Bali mulai masuk dalam peta pertimbangan produsen mobil listrik Cina karena pola pasarnya dinilai berbeda dari wilayah lain. Di pulau ini, minat dari pembeli pribadi justru disebut lebih kuat dibanding ketergantungan pada pasar rental.
Setiawan Surya, CEO Changan Indonesia, mengatakan Bali berada di luar perkiraan perusahaan. Ia menyebut respons terhadap mobil listrik di Bali cukup positif saat berbicara di Jakarta, Senin (11/05).
Perubahan minat itu penting karena selama ini ekspansi mobil listrik Cina lebih sering diarahkan ke Jakarta dan pulau Jawa. Bali kemudian muncul sebagai pasar yang dinilai punya karakter sendiri dan tidak sekadar mengikuti pola penjualan di pusat otomotif utama.
Changan membaca kondisi tersebut sebagai ruang baru untuk memperluas jaringan diler. Perusahaan melihat kebutuhan pasar di Bali cukup spesifik, tetapi tetap terbuka untuk penjualan kendaraan listrik yang dipakai harian.
Sikap serupa juga datang dari Lepas, submerek Chery Group. Temmy Wiradjaja, Vice Country Director Lepas Indonesia, mengatakan Bali juga sedang dilihat potensinya karena dinilai cukup baik.
Dukungan dari pemerintah daerah ikut membuat peluang itu semakin menarik. Di Denpasar, Pemerintah Provinsi Bali tengah menggencarkan pengembangan ekosistem kendaraan listrik bersama sejumlah pihak, termasuk PLN.
Gubernur Bali Wayan Koster juga menindaklanjuti pembahasan awal pengembangan EV Ecosystem pada 26 Desember 2025. Langkah itu disebut menjadi salah satu pemicu bagi Changan untuk membuka diler di Bali agar bisa menjangkau lebih banyak konsumen.
Koster menegaskan bahwa penguatan ekosistem kendaraan listrik bukan gagasan baru. Program itu sempat tertunda karena pandemi Covid-19 pada 2020, tetapi kini dinilai lebih realistis untuk dijalankan.
Ia juga menyebut kondisi ekonomi masyarakat sudah membaik sehingga program kendaraan listrik bisa dilaksanakan. Kebijakan tersebut sejalan dengan visi Nanggun Sat Kerthi Loka Bali yang menekankan penjagaan kesucian dan keharmonisan alam, sekaligus kesejahteraan masyarakat.
Strategi ekspansi diler
Bali bukan satu-satunya wilayah yang masuk radar Changan. Setiawan mengatakan perusahaan menargetkan 20 diler pada 2026, dengan tiga diler di Jakarta, dua lainnya masih dalam proses, satu di Bandung, dan satu di Yogyakarta.
Rencana itu menunjukkan langkah perusahaan untuk memperkuat akses konsumen di luar pusat pasar otomotif utama. Bali kemudian dipandang layak masuk ke peta ekspansi berikutnya karena respons pasar disebut lebih baik dari dugaan awal.
Arah pengembangan pasar listrik di Bali
Pemerintah Provinsi Bali juga menyiapkan sejumlah regulasi untuk mendukung ekosistem mobil listrik. Salah satu wacana yang disebut adalah zonasi kendaraan listrik awal di Ubud, Sanur, Kuta, Nusa Dua, dan Nusa Penida.
Nusa Penida bahkan diproyeksikan menjadi Green Island, dan gagasan itu disebut sudah mendapat dukungan dari Bupati Klungkung. Jika ekosistem ini berjalan, Bali berpotensi menjadi pasar penting bukan hanya bagi penjualan mobil listrik, tetapi juga bagi model mobilitas ramah lingkungan yang lebih luas.
Bagi Changan dan Lepas, Bali kini tidak lagi hanya dipandang sebagai destinasi wisata. Pulau ini mulai terlihat sebagai pasar yang bisa menopang pertumbuhan kendaraan listrik, terutama karena minat pembeli pribadi dan arah kebijakan daerah bergerak seirama.
Source: otomotif.katadata.co.id




