Pertamina Patra Niaga menyiapkan cadangan operasi untuk menjaga pasokan energi rumah tangga di Papua Barat bila distribusi LPG terganggu. Skema yang disiapkan bukan langkah utama, melainkan jalan darurat dengan minyak tanah sebagai penyangga sementara.
Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Papua Barat, Ahmad Sofyan Halim, menegaskan mekanisme itu hanya akan dijalankan saat kelangkaan LPG benar-benar terjadi. Artinya, perusahaan tidak menempatkan minyak tanah sebagai pengganti permanen, tetapi sebagai opsi mitigasi agar kebutuhan warga tetap terpenuhi.
Perhitungan cadangan dilakukan berdasarkan realisasi konsumsi LPG sebesar 336,8 metrik ton. Dari dasar itu, Pertamina Patra Niaga menghitung kebutuhan minyak tanah dengan acuan bahwa 1 metrik ton LPG setara 1,96 kiloliter, sedangkan 1 kiloliter minyak tanah setara 0,8 metrik ton LPG.
Hasil perhitungan tersebut menunjukkan kebutuhan mitigasi sekitar 421 kiloliter untuk periode tiga bulan. Sofyan menyebut stok minyak tanah masih surplus jika skema itu benar-benar diterapkan, sehingga ruang pasokan dinilai masih aman untuk menopang kebutuhan tambahan.
Kuota triwulanan masih longgar
Jika volume mitigasi itu ikut diperhitungkan, total penyaluran diperkirakan mencapai 6.375 kiloliter. Angka tersebut masih berada di bawah kuota triwulanan yang tersedia, sehingga Pertamina Patra Niaga menilai pasokan masih punya ruang cadangan.
Untuk 2026, kuota minyak tanah di tujuh kabupaten Papua Barat tercatat 27.182 kiloliter. Jumlah itu setara sekitar 6.796 kiloliter kebutuhan per tiga bulan, dengan realisasi penyaluran 29 persen selama Januari-April 2026.
Pertamina Patra Niaga juga menyebut realisasi penyaluran kepada masyarakat selama Januari hingga April 2026 sudah mencapai 7.898 kiloliter. Kuota 2026 itu naik 2.066 kiloliter dibanding 2025 yang sebesar 25.116 kiloliter.
Wilayah dengan konsumsi terbesar jadi fokus
Skenario peralihan sementara ke minyak tanah akan dipusatkan di daerah dengan konsumsi LPG paling tinggi. Tiga wilayah yang menjadi prioritas adalah Manokwari, Fakfak, dan Teluk Bintuni.
Fokus ini dibuat agar wilayah dengan tekanan konsumsi terbesar tidak langsung terdampak bila pasokan LPG terganggu. Dengan begitu, stok minyak tanah yang tersedia dapat berfungsi sebagai bantalan sementara bagi kebutuhan energi rumah tangga.
Alokasi minyak tanah di Papua Barat tersebar dengan komposisi Manokwari 11.469 kiloliter, Fakfak 5.908 kiloliter, dan Teluk Bintuni 3.626 kiloliter. Sisanya dialokasikan ke Kaimana 2.800 kiloliter, Manokwari Selatan 1.429 kiloliter, Teluk Wondama 1.274 kiloliter, dan Pegunungan Arfak 676 kiloliter.
Langkah cadangan untuk meredam risiko pasokan
Dengan skema ini, Pertamina Patra Niaga memiliki opsi operasional untuk menjaga suplai energi rumah tangga di Papua Barat. Cadangan tersebut disiapkan sebagai antisipasi jika tekanan pasokan LPG muncul akibat kondisi geopolitik global.
Perusahaan menegaskan, meski jalan darurat sudah dihitung, harapan utamanya tetap agar kelangkaan LPG tidak terjadi di wilayah tersebut. Karena itu, minyak tanah hanya disiapkan sebagai penyangga agar masyarakat tidak mengalami kesulitan saat distribusi LPG menghadapi gangguan.
Source: www.viva.co.id