Bagi Mitsubishi, persoalannya kini bukan hanya soal berapa banyak diler yang masih bertahan di Amerika Serikat. Yang lebih terasa justru pertanyaan tentang seberapa kuat merek ini masih punya alasan untuk dipilih di tengah pasar yang bergerak cepat dan dipenuhi rival dengan lini produk yang jauh lebih segar.
Dulu, nama Mitsubishi punya bobot emosional yang besar. Model seperti 3000GT, Galant VR-4, Eclipse, Montero, dan Lancer Evolution pernah membentuk citra merek yang berani, performa tinggi, dan dekat dengan penggemar.
Jaringan yang makin ramping
Memasuki 2026, Mitsubishi tercatat memiliki 299 gerai di Amerika Serikat. Angka itu turun dari 355 gerai pada awal 2019, sehingga ada 56 lokasi yang hilang dalam rentang tujuh tahun.
Bagi merek arus utama, jumlah itu tergolong kecil sejak awal. Kondisi tersebut membuat penyusutan jaringan terasa makin berat, apalagi Mitsubishi memang sudah lama berada di bawah skala jaringan Toyota, Honda, Hyundai, Kia, Ford, dan Chevrolet.
Dalam 18 bulan terakhir, sekitar 35 waralaba juga dihentikan menurut pimpinan perusahaan yang dikutip dalam laporan jaringan diler terbaru. Meski begitu, Mitsubishi juga menambah beberapa gerai baru dan menyetujui outlet tambahan.
Arah umumnya tetap sama: jaringan yang lebih ramping dan lebih selektif. Pihak perusahaan menyebut pendekatan itu sebagai upaya menempatkan toko di pasar yang lebih tepat, meski tidak otomatis menghapus keraguan para peritel soal potensi bisnisnya.
Produk yang sempit membuat diler bekerja lebih keras
Tekanan terbesar bagi jaringan diler datang dari jajaran produk yang terbatas. Di Amerika Serikat, bisnis Mitsubishi saat ini bertumpu pada Outlander, Outlander PHEV, Eclipse Cross, dan Outlander Sport yang sudah menua.
Kondisi itu membuat showroom sulit bersaing di pasar crossover yang penuh model baru dan promosi agresif. Dealer harus menjelaskan mengapa konsumen harus memilih Mitsubishi ketika pembeli kini mencari interior modern, sistem bantuan pengemudi canggih, opsi hybrid yang efisien, infotainment cepat, dan desain yang menonjol.
Masalahnya, beberapa model yang dijual masih datang dari dasar teknis yang sudah lama. Outlander Sport masih menggunakan arsitektur berusia sekitar 15 tahun, sedangkan Eclipse Cross sudah beredar sejak 2017 dan belum mendapat penyegaran total yang cukup untuk terlihat benar-benar baru.
Di saat yang sama, para pesaing tampil jauh lebih agresif. Toyota menawarkan jajaran seperti RAV4, Corolla Cross, Highlander, Grand Highlander, 4Runner, Land Cruiser, dan berbagai pilihan hybrid, sementara Honda memiliki HR-V, CR-V, Passport, Pilot, dan Prologue.
Hyundai dan Kia juga terus menekan pasar lewat hybrid, kendaraan listrik, garansi panjang, serta desain yang agresif. Dalam lanskap seperti ini, ruang gerak Mitsubishi terasa sempit.
Fleet membantu angka, tetapi memberi tekanan lain
Ada satu penopang volume yang masih menjaga penjualan Mitsubishi tetap bergerak, yaitu pasar fleet. Laporan terbaru menyebut hampir 60% kendaraan Mitsubishi yang terjual pada kuartal pertama masuk ke perusahaan rental dan armada.
Volume seperti ini memang membantu angka penjualan. Namun, dampaknya tidak selalu positif bagi jaringan ritel karena bisa menekan profitabilitas diler, mengganggu momentum penjualan retail, dan memengaruhi nilai jual kembali dalam jangka panjang.
Sebagian diler menilai Mitsubishi terlalu bergantung pada fleet saat kekuatan retail justru melemah. Sebagian lain memilih keluar karena pilihan produk yang terbatas dan volume penjualan rendah membuat toko sulit mencetak untung.
Ada juga kasus diler di Midwest Amerika yang menutup toko Mitsubishi setelah bertahun-tahun merugi. Ia menyebut kehilangan kepercayaan terhadap arah merek, dan hal itu memperlihatkan bahwa persoalannya sudah melampaui sekadar angka jaringan.
Janji produk baru belum langsung menjawab masalah
Mitsubishi memang menyiapkan beberapa langkah untuk memperbaiki situasi. Perusahaan mengonfirmasi bahwa kendaraan listrik baterai baru berbasis Nissan Leaf generasi berikutnya akan meluncur di Amerika Utara pada paruh kedua 2026.
Selain itu, Mitsubishi juga menyiapkan Outlander yang lebih tangguh dan berorientasi off-road untuk akhir 2026. Dalam rencana menengah terbaru, ada pula proyek pickup bersama Nissan untuk Amerika Utara yang berpotensi memberi diler produk yang lebih relevan di pasar truk.
Namun, persoalan waktu tetap menjadi tantangan terbesar. Diler membutuhkan arus pelanggan baru sekarang, bukan hanya janji produk yang hadir nanti.
Identitas lama makin kabur
Di balik seluruh penyesuaian itu, tantangan paling besar Mitsubishi tampaknya ada pada identitas merek. Perusahaan yang dulu dikenal lewat mobil performa dan model off-road yang menarik kini lebih sering tampil sebagai pembuat crossover terjangkau di Amerika.
Outlander PHEV masih memberi Mitsubishi cerita teknologi yang nyata. Tetapi satu model plug-in hybrid yang kuat tidak cukup untuk memikul beban emosional sebuah merek sendirian, apalagi ketika showroom dipenuhi produk yang fungsional namun kurang menggugah.
Mitsubishi tetap membutuhkan volume, margin, SUV baru, harga kompetitif, dan produk yang benar-benar dibeli konsumen. Yang paling penting, merek ini perlu alasan yang lebih kuat agar lencana Mitsubishi kembali punya arti, baik lewat elektrifikasi, kredibilitas off-road, pickup yang berguna, maupun model performa yang bisa menghidupkan lagi koneksi dengan penggemar muda.





