipenuhi perang harga dan kelebihan pasokan.

Perusahaan baru saja merilis versi terbaru sedan SU7 dengan harga 2 persen lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Di saat yang sama, saham Xiaomi yang tercatat di bursa Hong Kong telah terkoreksi lebih dari 40 persen dari level puncaknya pada 2025.

Mencari sumber pertumbuhan baru

Selain otomotif dan ponsel, Xiaomi juga memperluas investasi ke teknologi masa depan untuk menjaga momentum bisnis. Perusahaan ikut bersaing dalam pengembangan agen kecerdasan buatan bergaya OpenClaw dan merilis berbagai model serta alat untuk menantang Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd.

Lu Weibing juga menyebut Xiaomi menargetkan kemajuan besar di sektor robotika pada tahun ini. Rencana itu mencakup penggunaan robot yang lebih luas di fasilitas pabrik milik perusahaan, sejalan dengan upaya mencari mesin pertumbuhan baru di luar bisnis inti.

Baca Juga

Back to top button